
"Lapor tuan, ternyata selama ini tuan Gara berada di sebuah perkampungan yang jauh dari kota ini tuan." ucap anak buah pak Aris yang sudah mengetahui di mana keberadaan Gara.
"Apa yang dia lakukan di sana?"tanya pak Aris.
Agnes hanya diam mendengarkan penjelasan anak buah papanya, tapi dalam otak dia dia memikirkan cara untuk datang ke tempat dimana Gara berada.
"Tuan Gara sudah memiliki istri di sana tuan." jawab anak buah pak Aris.
"WHAT." kaget Agnes mendengar kalau sang pujaan hati ternyata sudah memiliki istri tanpa sepengetahuan dirinya.
"Sabar sayang, kita dengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi di sana." ucap pak Aris menenangkan Agnes.
"Terjadi sebuah kesalahpahaman di kampung itu dan mengakibatkan tuan Gara harus menikahi janda anak satu yang tinggal di sana. Istri tuan Gara tidak tahu siapa tuan Gara sebenarnya, yang dia tahu tuan Gara itu hanya mantan orang gila yang sudah sembuh." jelas anak buah pak Aris.
"Jadi, Gara melakukan pernikahan itu hanya terpaksa?" tanya Agnes.
"Benar nona, dan sekarang juga tuan Joan sudah menikah juga." jawab anak buah pak Aris.
"Berikan alamat Gara, aku mau susul dia ke sana." pinta Agnes.
"Kamu tenang saja Gara sayang, aku akan menyelamatkan kamu dari kehidupan yang bukan seharusnya tempat kamu, aku akan membebaskan kamu dari pernikahan itu." batin Agnes yang merencanakan untuk menyelamatkan Gara.
"Baik nona, ini alamatnya sudah saya tuliskan di berkas ini beserta nama nama orang terdekat tuan Gara yang ada di sana." anak buah pak Aris memberikan sebuah berkas yang di dalamnya berisi info info penting tentang Gara.
"Baiklah silahkan kamu keluar dari sini, nanti akan saya transfer bonus buat kamu." usir pak Aris kepada anak buahnya yang langsung keluar dari ruangan kerja pak Aris.
"Gimana hmm, sudah senang sekarang?" tanya pak Aris menarik Agnes yang tadi duduk di sampingnya menjadi duduk di pangkuannya.
"Tentu dong, terimakasih papaku sayang." balas Agnes menggalungkan tangannya di leher pak Aris.
"Tapi Gara sekarang sudah menikah tanpa sepengetahuanku," lanjut Agnes sambil cemberut.
"Kok sedih gitu sih, mana sayangnya papa yang semangat untuk mendapatkan Gara hmm?" ucap pak Aris sambil memberikan kecupan di bibir Agnes.
"Apakah papa mau membantuku lagi?" tanya Agnes.
"Apapun akan papa lakukan untuk kebahagiaan kamu." balas pak Aris.
__ADS_1
"Terimakasih papa sayang."
Cup.
Agnes mencium bibir pak Aris, pak Aris yang sudah dalam mode on pun tak menyia-nyiakan kesempatan, dia menahan tengkuk Agnes dan memperdalam ciuman mereka berdua.
Tangan pak Aris tidak bisa diam, tangannya mulai berjalan ke bagian bagian sensitif tubuh Agnes yang membuat darah Agnes mendidih.
"Agnes pengen lagi pa." ucap Agnes dengan nada yang menggoda.
"Mari kita main di kamar lagi sayang sebelum mama kamu pulang." balas pak Aris dengan senang hati membawa tubuh Agnes pergi menuju kamarnya.
Mereka berdua pun melakukan hubungan terlarang lagi, entah bagiamana jadinya kalau sampai tahu kelakuan mereka berdua seperti itu di belakangnya.
...**...
"Assalamualaikum." ucap salam Arumi saat memasuki rumahnya.
"Waalaikum salam," balas ibu Arumi yang sepertinya baru keluar dari dapur.
"Arumi." kaget ibu Maya yang melihat kedatangan anaknya.
"Ibu juga kangen banget sama kamu." balas ibu Maya membalas pelukan Arumi.
