
"Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu menginap di sini saja dulu, besok pagi aku antar kamu pulang." ucap Joan setelah mereka selesai makan malam dan juga Arumi sudah selesai meminum obat pemberian dokter.
"Terimakasih, tapi apa tidak apa kalau aku tidur di sini, bagiamana nanti kalau orang berfikiran yang tidak tidak tentang kita." balas Arumi takut dengan pandangan orang lain terhadap mereka.
"Siapa, tetangga apartemenku pun aku tak ada yang mengenali mereka, oh atau kamu sudah memiliki pasangan?" tanya Joan.
"Belum, kebetulan rumah tanggaku berakhir beberapa waktu yang lalu." balas Arumi sedu.
"Oh maaf, aku jadi mengingatkan kamu, pasti sedih ya rumah tangga yang kita impikan hancur begitu saja."
"Tidak juga, aku bahagia karena mungkin ini yang terbaik untukku, toh selama kami menikah juga aku tidak bahagia."
"Kenapa?" entah kenapa Joan sangat penasaran dengan pernikahan Arumi yang dulu.
Bukankah orang menikah itu pasti sangat bahagia ya, seperti dirinya dulu.
"Itu aib keluargaku, tidak mungkin aku menceritakan kepada kamu." balas Arumi merahasiakan masalah kenapa dia bisa cerai dengan suaminya.
Joan yang mendengar itupun mengangguk saja, tidak mungkin dia harus memaksa Arumi untuk menceritakan masalahnya kepada dirinya yang notabennya adalah orang yang baru Arumi kenal.
"AC kamu mati ya, ini kok panas banget?" tanya Arumi yang merasa tubuhnya terasa sangat panas dan keringat juga mulai membanjiri wajahnya.
"Tidak kok, AC aku normal. Tapi iya ini sangat panas banget, apa sebentar lagi mau turun hujan ya." balas Joan yang sama merasakan panas di tubuhnya.
"Bentar ya aku ke kamar mandi dulu." lanjut Joan dan langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Tadi mereka setelah makan malam langsung pergi ke kamar Joan lagi karena obat Arumi ada di dalam kamar, dan Joan pun menjelaskan obat mana saja yang harus Arumi konsumsi.
Dan setelah minum obat mereka malah berbincang bincang di sofa yang ada di dalam kamar Joan.
"**1*, sepertinya ada yang menjebak ku." umpat Joan yang saat ini sudah berada di kamar mandi.
Joan melucuti semua pakaiannya dan langsung berendam di dalam bathtub. Joan yakin, pasti tadi ada yang dengan sengaja memasukkan obat perangsang ke dalam makanan atau minuman yang mereka berdua makan tadi.
"Gilak ini panas banget, aku mana bisa tahan." kepala Joan jadi pening karena harus menahan hasrat yang ada dalam dirinya.
Apalagi selama ini Joan sudah lama tidak berhubungan intim dengan wanita setelah kepergian Fenny, jadi rasanya sangat menyiksa di saat ada obat perangsang yang masuk ke dalam tubuhnya dan dia hanya bisa menahan diri dengan merendam tubuhnya di dalam air dingin.
Sementara itu, saat ini Arumi sudah melepaskan pakaiannya juga karena rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya. Arumi tidak tahan, dia langsung berlari ke arah kamar mandi yang di dalamnya ada Joan.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Joan kamu sudah belum, aku juga mau ke kamar mandi, tubuhku terasa sangat panas." teriak Arumi mengedor gedor pintu kamar mandi berharap Joan segera keluar dari sana.
Tok tok tok.
"Joan plis, aku gak tahan." teriak Arumi lagi karena Joan belum juga membuka pintu kamar mandi.
"Iya sebentar." balas Joan dari dalam kamar mandi.
"Fatin maafkan papa nak, papa tidak kuat menahan ini." gumam Joan dan langsung bangkit dari dalam bathtub.
Ceklek.
Glek.
Grep.
Setelah membuka pintu kamar mandi, Joan langsung menelan ludahnya kasar karena melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Karena tak kuat menahan lagi, Joan langsung memeluk tubuh Arumi.
"Ini sangat panas Joan, aku gak tahan. Tubuh kamu terasa sangat dingin, aku mohon jangan lepaskan ini." ucap Arumi yang ada dalam pelukan Joan.
Joan langsung menggendong tubuh Arumi ala bridal style dan langsung membawanya ke atas ranjang.
Joan tidak peduli meskipun punggung Arumi masih terasa sakit, yang penting sekarang hasrat mereka berdua bisa terpenuhi. Kepalang tanggung dengan resiko yang akan mereka terima nanti, yang penting sekarang nafsu mereka yang di sebabkan oleh obat perangsang itu terbayarkan.
