
Glek.
Lagi dan lagi Joan harus menelan ludahnya kasar dan mengontrol dirinya agar bisa menahan hasrat nya.
Bagaimana tidak, lihatlah sekarang Arumi hanya mengenakan kemeja miliknya yang kebesaran dan berjalan menghampiri dirinya. Kalau Joan yang melihat terlihat Arumi seperti tengah menggoda dirinya, tapi nyatanya tidak.
"Maaf aku tadi bingung harus pakai baju apa, jadi aku pinjam kemeja kamu, tidak apa kan?" ucap Arumi duduk di samping Joan.
"Ah iya tidak apa." balas Joan dan berusaha untuk bersikap biasa aja.
"Habis ini aku mau pulang dulu dan setelah itu aku mau langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan punggungku. Terimakasih karena kemaren sudah menolongku, dan maaf untuk kejadian yang semalam." ucap Arumi.
"Kamu gak usah pikirkan aku bagiamana nanti, karena semalam juga kesalahanku sendiri, jadi aku tidak menyalahkan kamu kok." lanjut Arumi membuat Joan menatap Arumi tajam.
"Kamu mau pergi begitu saja setelah apa yang terjadi kepada kita?" selidik Joan dan mendapatkan anggukan saja dari Arumi.
Joan tak habis pikir dengan otak Arumi, kenapa wanita ini malah tidak meminta pertanggungjawaban darinya, padahal kemaren Joan sudah melakukan tindakan seksual kepadanya.
"Apakah kamu tidak meminta aku untuk bertanggung jawab?" tanya Joan lagi.
"Tidak, ini bukan salah kamu saja, aku di sini juga salah. Jadi mari kita lupakan kejadian semalam dan untuk kedepannya kita pura pura tidak mengenal satu sama lain aja." jawab Arumi yang membuat Joan semakin tak habis pikir dengan otak Arumi.
"Bagaimana nanti kalau sampai kamu hamil?" tanya Joan.
"Itu tidak akan mungkin, karena aku mandul." jawab Arumi tanpa sadar dan dia langsung menutup mulutnya karena sudah mengatakan rahasia yang dia tutupi dari orang orang.
Joan terdiam, dia jadi merasa bersalah, mungkin ini alasan kenapa suami Arumi menceraikan Arumi, pikir Joan.
Tapi tetap saja Joan harus bertanggung jawab, terlepas hamil atau tidak hamil Joan akan tetap bertanggung jawab karena Joan sudah melakukan hal yang tidak baik kepada Arumi.
"Karena kamu sudah tahu, jadi aku tidak perlu menutupinya lagi. Kamu tidak perlu bertanggung jawab karena aku seorang wanita yang mandul, dan kalau kamu menikah denganku nanti kamu akan menanggung malu karena aku tidak bisa memberikan keturunan buat kamu."
__ADS_1
"Dan permisi aku pergi dulu, terimakasih sudah menolongku." lanjut Arumi bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menuju pintu apartemen Joan.
"Tunggu, aku antar kamu pulang." tahan Joan dan berdiri menghampiri Arumi.
"Tidak perlu, aku bisa pulang naik taksi kok " tolak Arumi karena tak ingin merepotkan Joan lagi.
"Dengan keadaan kamu yang seperti ini?" tanya Joan melihat penampilan Arumi dari atas hingga bawah yang terlihat sangat sexy karena hanya memakai kemeja miliknya saja.
Ah iya, Arumi baru sadar kalau dia saat ini memakai pakaian yang tidak layak untuk di gunakan.
"Ayo aku antar kamu, dan aku juga akan tetap bertanggung jawab. Aku tidak peduli dengan masa lalumu dan juga kekuranganmu, karena aku juga tidak sempurna."
"Jadi kamu mau kan kalau aku bertanggung jawab menikahi dirimu?" lanjut Joan serius.
Arumi terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Arumi takut nanti kalau dia menikah dengan Joan kejadian di masa lalu akan terulang kembali, di mana dia yang tidak bisa memberikan keturunan dan akhirnya dia akan di tinggalkan oleh orang yang dia sayang.
"Mau ya?" tanya Joan lagi.
