Kekasihku CEO Gila

Kekasihku CEO Gila
KCG#14


__ADS_3

"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya pekerja yang ada di sana.


"Pak?" Gara menatap tak percaya pada wanita yang bertanya kepadanya tadi.


"Iya, apakah ada yang salah?" balas pekerja wanita itu.


"Udah udah, ini mbak keponakan saya mau jual jam tangan miliknya, katanya sih jam tangannya itu langka." lerai paman Joko yang sudah tidak sabar ingin melihat harga berapa jam tangan milik Gara itu.


"Baik pak, boleh saya lihat dulu kondisi jam tangannya?" pinta pekerja itu.


Gara pun langsung memberikan jam tangan miliknya yang hendak dia jual.


"Sebenarnya sih tidak akan saya jual jam tangan ini, tapi saya mau mendaftarnya di acara lelang nanti." ucap Gara menjelaskan tujuannya ke situ.


"Baik pak, tapi meskipun anda mau ikut acara lelang, kami juga harus memeriksa keadaan barangnya, apakah barang anda masuk ke kriteria lelang apa tidak." jelas pekerja itu.


"Ya udah silahkan di lihat." balas Gara mempersilahkan.


Pekerja itu memanggil temannya untuk membantu dirinya mengecek jam tangan milik Gara, setelah melewati beberapa proses akhirnya pekerja wanita tadi kembali menghampiri Gara.


"Gimana, saya udah bisa langsung ikut lelang kan?" tanya Gara.


"Mohon maaf pak jam tangan ini tidak bisa ikut lelang, karena memang harganya tidak sampai di persyaratan yang ada." balas pekerja itu mengembalikan jam tangan Gara.


"Hah, yang benar saja, ini jam tangan asli loh." Gara bingung, kenapa tidak sampai harganya, padahal persyaratan harga yang bisa ikut lelang palingan cuma beberapa juta saja.


"Maaf pak, jam tangan ini yang asli di negara ini cuma ada satu, dan itu pemiliknya adalah pengusaha ternama. Jadi jam tangan ini sudah jelas kalau KW." jelas pekerja itu.


"Ya emang ini jam cuma satu di sini, orang aku yang punya." grutu Gara dalam hati.


"Emang di sini gak ada alat buat mengecek keaslian barang apa?" tanya Gara.


"Untuk sementara di tempat ini belum ada pak, karena kami masih membelinya." jawab pekerja itu.


"Pantas aja."


"Ya udah kalau gitu saya jual aja ini, tapi nanti bakal saya beli lagi, mungkin satu atau dua hari saya bakal ke sini." lanjut Gara.


"Maaf pak tidak bisa, kalau memang anda berniat menjual jam tangan itu ke sini anda sudah tidak bisa membelinya lagi, karena nanti barang yang kami beli akan langsung di bawa ke tempat lain."


"Gar udah deh, ayo kita pergi. Paman udah malu di sini." bisik paman Joko yang merasa malu karena banyak orang yang memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Tidak paman, ini jam tangan asli, mereka aja yang bodoh." balas Gara.


Ucapan Gara itu semakin membuat orang orang fokus memperhatikan mereka berdua.


"Gar ayo lah, emang kamu gak malu apa di perhatikan banyak orang seperti ini."


"Kenapa harus malu kalau aku gak salah."


"Ya iya sih, tapi kan emang jam tangan kamu itu gak bisa ikut lelang. Mending kamu jual aja deh biar masalahnya kelar." suruh Paman Joko.


Mereka semua yang ada di sana tidak ada yang mengenali Gara, termasuk para pekerja itu. Karena Gara jarang menunjukkan wajahnya di muka umum.


Foto foto yang ada di internet pun beda dengan keadaan Gara yang sekarang, kalau foto yang ada di internet Gara terlihat sangat tegas dan berwibawa karena memakai pakaian formal.


Sedangkan Gara yang sekarang hanya memakai kaos yang bukan brand ternama dan juga celana pendek dengan sendal jepit merk skyw*y jadi mana ada yang mengira kalau itu Gara.


"Emang ini kalau saya jual laku berapa?" tanya Gara pada pekerja itu.


"kisaran dua ratus ribu pak." jawab pekerja itu membuat mata Gara melotot.


"Gila kali ya, jam tangan saya beli dengan harga 1M malah kalian hargai segitu." Gara menatap pekerja itu dengan tatapan tidak percaya.


"Yang harga 1M itu jam tangan yang asli pak, kalau yang punya bapak itu KW." satu seseorang yang baru datang di belakang Gara.


Gara melihat penampilan orang yang ada di belakangnya itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


"Bukannya barang yang anda pakai sendiri itu yang KW." balas Gara meledek balik orang itu.


