
Pagi harinya, entah kenapa hari ini Gara sangat semangat memulai harinya, apa mungkin karena semalam dia bisa tidur sambil memeluk Aileen? Ah sepertinya begitu.
Gara bangun jam 4 pagi, tapi dia tidak langsung beranjak bangun dari tidurnya, dia malah anteng tiduran di samping Aileen sambil memandangi wajah Aileen yang damai dalam tidurnya.
"Kamu cantik banget sih ai, mana mungkin aku rela melepaskan dirimu." ucap Gara terus menatap wajah cantik Aileen.
Cup.
Karena saking gemasnya, Gara sampai mencium bibir Aileen lagi. Bibir Aileen sekarang sudah menjadi candu baginya.
Setelah puas menatap wajah cantik Aileen, Gara pun beranjak bangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan mengambil wudhu.
Setelah itu dia tidak langsung membangunkan Aileen, karena setahu Gara Aileen mulai dari kemaren malam lagi datang bulan, jadi Gara lebih memilih untuk membangunkan Fatin untuk mengajaknya sholat subuh berjamaah.
"Fatin bangun yuk, kita sholat subuh bareng." ucap Gara membangunkan Fatin yang masih anteng dengan tidurnya.
"Jam berapa yah?" tanya Fatin.
"Sudah jam setengah lima, ayo cepat bangun ambil wudhu dulu baru kita sholat berjamaah." suruh Gara.
Fatin pun dengan patuh langsung bangun dan berjalan dengan sempoyongan karena memang masih ngantuk menuju kamar mandi.
Selesai mengambil wudhu, Fatin dan Gara pun langsung menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di dalam rumah.
"Kamu siap siap sekolah ya, ayah mau masak dulu." suruh Gara selesai mereka sholat.
"Ayah gak bangunin Buna?" tanya Fatin.
"Biarkan Buna istirahat, Buna sudah capek kerja jadi sekarang biar Buna istirahat saja." jawab Gara dengan lembut sambil mengelus rambut Fatin.
"Sudah gih sana mandi, ayah mau masak dulu." lanjut Gara menyuruh Fatin agar segera mandi dan bersiap untuk pergi sekolah.
Fatin pun menurut, dia langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan setelah itu dia pergi lagi ke kamar mandi untuk mandi.
"Untung aja kemaren aku beli sayur agak banyak." ucap Gara mengeluarkan sayuran dari dalam lemari es.
Pagi ini Gara ingin membuat sayur sup dan membuat sambal terasi sama menggoreng tempe, ingat Gara tidak boleh membuat masakan yang mewah nanti Aileen bisa curiga.
__ADS_1
Dengan cekatan tangan Gara berperang dengan peralatan dapur, dan setelah hampir satu jam akhirnya semua masakan yang Gara buat pun selesai.
Gara tidak langsung pergi ke kamar untuk membangunkan Aileen, tapi dia lebih memilih pergi ke kamar Fatin untuk melihat keadaan Fatin sudah siap apa belum.
"Sayang kamu sudah siap belum?" tanya Gara membuka kamar Fatin.
"Sudah yah, tinggal kuncirin rambut Fatin aja." jawab Fatin yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Sini biar ayah yang ikat rambut kamu." pinta Gara dan berjalan menghampiri Fatin.
Tangan Gara sangat lihai mengikat rambut Fatin menjadi dua bagian, Gara juga menyisakan beberapa helai rambut di samping kedua pipi Fatin.
"Dah selesai, Fatin cantik banget sih, ayah jadi gemas deh lihatnya." gemas Gara sambil tangannya mencubit hidung Fatin.
"Iih ayah, sakit tau." cemberut Fatin.
"Hahaha... maaf sayang ayah sengaja." tawa Gara.
"Ya sudah yuk, kamu tunggu di meja makan dulu ya biar ayah bangunin Buna dulu." ucap Gara agar Fatin menunggu dirinya yang hendak membangunkan Aileen di meja makan.
Gara yang gemas pun mengelus kepala Fatin lagi dan setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk membangunkan Aileen.