Mereka berdua berpelukan saling menyalurkan rasa rindu di antara keduanya, hingga Arumi teringat kalau dia datang tidak seorang diri, melainkan bersama suami dan anaknya.
"Oh iya Arumi lupa," Arumi melepaskan pelukan mereka berdua.
"Ayo sayang sini masuk." pangil Arumi kepada Joan dan Fatin yang masih ada di depan pintu.
"Fatin, kamu ikut ke sini juga?" sambut ibu Maya yang melihat kedatangan Fatin.
"Assalamualaikum nenek." sapa Fatin yang memang sudah akrab dengan ibu Maya.
"Waalaikum salam sayangnya nenek, gimana sekolah kamu?" balas ibu Maya.
"Sekolah Fatin baik, teman teman Fatin juga sudah baik sama Fatin, gak ada yang jahat lagi sama Fatin." jawab Fatin.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu," salam Joan menyalimi ibu Maya yang belum menyadari kehadirannya.
"Waalaikum salam, kamu nak Joan ya?" tanya ibu Maya yang memang kemaren melihat Joan melalui sambungan video call saat mereka tengah melakukan akad nikah.
"Iya Bu, saya Joan suami Arumi anak ibu." jawab Joan.
"Joan minta maaf ya Bu, karena sudah melakukan tindakan yang tidak baik terhadap anak ibu." lanjut Joan meminta maaf, bahkan Joan masih belum melepaskan tangannya dari tangan ibu Maya.
Joan mencium punggung tangan ibu Maya sambil menunduk karena merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Arumi.
"Iya nak ibu sudah memaafkan kalian, ibu hanya meminta tolong jaga anak ibu dan jangan pernah sakiti dia, karena dia sudah banyak menderita selama ini." balas ibu Maya.
"Iya Bu, Joan janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Arumi." balas Joan.
"Papa, papa kenapa menangis?" tanya Fatin yang melihat ada air mata yang keluar setelah Joan melepaskan tangannya dari tangan ibu Maya.
"Ah tidak, tadi papa hanya kelilipan saja sayang." balas Joan menghapus air matanya dan Fatin yang memang masih kecil pun percaya percaya saja dengan apa yang Joan katakan.
"Papa? Maksudnya ini gimana sih, terus Fatin juga kok bisa sama kalian?" tanya ibu Maya yang terheran heran karena Fatin memanggil Joan papa.
"Oh iya Arumi belum kasih tahu ibu kalau sebenarnya mas Joan ini duda anak satu, dan Fatin ini adalah anak mas Joan Bu." jelas Arumi menjelaskan status Joan.
"Benarkah, wah berarti sekarang Fatin jadi cucu nenek dong." senang ibu Maya saat mengetahui kalau ternyata Fatin sekarang sudah menjadi cucunya.
"Iya nenek, Fatin senang karena sekarang Fatin mempunyai keluarga yang lengkap." balas Fatin senang karena sekarang dia memiliki nenek juga.
"Sini cium dulu sama nenek."
Fatin pun mendekat dan mencium pipi ibu Maya kanan dan kira dan di sambut dengan senang hati oleh ibu Maya.
Joan yang melihat itupun semakin bahagia, dia bahagia kalau Fatin juga bahagia. Dia janji akan menjaga keluarga ini dengan baik dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti di masa lalu yang membuat kekasih hatinya pergi.
"Aduh ibu sampai lupa, ayo sini duduk kalian pasti capek kan habis perjalanan jauh." ajak ibu Maya mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Mereka pun duduk sambil berbincang-bincang untuk lebih mengenal satu sama lain lagi, dan Fatin juga terlihat sangat antusias menceritakan kepada ibu Maya tentang kegiatannya di sekolah.
Ibu Maya merasa sangat bahagia karena sekarang anak semata wayangnya sudah menemukan kebahagiaannya meskipun dengan cara yang salah.
__ADS_1
Ibu Maya berdoa semoga kebahagiaan selalu datang kepada anaknya agar tidak ada air mata lagi yang keluar dari mata anaknya ini.
...***...