
"Akun harus gimana Jo?" bingung Gara.
Otak Gara sudah tidak bisa berfikir lagi karena pusing memikirkan masalah keluarga Dan juga keadaan perusahaannya.
"Sabar tuan, kita pasti bisa menemukan caranya." balas Joan yang juga sama pusingnya dengan Gara.
Riski yang ada di sana pun tak tega melihat mereka berdua yang tengah pusing, tapi dia juga bingung harus bagiamana.
"Apakah mungkin pelakunya orang itu?" tanya Joan.
"Siapa, paman Joko?" tanya Gara dan Joan hanya membalasnya dengan menggangukkan kepalanya.
"Entahlah Jo, orang yang menjadi dalangnya saja sudah mati, bagiamana bisa kita mencari siapa penyuruhnya." balas Gara.
Ya, orang yang selama ini ingin mencelakakan Gara adalah paman Joko, dia adalah seorang CEO di sebuah perusahaan, tapi dia selama ini tidak pernah menampakkan wajahnya sehingga tidak ada yang tahu jati dirinya yang sesungguhnya.
Dan untuk pernikahan Gara dan Aileen, itu semua juga atas rencana paman Joko biar Gara tidak pulang ke kota dan tetap stay di kampung agar dia bisa bergerak dengan bebas di kota karena dia tahu kemampuan Joan masih jauh di bawah kemampuan Gara.
Entah apa maksud dari dia menyembunyikan identitas aslinya, yang pasti orang itu sangatlah licik.
"Maaf tuan, kenapa kita tidak mencoba untuk melacak dari nomor rekening penerimanya aja tuan." ucap Riski memberikan ide kepada Joan dan Gara.
"Ide yang bagus, ah gak salah aku angkat kamu menjadi penggantiku selama ini." setuju Joan dengan ide Riski.
"Ambilkan laptop ku, biar aku lacak sekarang." perintah Gara dan Riski pun langsung mengambilkan laptop milik Gara.
"Saya bantu doa semoga pelakunya cepat ketemu tuan." ucap Riski mendoakan tindakan Gara semoga membuahkan hasil.
"Aamiin." balas Gara dan Joan.
Gara di bantu Joan mulai masuk ke dalam situs perbank an, dia mulai mencari nomor rekening yang sudah mendapatkan uang dari Haikal tadi.
...**...
__ADS_1
"Jam berapa ini?" Aileen batu bangun dari tidurnya dan dia melihat keadaan di sekitarnya sangatlah gelap.
Aileen pun bangun dan mencari saklar lampu untuk menyalakannya.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama tidur." ucap Aileen yang melihat ternyata sudah jam setengah delapan malam.
Aileen keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, setelah selesai dia pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah mulai kosong.
Saat akan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Aileen baru ingat dengan kejadian tadi siang.
Kemana Gara? pikir Aileen.
Aileen pun menunda makannya dan pergi ke arah depan untuk melihat keadaan di depan rumahnya dan ternyata di sana ada Fatin dan juga Arumi yang sepertinya menunggu dirinya untuk membukakan pintu.
Ceklek.
"Buna." ucap Fatin dan langsung memeluk tubuh Aileen.
"Buna habis ngapain kok pintunya gak di buka buka, Fatin sama mama menunggu lama di sini." tanya Fatin.
"Ayo sini kita masuk, ayo mbak." ajak Aileen mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu sudah makan apa belum, kalau belum ini aku bawakan makanan buat kamu semoga kamu suka." ucap Arumi memberikan satu set rantang yang di dalamnya sudah berisi banyak makanan untuk Aileen.
"Terimakasih mbak, ini aku baru saja mau makan." balas Aileen menerima rantang itu.
"Ya sudah ayo cepat kamu makan, habis ini kamu juga harus minum obat sama vitamin kan?" perintah Arumi sekaligus mengingatkan Aileen juga untuk memakan obat beserta vitamin.
Aileen diam, ah dia baru ingat kalau sekarang sudah ada nyawa yang bersemayam di dalam perutnya.
"Leen, kamu denger aku kan?" tanya Arumi menyadarkan Aileen yang terbengong.
"Hah, iya mbak, kalau gitu Aileen pergi ke belakang dulu buat makan." pamit Aileen dan mendapatkan anggukan dari Arumi.
__ADS_1
"Mama Buna kenapa sih, kok kayak aneh gitu?" tanya Fatin yang merasa kalau tingkah Aileen sangat aneh.
"Buna lagi ada masalah, nanti kita menginap di sini ya buat menemani Buna, kasian buna sendirian di sini." balas Arumi mencoba untuk menjelaskan pelan pelan kepala Fatin kalau saat ini keadaan keluarga Aileen dan Gara tengah tidak baik baik saja.
"Terus ayah kemana?" tanya Fatin karena tidak melihat adanya Gara di sana.
"Ayah sama papa pergi karena ada urusan pekerjaan, Fatin doain ayah sama papa ya biar masalah pekerjaan mereka cepat selesai dan bisa pulang ke sini lagi." jelas Arumi.
"Iya Mama, Fatin selalu mendoakan ayah sama papa kok." balas Fatin.
"Anak mama memang baik banget, sini peluk mama."
Fatin pun langsung berhambur ke dalam pelukan Arumi, mereka berdua berpelukan seperti anak dan ibu kandung, padahal mereka hanya anak dan ibu tiri.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Aileen mendengarkan pembicaraan mereka berdua, Aileen jadi bertanya tanya ada apa dengan pekerjaan Gara sampai Gara dan Joan harus pergi bersama, padahal biasanya Joan hanya pergi sendiri. Apakah ada masalah yang serius di sana? pikir Aileen.
Tak ingin ketahuan, Aileen pun langsung pergi ke meja makan kembali dan segera memakan makanan pemberian Arumi, Aileen sebenarnya tak nafsu untuk makan, tapi demi anak yang dia kandung Aileen pun memaksakan dirinya untuk makan.
Selesai makan Aileen langsung pergi ke kamar untuk mencari handphonenya, setelah menemukannya Aileen pun langsung membuka dan ada beberapa chat yang masuk dari Gara.
Pertama Aileen mendengarkan pesan suara yang Gara berikan dan setelah itu dia langsung membaca beberapa teks pesan dari Gara.
Tak ada pesan yang Aileen balas, Aileen hanya membukanya saja dan setelah itu dia meletakkan handphonenya kembali.
"Aku gak tahu apa yang sudah terjadi sama kamu, terlepas dari rasa benci ku sama kamu aku tetap berdoa semoga masalah kamu cepat selesai." monolog Aileen menatap foto dirinya dan Gara yang ada di dinding kamar mereka.
"Entah nanti kamu akan kembali ke sini lagi atau tidak seperti apa yang kamu ucapkan, yang pasti aku akan tetap menjaga anak ini." lanjut Aileen.
Tanpa Aileen sadari air matanya kembali menetes, Aileen pun langsung menghapusnya karena tak ingin menangis lagi.
Dia harus menjadi wanita yang kuat untuk calon anaknya, dia tidak boleh lemah. Sudah cukup tadi siang dia menangis, sekarang tidak boleh lagi.
Entah Gara memang bersalah atau apa Aileen tidak peduli, dia harus menjadi wanita yang tangguh dan tidak dapat di tindas lagi. Kalaupun nanti Gara memilih meninggalkan dirinya dan memilih wanita itu Aileen harus siap, Aileen tidak boleh lemah.
__ADS_1
...***...