"Ai sayang, bangun yuk." ucap Gara membangunkan Aileen.
Cup.
"Gemes banget sih liat kamu tidur." Gara mencium bibir Aileen lagi tanpa sepengetahuan Aileen.
"Ai sayang, ayo bangun ini udah siang, Fatin udah nungguin kita di meja makan." Gara mencolek colek pipi Aileen yang tembem karena saking gemesnya.
Sedangkan Aileen yang tidurnya merasa terganggu pun perlahan membuka matanya. Pandangan pertama yang Aileen lihat adalah wajah tampan Gara.
"Ehh," kaget Aileen dan langsung duduk.
"Kenapa, lupa? Bukannya semalam kita sudah tidur sambil berpelukan?" ucap Gara yang menyadari kalau Aileen kaget dengan keberadaannya yang ada di samping Aileen tidur.
Aileen diam, dia baru ingat kalau semalam mereka sudah melakukan ciu*** yang lumayan panas. Mengingat hal itu pipi Aileen bersemi merah, Aileen malu kalau harus mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
"Ayo cepat mandi, aku tunggu kamu di luar sama Fatin." suruh Gara dan dia mulai beranjak menuju pintu kamar.
Mungkin Aileen memang belum terbiasa dengan keberadaannya, jadi Gara akan terus membuat Aileen agar bisa menerima dirinya sebagai suami yang sesungguhnya, pikir Gara.
Grep.
Gara menghentikan langkahnya saat tiba tiba ada yang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Maaf, aku tadi lupa." ucap Aileen yang memeluk Gara dari belakang.
Gara tersenyum, dia memegang tangan Aileen yang melingkar di perutnya. Gara melepaskan tangan Aileen dan membalikkan tubuhnya menatap Aileen.
Karena postur tubuh Gara yang lebih tinggi dari pada Aileen, membuat Gara harus menundukkan kepalanya karena tinggi Aileen hanya sedadanya saja.
"Aku ngerti kok, kamu tiba tiba peluk aku seperti ini aja aku udah senang." ucap Gara sambil tangannya mengelus rambut Aileen yang berantakan karena baru bangun tidur.
"Mandi gih, habis'itu kita antar Aileen ke sekolahnya terus aku antar kami izin gak masuk kerja." lanjut Gara menyuruh Aileen agar segera mandi, karena hari semakin sidang, Gara takut nanti kalau Fatin harus terlambat masuk sekolahnya.
"Kamu baik banget sih, padahal aku selalu cuek sama kamu." bukannya langsung pergi mandi, Aileen malah mengajak Gara ngobrol.
"Karena aku suami kamu, aku akan menunggu sampai nanti kita berdua sama sama ada rasa satu sama lain. Aku gak yakin aku sudah jatuh cinta sama kamu apa belum, tapi yang pasti aku tidak rela kalau kamu pergi meninggalkan aku." balas Gara dengan lembut dan tangan yang tak pernah bosan mengelus rambut Aileen.
"Terimakasih," setelah mengatakan itu Aileen langsung memeluk tubuh Gara dengan erat.
Gara yang melihat respon Aileen pun kaget, dia sampai terbengong karena Aileen yang tiba tiba memeluk dirinya. Tapi lama kelamaan dia sadar, Gara pun langsung membalas pelukan Aileen sambil mencium wangi rambut Aileen yang sangat menenangkan.
"Ya udah Fatin biar berangkat sekolah sendiri aja, kita di kamar aja pelukan kayak gini." bisik Gara membuat Aileen langsung melepaskan pelukannya.
Tapi tidak semua itu Aileen bisa melewati Gara, Gara langsung menahan tubuh Aileen sehingga mereka tetap berpelukan erat.
"Bentar, aku masih nyaman dengan posisi ini." bisik Gara membuat Aileen merinding.
"Rambut kamu harum banget sih, aku jadi candu." bisik Gara lagi di telinga Aileen.
Aileen yang mendengar itupun merasa merinding, dia mencoba melepaskan pelukan Gara, tapi itu sangat susah, akhirnya dia memilih diam saja menikmati pelukan Gara.
...***...
__ADS_1