
Gara mulai memanjat pohon mangga itu, awal mula dia agak kesusahan tapi lama kelamaan ternyata memanjat pohon tidak sesusah apa yang dia pikirkan, Gara mulai lancar hingga akhir dia bisa sampai di atas.
Aileen yang melihat itupun tersenyum, bukan karena kagum dengan kepintaran Gara memanjat, tapi dia senang karena akhirnya dia akan bisa membuat rujak manis dengan mangga milik pak Anas yang sangat dia inginkan.
"Sayang aku sudah sampai atas, kamu mau mangganya berapa?" teriak Gara bertanya kepada Aileen saat dia sudah sampai di atas.
"Ambil yang banyak, pokoknya kamu pilih yang paling besar besar." jawab Aileen berteriak juga.
Mendengar perintah istrinya, Gara pun mulai memilih mangga yang menurutnya paling besar dan memasukkannya ke dalam kantong kresek yang dia bawa.
"Itu tuh besar." teriak Aileen memberitahu Gara agar mengambil mangga yang dia tunjuk.
Gara pun langsung mengambil mangga yang Aileen tunjuk, meskipun awalnya agak kesusahan tapi dia tetap mengambilnya demi sang istri tercinta.
"Sayang udah banyak ini," kasih tahu Gara sambil memperlihatkan kantong kresek yang sudah penuh.
"Ya sudah ayo cepat turun, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi nya." balas Aileen menyuruh Gara untuk turun.
"Turun?" cengoh Gara dan melihat batang pohon mangga yang dia naiki.
"Iya ayo cepat turun bawa mangganya ke sini." balas Aileen menyuruh Gara agar segera turun.
"Ini kenapa tinggi banget, terus cara turunnya gimana?" tanya Gara yang mulai panik karena dia tidak tahu bagiamana caranya untuk turun dari atas pohon mangga.
"Lah, kamu gimana sih, tadi kan naiknya kamu bisa, masak sekarang turunnya gak bisa sih?" tanya Aileen tak habis pikir dengan Gara.
Ada ada saja tingkah Gara yang buat Aileen pusing, tadi kan naiknya mudah, masak tinggal turun aja di gak bisa sih.
"Sayang bantuin aku, aku gak bisa turun." mohon Gara yang saat ini malah merangkul sebuah batang pohon mangga yang ada didalam hadapannya karena ketakutan gak bisa turun.
"Aku mana bisa, kan aku juga takut ketinggian." balas Aileen ikutan bingung karena dia juga sebenarnya gak bisa manjat.
"Lah tadi katanya kan kamu yang mau manjat, ayo sayang tolongin aku, aku gak bisa turun." rengek Gara seperti anak kecil.
"Tadi aku hanya bohong saja biar kamu mau naik ke atas pohon." balas Aileen.
__ADS_1
"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus bantuin aku turun dari sini." rengek Gara.
"Aduh kamu ini bikin pusing aja, tadi kalau gak bisa manjat ya bilang aja biar aku minta tolong orang lain, kalau sudah begini bagaimana kamu turunnya." omel Aileen.
"Sekarang bukan waktunya ngomel-ngomel sayang, cepat kamu cari bantuan buat aku turun dari sini." suruh Gara yang tak mau berdebat dalam kondisi dia kesulitan seperti ini.
"Ya udah siniin buah mangganya, nanti biar aku cari bantuan." suruh Aileen agar Gara menurunkan buah mangganya terlebih dahulu baru nanti Aileen akan mencari bantuan buat Gara.
"Gak, nanti kamu yang ada malah tinggalin aku sendiri di sini." tolak Gara yang tak ingin memberikan buah mangga itu duluan sebelum dia bisa turun dari sana.
"Siniin Gara biar aku carikan bantuan buat kamu." paksa Aileen.
"Gak mau Aileen sayang, aku tahu kamu nanti mau tinggalin aku sendiri di sini kan?" tolak Gara lagi.