"Sembarangan anda kalau ngomong, semua barang yang aku pakai ini asli, bukan KW seperti punyamu." marah orang itu tak terima.


Gara yang sangat tahu mana barang yang asli dan yang bukan pun hanya tersenyum saja, dia malas kalau harus berdebat dengan kaum rendahan tapi gayanya selangit seperti orang yang ada di hadapannya ini.


"Kenapa diam, asal kamu tahu ya, aku ini adalah pemilik perusahaan terbesar di kota ini, jadi kamu jangan berani beraninya berbuat masalah sama saya atau kamu akan tahu akibatnya." ucap orang itu lagi dengan sombongnya.


"Trus, apakah anda kira saya akan takut gitu." balas Gara mengejek.


"Kamu...." Orang itu menunjuk Gara.


"Udah Gar ayo kita pergi dari sini, paman ikhlas kok kalau uang paman tidak kamu kebalikan. Ayo kita pergi, orang orang sudah pada melihat kita." bisik paman Joko mengajak Gara untuk pergi.


"Tidak paman, jangan menganggap Gara akan terima dengan perlakuan mereka semua yang ada di sini, Gara akan buktikan kepada mereka semua kalau Gara bukanlah orang yang sembarangan." balas Gara.

__ADS_1


"Aduh Gar, udah deh ayo kita pergi, paman gak mau kita semakin di permalukan di sini." kekeh paman Joko mengajak Gara untuk pergi.


"Apakah paman punya handphone?" tanya Gara.


"Ada, ayo kita pergi nanti paman pinjamkan handphone paman kepada kamu." balas paman Joko agar Gara mau di ajak pergi.


Paman Joko semakin yakin kalau Gara memang orang gila, jadi dia harus bisa cepat cepat membawa Gara pergi dari sini agar dia tidak berbuat hal hal yang nantinya lebih bikin mereka di permalukan di sana.


"Mana handphone paman, Gara mau pinjam buat menghubungi seseorang. Paman gak perlu khawatir kalau pulsanya abis, nanti akan Gara ganti lima kali lipat." ucap Gara meminta handphone paman Joko.


"Udah Gar ayo pergi, paman janji nanti pasti bakal paman pinjamkan handphone paman sampai kamu puas, bahkan tanpa kamu ganti pulsa sama kuotanya juga tidak apa apa, yang penting kita pergi dari sini." balas paman Joko.


"Ah paman kelamaan, sini handphonenya." paksa Gara membuka tas yang ada di dada paman Joko.


"Hei, kamu jangan seperti itu sama paman kamu sendiri, sadarlah kalau emang kalian itu bukan orang punya jadi jangan banyak Gara." tegur salah satu orang yang tidak tega melihat paman Joko.


"Dasar, ngakunya aja jam tangannya asli dan mahal, padahal handphone aja gak punya." ledek orang yang tadi berdebat dengan Gara.


"Bisakah kalian diam, saya akan buktikan siapa saya yang sebenarnya. Bahkan tempat ini aja saya mampu membelinya saat ini juga." tegas Gara menatap mereka semua satu persatu.


"Maaf paman, Gara tidak suka di perlakukan seperti ini karena ini semua menyangkut harga diri Gara." ucap Gara setelah mengambil handphone paman Joko.


"Dasar orang gila, sekuriti mana sih? Apakah mereka tidak bisa bekerja, bagiamana bisa orang gila di biarkan masuk begitu saja." ucap orang itu lagi.


Gara tak menghiraukan mereka semua, sedangkan paman Joko sudah ketar ketir saat melihat pekerja yang tadi sudah mulai menghubungi sekuriti untuk mengusir mereka.


"Gara plis paman mohon ayo kita pergi, kamu kalau gilanya mau kumat jangan di sini." ucap paman Joko memaksa Gara agar mau ikut bersamanya pergi dari sana.


"Diam paman, Gara akan membuktikan kepada mereka semua siapa sebenarnya Gara." bantah Gara.


Orang orang yang ada di sana pun semakin mencibir Gara, mereka sangat kasian kepada paman Joko.


"Ini si Joan mana sih, lama amat angkatnya." grutu Gara karena asistennya tidak menggangkat telfonnya.


"Mari pak ikut saya pergi, kalian sudah mengganggu ketenangan para pengunjung di sini." ucap sekuriti berusaha membujuk Gara dengan baik agar Gara mau keluar dari sana.


"Bentar bentar, tunggu dulu." tahan Gara.


'Halo Jo, ini aku Gara.' ucap Gara saat panggilan sudah tersambung.


'Astaga ini beneran anda tuan, tuan ada di mana saya sudah mencari anda kemana mana tapi belum bisa menemukan anda.' balas Joan heboh.

__ADS_1


...***...


__ADS_2