
Gara semakin gemas saat melihat mata Aileen melotot, dia malah semakin bersemangat memberikan gigitan di bibir bagian bawah Aileen, hingga membuat mulut Aileen terbuka.
Hal itu di manfaatkan oleh Gara yang otaknya begitu licik, Gara memasukkan Li*** nya ke dalam mulut Aileen dan menelusuri di dalam sana.
Lama kelamaan Aileen mulai terhanyut dalam ciu*** Gara, dia malah mengalungkan tangannya ke leher Gara.
Hampir sepuluh menit mereka berciu*** hingga Aileen merasa pasokan oksigen yang ada di tubuhnya berkurang, barulah dia memukul dada Gara dan membuat Gara melepaskan ciu*** mereka berdua.
Hosh hosh hosh.
Nafas mereka berdua terengah-engah, Aileen menundukkan kepalanya karena malu menatap Gara jika mengingat kejadian yang barusan terjadi.
"Gemes banget sih."
Cup.
Dengan gerakan cepat Gara menarik dagu Aileen hingga Aileen menatap Gara dan Gara langsung mencuri ciuman dari Aileen, baru setelah itu dia langsung berlari keluar rumah sebelum mendapatkan omelan dari Aileen.
"Gara...." teriak Aileen kesal.
"Hahaha... aku tunggu kamu di depan ai, jangan lama lama." tawa Gara yang sudah keluar dari rumah.
"Huh, kalau gini terus aku juga bakalan mudah jatuh cinta sama kamu gar, mungkin sekarang juga sudah sudah mulai jatuh hati sama kamu, tapi aku tidak akan semudah itu mengakui perasaanku, aku mau lihat seberapa besar perjuangan kamu." gumam Aileen menatap ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Setelah itu Aileen pun pergi ke kamar untuk mengambil tasnya dan m nyusul Gara keluar rumah.
"Yuk." ajak Aileen naik ke boncengan motor Gara.
"Pegangan dong, biar gak jatuh." suruh Gara.
"Nih udah, ayo cepat." Aileen berpegangan pada jaket Gara.
"Iisss kok gitu sih, gini loh." Gara menarik tangan Aileen yang ada di jaketnya, dan dia melingkarkan nya di pinggangnya.
"Kalau gini kan nyaman." lanjut Gara sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sedangkan Aileen yang ada di boncengan Gara pipinya memerah, dia pun semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Gara menuruti perintah Gara. Gara yang merasakan pelukan di pinggangnya semakin erat pun semakin melebarkan senyumnya, dia pun mulai melajukan motornya pergi ke tempat kerja Aileen.
Dalam perjalanan menuju tempat kerja Aileen, mereka saling diam, hingga mata Aileen menangkap ada orang yang di kerumuni beberapa anak kecil membuat Aileen menyuruh Gara untuk menghentikan motornya.
Gara menghentikan motornya dan menoleh ke belakang dimana ada Aileen.
"Kenapa sih?" tanya Gara penasaran karena Aileen tiba tiba menyuruhnya untuk berhenti.
"Itu bukannya temen kamu ya?" tunjuk Aileen ke arah kerumunan itu.
"Hah, mana?" panik Gara.
__ADS_1
Yang ada di otak Gara itu adalah Joan, dia takut Joan kenapa kenapa karena temen Gara yang ada di daerah sini hanya Joan saja.
"Itu loh." Aileen menyuruh Gara melihat ke arah kerumunan itu.
"Mana sih, orang gak ada Joan kok?" bingung Gara saat melihat tidak ada temennya di sana.
"Siapa bilang ada Joan, ituloh temen sepengila kamu." balas Aileen.
"Hah, maksud kamu gimana?" bingung Gara.
Apa maksud sepengila yang di maksud Aileen itu?
"Ituloh, kan itu ada orang gila, kamu kan juga mantan orang gila, emang kamu gak ada niatan nolongin temen kamu." jelas Aileen.
"Heh, mana ada, aku gak gila ya." tak terima Gara karena Aileen masih mengatai dirinya gila.
"Dih, mentang mentang udah gak gila lagi temennya yang kesusahan gak di bantu, dosa kamu gar."
"Astaga kamu masih gak percaya kalau aku ini bukan orang gila dan bukan mantan orang gila?" tak habis pikir Gara.
"Mana ada sih orang gila yang ngaku." balas Aileen yang tetap kekeh dengan pikirannya kalau Gara adalah orang gila yang sudah sembuh.
"Terserah kamu lah."
__ADS_1
Gara menjalankan motornya kembali, dia tak menghiraukan Aileen yang menyuruhnya untuk berhenti membantu orang gila itu.
...*** ...