
"Ya emang kamu orang gila kan?" balas Aileen tak berdosa.
"Astaga, udah berapa kali sih aku bilang kalau aku itu bukan orang gila, aku itu orang waras." kesal Gara.
"Gak percaya tuh aku, mana coba buktinya kalau kamu memang orang waras, tanda pengenal aja kamu gak punya kan?" balas Aileen meminta bukti.
"Ya, ya tapikan gak harus orang gila juga, aku itu masih waras." Gara bingung harus bagiamana lagi menjelaskannya pada Aileen.
"Ya berarti emang benar kamu orang gila."
"Sini deh handphone kamu, aku kasih tahu siapa aku sebenarnya." Gara meminta handphone Aileen untuk dia mencari biodatanya di internet.
"Gak ada, handphone aku, aku jual kemaren lusa buat bayar biaya sekolah Fatin." balas Aileen sedu.
Aileen jadi teringat beberapa waktu lalu saat dirinya harus merelakan handphone satu satunya untuk dia jual buat biaya sekolah Fatin. Ehh malah tadi uangnya udah kepotong buat beli mie instan, ya walaupun tidak seberapa harganya, tapi itu bagi Aileen sangatlah berharga.
"Kamu gak ada uang?" tanya Gara penasaran.
"Ya ada sih, cuma itu sudah pas untuk biaya kehidupan sehari hari sama buat bayar biaya yang lainnya, jadi untuk biaya sekolah Fatin aku terpaksa harus jual handphone aku." balas Aileen.
"Maaf ya tadi aku malah merepotkan kamu, aku janji mulai besok aku akan bekerja buat kamu sama Fatin, aku janji akan menjadi suami yang baik buat kamu, meskipun kamu masih mengganggap aku orang gila." janji Gara.
"Kamu tidak perlu melakukan itu, insyaallah aku masih mampu kok cari uang untuk aku sama Fatin."
"Tidak, aku adalah suami kamu, suami yang baik harus memberikan nafkah buat istrinya." bantah Gara tak suka dengan apa yang Aileen katakan.
"Tapi...."
"Sudahlah, aku tak menerima bantahan." potong Gara.
"Oh iya, kita kan sudah menikah, lalu bagiamana dengan suami kamu?" lanjut Gara bertanya.
Pasalnya sedari tadi Gara sudah sangat penasaran dengan kehidupan Aileen, bagiamana bisa orang lain menikahkan dirinya dengan Aileen yang notabenenya sudah mempunyai anak, berarti itukan sudah jelas kalau Aileen sudah bersuami.
Apakah mungkin Aileen janda, kalau memang benar dia harus bisa menerima semua ini, mungkin memang dia harus di takdirnya menikah dengan janda. Lagian kalau di lihat lihat Aileen juga cantik, tapi sayang tak terawat, pikir Gara.
__ADS_1
"Hah, suami? Sejak kapan aku menikah, kan kamu suami aku?" kaget Aileen bingung.
"Lah, kalau kamu belum menikah bagiamana mungkin kamu sudah punya anak, atau kamu itu sudah...."
"Maaf aku tidak bermaksud." lanjut Gara merasa bersalah dengan perkataannya.
"Kamu kira aku wanita seperti itu apa, aku ini masih gadis, aku juga masih perawan." balas Aileen tak terima.
"Bagiamana bisa?" tak percaya Gara.
"Ya bisa, orang Fatin itu keponakan aku, dia anak dari almarhumah kakakku." jelas Aileen.
"Ooh gitu, syukurlah. Aku kira aku menikahi seorang janda anak satu." balas Gara lega.
"Kenapa emang kalau janda anak satu, apakah kamu tidak akan menerima itu?"
"Ya bukan begitu, meskipun kamu janda aku juga akan tetap menerima kamu kok, tapi kalau kamu emang beneran masih gadis kan itu bonus buat aku."
"Apakah kamu mau menerima Fatin?" tanya Aileen.
