
Sementara itu Fatin sudah keluar dari kelasnya, dia tidak langsung pulang seperti biasanya, kali ini dia duduk di tempat menunggu jemputan, karena tadi dia ingat kalau Gara ingin menjemputnya.
"Ehh Fatin kenapa kamu tidak pulang, malah duduk di sini sendirian, biasanya juga kamu langsung pulang?" tanya salah satu teman Fatin datang dan duduk di samping Fatin.
"Aku lagi nungguin ayah Gara jemput." Jawab Fatin jujur.
"Ayah, sejak kapan kamu punya ayah, bukannya kamu tidak punya ayah ya?" tanya teman Fatin itu dengan nada yang mengejek.
"Tidak kok, sekarang Fatin sudah punya ayah." balas Fatin.
"Kamu jangan banyak halu deh, mana ada kamu punya ayah, ayah kamu kan gak mau ngajuin kamu jadi anaknya." ledek teman Fatin.
"Tidak Rafa, Fatin punya ayah, ayah Fatin mau jemput Fatin pulang sekolah." sungut Fatin yang sudah mulai terbawa emosi.
Rafa itu adalah teman satu kelas Fatin, dia sangat suka menggoda Fatin karena baginya jalan Fatin sudah marah itu sangat mengenaskan karena pasti nanti pipinya yang tembem itu akan memerah.
"Kok kamu ngegas sih, kan aku bilang apa adanya. Kamu itu emang gak punya ayah, buktinya aja sampai jam segini ayah kamu belum juga menjemput kamu kan, pasti ayah kamu pergi meninggalkan kamu lagi." balas Rafa semakin menakut nakuti Fatin.
"Rafa jahat, ayah Fatin tidak pergi, ayah cuma belum jemput Fatin aja, hiks."
Tuh kan sekarang Fatin sudah nangis, sebenarnya Fatin itu tidak termasuk dalam jajaran anak yang cengeng, tapi kalau sudah menyangkut orang tua pasti Fatin akan cengeng.
Fatin sangat ingin seperti teman temannya yang mempunyai orang tua yang lengkap dan di perhatikan oleh kedua orang tuanya.
Meskipun Aileen selalu meluangkan waktu yang banyak buat Fatin setelah dia pulang kerja, tapi itu bagi Fatin sangat kurang.
Fatin ingin saat pulang sekolah di jemput atau paling tidak di sambut saat sudah sampai di rumah, tapi itu tidak mungkin karena Fatin tahu Buna Aileen harus bekerja untuk biaya sekolah Fatin juga.
"Loh kok malah nangis, kamu kalau nangis makin jelek loh, masak udah jelek malah makin jelek sih," ucap Rafa agar Fatin tidak menangis.
"Rafa jahat sama Fatin, Fatin gak mau lagi berteman sama Rafa." balas Fatin sambil menangis.
"Kok gitu, ya udah Rafa minta maaf ya, udah jangan nangis lagi nanti kalau nangis ayahnya malah gak datang datang loh." Rafa meminta maaf dan menenangkan Fatin.
"Loh Fatin kenapa nangis sayang?" ucap Gara yang baru saja datang.
"Ayah hiks hiks...." Tangis Fatin semakin menjadi saat kedatangan Gara.
"Cup cup cup, udah ya jangan nangis kan ayah sudah datang." Gara membawa Fatin ke dalam pelukannya agar tidak menangis lagi.
"Kenapa hmm?" tanya Gara lembut sambil membelai rambut Fatin.
"Rafa jahat, Rafa bilang ayah pergi ninggalin Fatin." adu Fatin pada Gara.
Rafa yang mendengar itupun merasa ketakutan, dia takut nanti kalau ayah Fatin akan memarahinya.
"Udah ya nanti biar ayah kasih tahu Rafa agar tidak bilang seperti itu lagi." balas Gara agar Fatin tenang.
"Maaf Om tadi Rafa cuma becanda, Rafa emang sering goda Fatin tapi Rafa kira Fatin tidak akan sampai menangis seperti ini, Rafa salah Rafa minta maaf Om." ucap Rafa dengan gentle meminta maaf pada Gara.
Gara yang mendengar itupun membalas permintaan maaf Rafa dengan senyuman, dia tidak akan benar benar memarahi Rafa, karena di lihat dari raut wajah Rafa saja sudah kelihatan kalau Rafa itu sangat merasa bersalah sekali.
"Iya Om tahu kok, ayo kalian salaman dan tidak boleh saling mengejek lagi, sebagai teman bukannya kita harus saling memaafkan." ucap Gara akan mereka berdua berdamai.
"Fatin Rafa minta maaf ya, Rafa janji nanti tidak akan ganggu Fatin lagi." ucap Rafa meminta maaf pada Fatin sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Iya Fatin maafin Rafa kok, tapi Rafa janji ya jangan nakal lagi sama Fatin." balas Fatin menerima salaman dari Rafa.
"Iya Rafa janji." janji Rafa.
Ya begitulah anak anak pasti suka berantem terus tak lama kemudian mereka akan bagikan lagi, sebenarnya yang membuat masalah semakin besar di antara anak anak itu adalah campur tangan orang tua.
Kalau semua orang tua seperti Gara pasti tidak akan ada dendam di antara anak anak satu dan yang lainnya.
"Nah gitu dong, yuk kita pulang nanti keburu gerbangnya di tutup lagi." ajak Gara.