"Euggh... aku tidak tahan Joan." lengkuh Arumi membuat Joan semakin tidak bisa menahan hasrat nya.
Joan langsung melancarkan aksinya, hingga penyatuan di antara mereka berdua pun terjadi tanpa ada ikatan di antara mereka berdua. Entah bagiamana nanti kalau mereka berdua sudah sadar, mungkin hanya ada penyesalan di antara mereka berdua.
Joan dan Arumi terlihat sangat menikmati, karena status mereka yang sama sama sudah pernah melakukannya dan sudah lama juga tidak melakukan hal itu, membuat pergulatan mereka berdua terlihat sangat erotis.
...**...
Sedangkan di tempat lain, saat ini Aileen tengah di tarik oleh Fatin untuk menaiki bianglala sesuai keinginan Fatin tadi.
"Ayo Buna kita naik," ajak Fatin memaksa Aileen untuk ikut menaiki bianglala bersama Gara.
__ADS_1
"Tidak sayang, Buna takut. Kamu naik sama ayah aja ya." tolak Aileen dengan lembut agar tidak menyakiti perasaan Fatin.
Jujur Aileen Sanga takut dengan ketinggian, biasanya dia kalau pergi ke pasar malam hanya akan membeli jajanan saja dan menaiki wahana wahana permainan yang tidak tinggi.
"Fatin maunya sama Buna juga, ayo Buna kita naik." paksa Fatin.
"Sudah sayang kasihan Buna loh, Fatin sama ayah aja ya." sela Gara yang merasa kasian kepada Aileen.
"Sama buna juga ayah." balas Fatin kekeh ingin mengajak Aileen.
Bukan tanpa alasan Fatin ingin mengajak Aileen juga, Fatin ingin merasakan apa yang teman temannya ceritakan saat di sekolah kalau mereka menaiki bianglala bersama kedua orang tua mereka, dan mumpung ini ada kesempatan Fatin juga ingin merasakannya.
Fatin memang memiliki sikap yang dewasa dan mengerti dengan keadaan keluarganya, tapi dia juga tetaplah anak anak yang ingin merasakan apa yang teman temannya rasakan.
"Tapi bunanya takut ketinggian loh, emang kamu gak kasian sama Buna hmm?" Gara mencoba untuk membujuk Fatin agar tidak memaksa Aileen lagi.
"Kalau mau sama Buna juga, kita naik wahana yang lain aja ya. Emang Fatin mau nanti bunanya kenapa kenapa karena naik bianglala?" lanjut Gara dan mendapatkan gelengan kepala dari Fatin yang menandakan kalau dia tidak ingin Aileen kenapa kenapa.
"Nah itu, kita naik berdua aja ya." rayu Gara.
"Fatin ingin seperti teman teman Fatin yang bisa naik bianglala bersama orang tua mereka, Fatin kan selama ini hanya main sama Buna aja itupun kalau Buna libur kerja, jadi saat bisa berdua juga bersama ayah Fatin kepingin seperti teman teman Fatin. Tapi Fatin juga gak mau kalau Buna kenapa kenapa." ucap Fatin menjelaskan keinginannya.
Jleb.
Hati Aileen terasa sangat sakit mendengar keinginan Fatin, Aileen kira Fatin selama ini diam saja karena baik baik saja dengan keadaan mereka. Tapi nyatanya tidak, Fatin juga iri dengan temen temennya yang memiliki keluarga yang lengkap.
"Sayang maafkan Buna yang belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu, ya sudah ayo kita naik sama sama, nanti buna bisa tutup mata kok waktu sampai di atas." ucap Aileen menuruti permintaan Fatin.
"Ai...."
"Udah ayo, aku gak papa kok, nanti bisa penjamin mata kalau udah di atas." potong Aileen sebelum Gara melanjutkan ucapannya.
"Nanti kalau Buna kenapa kenapa gimana?" takut Fatin.
"Udah ayo, Buna gak papa kok, maafkan buna ya yang tadi menolak permintaan Fatin." balas Aileen.
Aileen juga merasa bersalah, karena permintaan Fatin hanya mudah saja dan tidak nekoh nekoh, tapi dirinya malah tadi sempat menolak, padahal itu keinginan Fatin dari lama.
Akhirnya mereka bertiga pun mulai masuk je dalam keranjang bianglala dengan Fatin yang duduk sendiri di hadapan Aileen dan Gara yang duduk bersama.
__ADS_1
...***...
panjang nih 😂