"Terimakasih ya kamu sudah mau menerima kami, ya meskipun kamu orang gila." ucap Aileen lagi dan lagi mengatakan kalau Gara itu orang gila.
"Astaga, sudahlah terserah kamu saja, tapi kamu harus ingat, aku akan membuktikan sama kamu kalau aku bukan orang gila." pasrah Gara.
"Aku tunggu itu." balas Aileen.
"Sudahlah aku capek mau tidur." ucap Gara beranjak dari tempat duduknya.
"Ehh kamu mau kemana?" tahan Aileen agar Gara tak pergi dari sana.
"Mau ke kamar lah, emang kalau tidur itu di kamar mandi." balas Gara polos.
"Enak aja, kamu tidur di sini, itu kamar aku jadi hanya aku yang boleh pakai, lagian kita juga bukan mah...."
"Stop, kita sudah menikah jadi kita halal tidur satu ranjang." potong Gara dan langsung pergi menuju kamar Aileen tanpa memperdulikan Aileen yang menahan dirinya agar tidak pergi ke dalam kamar.
__ADS_1
"Gara stop, aku gak mau tidur sama kamu." ucap Aileen menahan tubuh Gara tapi Gara tak mengindahkannya.
"Gara aku bilang berhenti." ucap Aileen lagi.
"Apa sih Ai, aku capek mau tidur, ini sudah malam jangan berisik." balas Gara malas.
Sedangkan Aileen terdiam membisu mendengar panggilan Gara kepadanya.
Ai, bukannya itu sangat manis, meskipun itu memang namanya tapi kebanyakan orang orang di luar sana memanggil dirinya dengan lengkap, tidak seperti Gara yang hanya di ambil awalannya saja.
Momen itupun Gara manfaatkan untuk naik ke atas ranjang dan tidur di sana agar Aileen nanti tak bisa lagi memaksanya untuk tidur di luar.
"Udah gak usah bengong nanti kesambet loh, sini tidur udah malam." ucap Gara menyadarkan Aileen.
"Hah, ehh kamu ngapain tidur di sana, minggir gak itu tempat tidur aku." ucap Aileen menarik tangan Gara agar bangun dari tidurnya.
Aileen baru sadar, ternyata dia sudah lama terbengong sampai sampai Gara sudah tiduran di atas ranjang miliknya.
"Coba saja kalau bisa." tantang Gara saat Aileen menarik tangannya agar bangun.
"Ahh...." teriakkan Aileen yang membuat telinga Gara terasa sangat panas.
Aileen terjatuh di atas tubuh Gara, karena tadi Gara malah menariknya tangan Aileen sehingga membuat Aileen yang belum siap pun terjatuh menimpa tubuh Gara.
Posisi saat ini sangatlah intim, Gara yang ada di bawah dan Aileen yang ada di atas tubuh Gara. Mereka berdua saling menatap satu sama lain selama beberapa saat, hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan kontak mata tersebut.
"Sudah kamu tidur saja, aku kira saat kamu bilang kamu akan menerima aku itu kamu mengizinkan aku untuk tidur di sini bersama kamu, tapi ternyata bukan." ucap Gara membantu Aileen bangun dan setelah itu dia juga bangun dari tidurnya.
"Selamat malam, tidur yang nyenyak ya, maaf barusan sudah membuat kamu kesal." lanjut Gara dan pergi dari kamar Aileen.
Aileen yang mendengar ucapan Gara barusan pun merasa bersalah, tapi dia emang belum siap kalau harus tidur satu ranjang bersama Gara.
Aileen memang menerima Gara sebagai suaminya, tapi dia butuh waktu kalau untuk tidur satu ranjang berdua.
Dengan perasaan yang di penuhi dengan rasa bersalah, Aileen pun mutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia akan menidurkan tubuhnya, mungkin besok dia akan meminta maaf pada Gara.
__ADS_1
...***...