"Ayo yah." balas Fatin semangat.
"Rafa pulang sama siapa?" tanya Gara pada Rafa.
"Rafa lagi nunggu jemputan Om, tapi biasanya pak sopir jam segini sudah ada di depan, tapi sekarang sampai saat ini belum juga datang." jawab Rafa.
"Ya sudah kalau gitu bareng sama om aja, yuk Om antar pulang." ajak Gara.
"Emang gak repotin Om?"
"Tidak kok, yuk kita pulang."
Akhirnya mereka bertiga pun pulang, tadi Fatin sempat bertanya motor siapa yang Gara pakai dan Gara bilang akan menjelaskannya nanti saat sudah berada di rumah.
Gara mengantarkan Rafa ke rumahnya terlebih dahulu, baru setelah itu dia membawa Fatin pulang ke rumah Aileen.
...** ...
Aileen yang kebetulan pulang cepat dari bekerja karena pemilik toko tengah ada acara keluarga dan dia memberikan hari libur buat Aileen, jadi Aileen bisa pulang cepat seperti sekarang.
Sebelum sampai di rumah Aileen menyempatkan diri untuk pergi ke warung membeli sayuran dan lainnya untuk dia masak di rumah nanti.
Kebetulan tadi Aileen juga di berikan bonus oleh bos Aileen, jadi Aileen bisa masak enak untuk hari ini. Terlebih lagi saat dia ingat kalau sekarang sudah ada Gara juga di rumahnya, jadi dia menambah porsi masaknya menjadi lebih banyak lagi.
...**...
"Nah sampai deh." ucap Gara saat menghentikan motornya di depan rumah Aileen.
"Terimakasih ayah sudah mau jemput Fatin hari ini." ucap terimakasih Fatin.
Fatin sangat bahagia hari ini karena dia pulang pergi di antar oleh Gara, terlebih lagi saat pulang sekolah Gara menjemputnya dengan motor yang entah milik siapa itu.
"Sama sama sayang, nanti sebisa mungkin ayah akan berusaha untuk mengantar jemput Fatin setiap hari." balas Gara.
Gara membawa Fatin masuk ke dalam rumah.
"Dengan motor itu yah?" tanya Fatin.
"Iya dong." balas Gara.
"Itu motor ayah?" tanya Fatin lagi penasaran.
"Iya itu motor ayah, tadi ayah menjemputnya di tempat ayah tinggal dulu." jawab Gara setengah berbohong.
"Wah berarti nanti kalau kemana mana Fatin tidak lagi jalan kaki sama Buna ya yah?"
__ADS_1
"Iya dong, nanti ayah akan selalu mengantarkan kalian kemanapun kalian pergi." balas Gara.
"Horeee...." senang Fatin.
Gara yang melihat itu pun tersenyum, coba saja Fatin tahu kalau sebenarnya Gara malah punya mobil dan pesawat pribadi, pasti Fatin akan merasa sangat senang lagi.
"Assalamualaikum." salam Aileen yang baru sampai di rumahnya.
"Waalaikum salam." balas Gara dan Fatin.
"Buna kok tumben sudah pulang?" tanya Fatin salim kepada Aileen.
"Iya soalnya bos Buna lagi ada acara, jadi Buna boleh pulang cepat karena tokonya akan di tutup." jawab Aileen mengendong Fatin.
"Kamu tadi pulang sama siapa hmm?" tanya Aileen pada Fatin.
"Fatin pulang sama ayah, Buna tahu gak kalau ayah itu sebenarnya punya motor bagus loh." balas Fatin mengadukan pada Aileen.
"Ayah, ayah siapa?" tanya Aileen bingung.
"Iih Buna, ayah Gara itu loh," kesal Fatin sambil menunjuk Gara saat ini sudah duduk di kursi ruang tamu Aileen.
"Tapi dia bukan ayah kamu sayang." balas Aileen memberikan pengertian agar Fatin tidak memanggil Gara dengan sebutan ayah, karena Aileen takut kalau Gara akan merasa risih.
"Sudah biarkan saja, toh aku juga senang di pangil seperti itu sama Fatin." balas Gara membuat Aileen menatap Gara.
"Tapi...."
"Sudahlah, kita kita sudah menikah, dan Fatin itu anak kamu jadi otomatis dia juga anak aku." potong Gara.
"Huh, ya sudah terserah kalian saja." pasrah Aileen.
"Sana kamu mandi dan ganti baju, Buna mau masak dulu buat makan siang." suruh Aileen pada Fatin.
"Baik Buna." balas Fatin dan turun dari gendongan Aileen dan setelah itu dia langsung pergi menuju kamarnya.
"Apa benar itu motor kamu?" tanya Aileen serius setelah kepergian Fatin.
"Ya iyalah, emang kamu kira aku habis nyuri gitu?" balas Gara.
"Ya gak gitu, kok aku lihat lihat itu motor masih baru?" curiga Aileen.
"Iya emang itu baru, aku baru mengambilnya tadi." jawab Gara jujur.
"Kamu dapat uang dari mana untuk membeli motor itu?" tanya Aileen curiga.
"Aku pinjam uang sama temenku buat kerja, aku tadi juga sudah mendaftarkan diri jadi tukang ojek online." bohong Gara.
"Yakin?" tanya Aileen tak percaya.
"Iya Ai, aku mana mungkin sih bohong sama kamu."
Blush.
...***...
__ADS_1