"Gak bakal Gara, aku gak bakal tinggalin kamu di sini." paksa Aileen lagi.
"Gak mau, pokoknya cepat kamu cari bantuan dulu, atau kamu mau aku kembalikan buah mangga ini lagi ke pohonnya." ancam Gara.
Aileen yang mendengar itupun panik, tidak, dia menginginkan buah mangga muda itu, jangan sampai Gara mengembalikannya lagi. Oke kali ini Aileen akan mencarikan bantuan dulu buat Gara, baru nanti setelah itu dia akan mengambil buah mangga itu dari tangan Gara.
"Oke aku cari bantuan dulu, tapi jangan kembalikan buah mangga nya." ngalah Aileen.
"Ya udah ayo cepat, ini keburu banyak semut yang mau makan aku." suruh Gara.
Aileen diam, meminta tolong? Dia harus meminta tolong sama siapa coba, masak iya dia harus memanggil warga untuk membantu menurunkan Gara dari atas pohon, emang mereka bisa, kan Gara bukan anak kecil yang bisa di gendong, bingung Aileen.
"Kenapa malah bengong sayang, ayo cepat cari bantuan." ucap Gara karena Aileen malah diam saja tak bergerak dari tempatnya.
"Aku harus minta tolong sama siapa?" Tanya Aileen kepada Gara.
"Ya siapa gitu, telfon pemadam kebakaran kek atau siapa gitu yang tugasnya bantuin orang." balas Gara.
"Nah iya itu, aku telfon pemadam kebakaran aja, ehh tapi aku gak bawa handphone." bingung Aileen lagi.
"Nih pakai handphone aku, cepat sana telfon." Gara melemparkan handphone miliknya dan langsung di tangkap oleh tangan Aileen.
__ADS_1
Kenapa susah susah, kan bisa Gara sendiri yang telfon langsung?
Aileen pun langsung menelfon pemadam kebakaran dan menyuruh mereka agar cepat datang ke sini, karena ini kondisinya sangat urgent.
Setelah itu Aileen pun hanya diam di bawah menunggu mobil pemadam kebakaran dan Gara juga tetap setia memeluk batang pohon yang ada di hadapannya dengan anteng.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya ada suara sirine mobil pemadam kebakaran yang mendekat ke arah mereka. Para warga di sekitar sana yang mendengar itupun heboh karena mereka berfikir ada kebakaran di kampung mereka.
"Kebakaran kebakaran kebakaran." teriak para warga berlari mengikuti mobil pemadam kebakaran itu.
"Hah mana kebakaran mana kebakaran?" heboh Aileen yang mendengar teriakkan para warga.
Aileen langsung berlari mencari sumber teriakan para warga hingga dia melupakan Gara yang masih ada di atas pohon.
"Sayang jangan tinggalin aku, aku takut sendirian di sini." teriak Gara yang melihat Aileen pergi tapi Aileen sudah tidak mendengar teriakkan Gara karena dia sudah jauh.
"Aduh, gimana ini turunnya aku," bingung Gara melihat ke arah bawah yang ternyata sangat tinggi.
"Huuwaaaa ini tinggi banget, aku takut."
"Tolong, tolong." teriak Gara meminta tolong, mengabaikan rasa malunya nanti kalau ada orang yang melihatnya.
"Kok seperti ada yang meminta tolong ya?" tanya pak Anas yang berada di dalam rumahnya.
Pak Anas pun keluar dari dalam rumah untuk melihat siapa yang tengah meminta tolong.
"Tolong tolong, tolong aku." teriak Gara meminta pertolongan.
"Ada suaranya tapi kok gak ada orangnya ya?" bingung pak Anas celingukan mencari siapa yang tengah meminta pertolongan tapi dia tidak dapat menemukan orang itu.
"Jangan jangan...."
...***...
Somplak kabeh wes😂
__ADS_1