
Tok tok tok.
Aileen mulai mengetuk pintu rumah paman Joko yang terlihat sangat sepi.
"Sepertinya memang gak ada orang di dalam." ucap Gara yang memang melihat tidak ada tanda tanda kehidupan di dalam rumah itu.
"Ya udah kita dobrak aja pintunya." usul Joan yang memang sedari tadi sudah kesal.
"Jangan, aku tahu kita harus lewat mana." ucap Aileen menahan mereka agar tidak mendobrak pintu rumah paman Joko.
"Kamu punya kuncinya yang?" tanya Gara.
"Tidak, tapi aku tahu biasanya paman kalau pulang rumah dalam keadaan terkunci dia masuk lewat jendela samping." jawab Aileen memberitahu gimana cara Paman Joko masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah ayo kita ke sana, biar aku yang masuk ke dalam rumah dulu baru nanti aku bukakan pintu untuk kalian." ajak Joan dan di angguki mereka.
Aileen pun berjalan paling depan menunjukkan jendela yang biasanya di buat paman Joko untuk masuk ke dalam rumah. Saat sampai di sana mereka mencoba untuk membukanya dan memang benar kalau jendela itu ternyata tidur di kunci.
"Ayo Jo cepat masuk, aku mau ikut masuk lewat jendela katanya kalau istrinya lagi hamil itu pamali." suruh Gara yang tak akan ikut masuk lewat jendela.
"Kalian tunggu di depan pintu saja, biar aku buka dari dalam." balas Joan menyuruh agar mereka menunggu di depan pintu.
Joan pun mulai masuk, dan ruangan yang pertama dia injaki adalah ruang makan, di sana terlihat ada pisau yang terdapat darah tergeletak dia atas meja makan.
Joan tak mau ambil pusing, mungkin itu bekas paman Joko potong ayam, pikir Joan.
Joan langsung berlalu menuju ruang tamu dan langsung membukakan pintu rumah untuk mereka setelah menemukan kunci rumahnya yang ada di meja samping pintu.
"Sepertinya tidak ada yang aneh." ucap Gara mengamati ruang tamu rumah paman Joko.
"Ya emang gak ada yang aneh, makanya waktu kalian bilang kalau paman Joko yang sudah mengambil uang dan berusaha mencelakai Gara aku gak percaya." balas Aileen.
Mereka berempat pun berpencar untuk mencari sesuatu yang mencurigakan, hingga ada Arumi yang teriak dari arah dapur membuat mereka semua berlari ke sana.
"Ada apa Rumi?" tanya mereka menghampiri Arumi.
__ADS_1
"I-itu." tunjuk Arumi gagap.
Mereka pun mengikuti kemana arah tangan Arumi menunjuk, dan bisa mereka lihat ada banyak darah yang sudah mengering di sana.
"Tunggu, aku tadi lihat ada pisau yang banyak bercak darahnya di meja makan." ucap Joan dan langsung berlari menuju meja makan.
Joan menggunakan pakaian yang dia kenakan untuk memegang pisau itu karena takut nanti ada sidik jari miliknya.
"Ini." Joan menunjukkan pisau yang dia ambil tadi.
"Seperti ada yang aneh, ini bekas darah apa kira kira?" ucap Gara sambil berfikir.
"Mungkin itu bekas darah ayam kali, biasanya memang paman suka menyembelih ayam buat lauk." balas Aileen yang sangat berpositif tingking kepada pamannya.
"Tidak mungkin yang, kalau ini bekas darah ayam pasti mereka langsung membersihkannya, terus juga kalau bekas darah ayam gak mungkin berceceran gini." balas Gara tak setuju dengan pendapat Aileen.
"Benar itu, aku tadi juga sempat berfikir kalau pisau ini habis buat sembelihan ayam, tapi setelah melihat darah yang ada di dapur aku tidak yakin dengan pendapatku yang awal." setuju Joan.
"Bentar deh, inikan paman Joko mengelabuhi kalian dengan mengatakan kalau bibi Lukah dalangnya, tapi setelah kalian sampai sini kalian baru tahu kalau ternyata pelakunya bukan bibi Lukah."
"Dan aku sama Aileen yang setiap hari ada di rumah Aileen tidak pernah melihat keberadaan bibi lukah di sini, jangan jangan terjadi sesuatu lagian sama bibi Lukah." lanjut Arumi mengatakan kejanggalan yang ada di otaknya.
"Ayo." balas Joan.
Mereka berempat pun kembali mengeledah rumah paman Joko, bahkan kolong kolong meja juga menjadi tempat sasaran mereka.
Tak lupa tadi Joan menggambil sarung tangan untuk mereka kenakan agar semuanya aman.
Joan mencari bersama Arumi, sedangkan Gara bersama Aileen. Joan dan Gara tidak akan membiarkan para wanita mencari sendiri karena takut terjadi apa apa dengan mereka.
"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan selain darah dan pisau tadi." ucap Joan kepada Arumi.
"Benar, tapi kalau kita tidak mencarinya kita mana tahu itu darah apa." balas Arumi.
Joan dan Arumi pun kembali mencari sesuatu yang ada di sana, sekarang tujuan mereka adalah kamar tamu. Sedangkan Aileen dan Gara, mereka sekarang berada di kamar paman Joko dan bibi Lukah.
__ADS_1
Di sana mereka mencari sesuatu yang bisa mereka simpulkan menjadi tanda bukti dari teka teki yang ada.
"Mas, ini apa." ucap Aileen mengambil sesuatu dari atas meja.
Gara pun segera menghampiri Aileen dan mengambil benda yang ada di tangan Aileen.
"Ini memory card sayang, sepertinya ini punya bibi Lukah atau paman Joko yang tertinggal di sini." jawab Gara.
"Berarti kita bisa membukanya, ayo coba kamu lihat siapa tahu nanti di sana ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mencari keberadaan bibi." suruh Aileen.
"Benar apa kata kamu yang, ayo kita keluar dari sini kita buka ini di rumah." ajak Gara.
"Ayo." balas Aileen.
Gara menarik tangan Aileen untuk keluar dari sana, tapi tanpa sengaja kaki Aileen seperti menginjak sesuatu.
"Ini aku nginjak apa mas?" tanya Aileen yang merasa kakinya seperti menginjak sesuatu yang basah.
Gara segera menyalakan lampu senter dari handphone miliknya untuk memperjelas apa yang ada di lantai.
Karena kondisi lampu kamar paman Joko dan bibi Lukah yang tidak terlalu terang, membuat penglihatan mereka sedikit terganggu untuk melihat keadaan di sekitar kamar.
"Darah." ucap Gara membuat Aileen ikutan melihat apa yang dia injak.
"Ini darah apa mas?" tanya Aileen lagi.
Aileen semakin bingung karena banyak sekali darah yang ada di rumah pamannya ini, sebenarnya apa yang sudah terjadi, pikir Aileen.
"Joan, Arumi cepat ke sini." teriak Gara memanggil Joan dan juga Arumi.
Joan dan Arumi pun segera datang kembali tempat Gara dan Aileen dan mereka langsung melihat ada darah yang ada di lantai.
"Astaga, darah apa lagi ini?" kaget Arumi.
"Tapi darah di sini masih basah, mungkin karena tidak terlalu terkena sinar matahari jadi tidak mengering. Dan jumlahnya juga lebih banyak di sini dari pada yang di dapur." ucap Joan.
__ADS_1
"Semakin tidak beras semua ini, ayo cepat kita pulang ke rumah Aileen aku ada menemukan memory card di sini." ajak Gara dan segara membawa tangan Aileen keluar dari kamar itu menuju rumah Aileen.
...***...