"Kenapa, kenapa kamu menolak aku untuk bertanggung jawab?" tanya Joan penasaran.
"Aku tidak pantas buat kamu, kamu lelaki yang sempurna, kamu pantas mendapatkan seseorang yang bisa memberikan keturunan buat kamu, tidak seperti aku yang mandul." jelas Arumi mengungkapkan ketakutannya.
" Tidak, aku tidak memikirkan itu, soal keturunan aku sudah memilikinya, aku serius mau bertanggung jawab sama kamu, dan semoga saja kamu jodoh aku hingga tua nanti." balas Joan.
"Maksud kamu, kamu sudah mempunyai istri?" tanya Arumi karena Joan bilang dia sudah memiliki keturunan.
"Ya, aku sudah mempunyai istri, tapi istri aku sudah pergi ke surga dan aku juga memiliki seorang anak." jujur Joan.
"Jadi kamu mau ya, plis aku mohon." lanjut Joan memohon.
Joan tidak ingin membuat kesalahan lagi, mungkin ini memang sudah takdirnya untuk mendapatkan pasangan kembali. Dia memang sampai saat ini masih belum bisa melupakan Fenny, tapi hidup ini berjalan, dia juga harus bisa memikirkan masa depannya dan juga masa depan Fatin yang membutuhkan seorang ibu. Dan semoga saja Arumi bisa menjadi sosoknya ibu yang baik untuk Fatin.
__ADS_1
"Apakah nanti anak kamu bisa menerima aku?" tanya Arumi, dia takut nanti kalau anak Joan membenci dirinya karena sudah menggeser posisi ibunya.
"Kalau dia tidak bisa menerima kamu, maka itu akan menjadi urusanku untuk meyakinkan dirinya. Dan kamu apakah bisa menjadi sosok ibu untuknya?" balik tanya Joan.
Arumi mengangguk, jujur dia sangat menyukai anak kecil, apalagi anak kecilnya yang seperti Fatin. Ah jadinya teringat Fatin kan, nanti kalau ada waktu Arumi akan menghubungi Aileen dan dia akan berbicara kepada Fatin mengungkapkan rasa kangennya dengan Fatin.
"Oke fix, berati kamu sudah menerima aku, soal masalah perasaan nanti seiring berjalannya waktu mungkin rasa cinta itu akan hadir dengan sendirinya. Kamu tunggu di sini dulu aku mau ambil kunci mobil." setelah memutuskan itu Joan langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan berganti pakaian.
"Apakah ini yang di namakan melamar seseorang, kok kayak ngajak orang beli jajan." Arumi jadi tertawa geli mengingat cara Joan mengajaknya menikah barusan.
Tidak ada kata romantis, yang ada hanya paksaan. Tapi aku menerimanya, mungkin memang ini jalan hidupnya dan dia berdoa semoga di pernikahan keduanya ini dia bisa mendapatkan kebahagiaan.
"Udah yuk." ajak Joan menarik tangan Arumi keluar dari apartemen miliknya.
"Kok kamu rapi banget, kan cuma nganterin aku pulang?" heran Arumi yang melihat Joan malah memakai pakaian formal.
"Kuta ke KUA sekarang, aku mau nikahin kamu." jawab Joan membuat langkah Arumi terhenti.
"Jangan bercanda deh."
"Aku serius sayang, aku mau nikahin kamu hari ini juga." balas Joan dengan panggilan sayangnya membuat pipi Arumi memerah.
"Udah gak usah malu gitu, ayo cepat kita pergi kamu juga harus ganti baju dulu, masakan iya mau nikah cuma pakai kemeja aja, ya kalau nanti malam di kamar sama aku gak papa." lanjut Joan menarik tangan Arumi lagi agar melanjutkan jalannya yang sempat terhenti.
"Dasar mesum." Arumi jadi malu sendiri mendengar ucapan Joan.
"Aku hanya mesum sama kamu aja." jujur Joan.
Mereka pun langsung pergi dari apartemen Joan ke rumah Arumi untuk berganti baju sambil mengambil berkas berkas penting, dan setelah itu Joan langsung mengajak Arumi pergi ke KUA.
mudah banget ya jalan hidup mereka.
__ADS_1
...***...