
Sementara itu, di rumah Aileen, dia sudah selesai membersihkan tubuhnya. Tadi mereka bangun jam sepuluh pagi, dan bertepatan dengan itu Fatin juga bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa tadi gak bangunin aku sih, kan aku jadi gak masuk kerja." omel Aileen karena Gara tidak membangunkan dirinya.
Padahal dia harus pergi kerja meskipun di hari Minggu seperti ini.
"Aku udah bangunin kamu ya, kamu bilang kamu masih ngantuk jadi ya udah aku biarin aja terus ikut tidur lagi deh sama kamu." balas Gara santai.
"Ya kan bisa kamu paksa aku buat bangun."
"Enggak ah, aku biarin aja kamu juga capek kan habis aku gempur semalaman." balas Gara frontal.
"Mas, kamu kalau ngomong itu di saring dulu bisakan, untung aja gak ada Fatin." tegur Aileen.
Gara diam, apakah tadi dia salah dengar Aileen memanggil dirinya mas, ah kenapa itu sangat merdu sekali kedengarannya.
"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Aileen karena Gara hanya diam saja.
"Coba kamu ulangi lagi sayang, kamu tadi manggil aku gimana?" pinta Gara.
"Mas, emang kenapa sih?"
Grep.
"Makasih sayang, aku cinta banget sama kamu." senangnya Gara karena akhirnya Aileen memberikan panggilan yang sangat indah kepadanya.
"Maaf ya mas, kemaren kemaren aku belum bisa berfikir dengan baik, hingga membuat kamu harus menunggu selama ini. Terimakasih sudah tahan dengan sikap aku yang selama ini tidak baik sama kamu."
Aileen membalas pelukan Gara Deng erat, meresapi bau harum tubuh Gara yang sangat menenangkan.
"Satu tahun, dua tahun atau bahkan sampai satu abad pun aku akan menunggu kamu sayang, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu." ungkap Gara dengan serius mengungkapkan perasaannya.
"I love you." lanjut Gara.
"I love you too." balas Aileen mendongakkan kepalanya dan tersenyum menatap wajah Gara yang ada di atasnya.
"Aah sayang jantung aku rasanya mau meledak deh, terimakasih karena sudah membalas perasaanku. Aku janji akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu." senang Gara.
"Iya mas, Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu. Aku minta sama kamu kalau aku ada salah kasih tahu aku ya, jangan marahin aku." balas Aileen.
__ADS_1
"Iya sayang, sama aku juga kalau ada salah kamu kasih tahu aku, jangan pernah meninggalkan aku." balas Gara yang memang sudah terbiasa dengan keberadaan Aileen.
"Iya mas."
Cup.
Gara memberikan kecupan di bibir Aileen, pertama memang hanya kecupan tapi lama kelamaan Gara mulai memberikan ******* lembut di bibir Aileen.
Aileen pun menikmati ciuman yang Gara berikan, perlahan dia memejamkan matanya untuk menikmati ciuman itu dan....
"Buna, ayah." pangil Fatin membuat mereka berdua kaget dan langsung melepaskan ciuman mereka berdua.
"Fa-fatin." gagap Aileen mengelap bibirnya yang masih tersisa bekas ciuman mereka berdua.
Sedangkan Gara dia tidak mau bertanggung jawab, dia langsung menyelonong pergi masuk ke dalam kamarnya.
"Buna sama ayah tadi ngapain?" tanya Fatin penasaran.
"Tidak kok sayang, kamu hanya salah lihat saja. Tadi Buna hanya mengambil ada sesuatu yang menyangkut di gigi ayah." bohong Aileen.
"Ooh begitu, emang kalau mengambilnya harus pakai bibir juga ya Buna?"
Dahlah Aileen tak tahu lagi harus menjawabnya seperti apa, sepertinya tadi Fatin sudah terlalu jauh melihatnya.
"Emmm... Fatin kok sudah di sini, emang Fatin gak jadi main?" tanya Aileen mengalihkan pembicaraan mereka agar Fatin tidak bertanya lagi.
"Ah iya Fatin ingat, Fatin mau tanya papa Joan kapan pulangnya, soalnya Fatin mau ngajak papa jalan jalan, kan semalam Fatin sudah jalan jalan sama ayah sama Buna, jadi nanti Fatin mau jalan jalan sama papa." jelas Fatin.
"Buna kurang tahu sayang, nanti biar Buna tanyain ke ayah dulu ya biar ayah telfon papa Joan." balas Aileen.
"Iya Buna, kalau gitu Fatin mau pergi main lagi." Fatin pun langsung kembali keluar rumah untuk menemui temannya yang sudah menunggu dirinya.
Tadi saat main, teman teman Fatin cerita katanya kalau malam hari jalan jalan di taman itu menyenangkan dan banyak lampu yang warna warni di sana, jadi Fatin ingin ke sana juga mengajak papa Joan.
"Huh, syukurlah." lega Aileen karena Fatin sudah pergi dan tidak bertanya yang aneh aneh lagi.
"Ini semua karena mas Gara." Aileen langsung pergi untuk mencari keberadaan suaminya yang sangat mesum itu.
...**...
__ADS_1
"Gimana keadaannya dok, apakah ada yang parah?" tanya Joan setelah dokter memeriksa bagian dalam punggung Arumi.
"Dari foto Rontgen yang kami ambil, tidak ada luka yang parah di punggung nona Arumi, hanya luka memar di luar saja." jelas dokter itu membuat Arumi dan Joan bernafas lega.
"Ini saya beri salep, nanti setiap delapan jam sekali harus di oleskan biar memarnya cepat hilang." ucap dokter itu memberikan salep kepada Arumi.
"Baik dok terimakasih." mereka berdua pun pergi dari rumah sakit dengan tangan yang bergandengan.
"Habis ini kita kemana?" tanya Joan kepada Arumi yang sudah sah menjadi istrinya.
Ya, akad nikah mereka berdua sudah terjadi tadi di rumah Arumi. Mereka tidak jadi menikah di KUA karena hari Minggu KUA libur, dan Arumi juga sudah memberikan kabar kepada ibunya, orang tua satu satunya yang ada di kampung dan ibu Arumi hanya bisa memberikan restu dan melihat melalui video call saja acara akad nikah mereka berdua.
Mungkin besok Joan berencana untuk datang ke kampung halaman Arumi, dan dia juga berencana untuk memperkenalkan Arumi kepada anaknya dan juga Gara.
"Kita pulang saja, aku cepek pengen istirahat." ajak Arumi.
"Ya sudah, kita pulang ke apartemen aku aja." putus Joan.
"Kok apartemen kamu sih, aku mau pulang ke rumah dulu kan di apartemen kamu belum ada pakaian aku, nanti gimana aku ganti bajunya." protes Arumi.
"Kata siapa, aku sudah membelikan beberapa pakaian untuk kamu kok." balas Joan membuat Arumi kaget.
"Kamu jangan aneh aneh deh, pakaian aku di rumah masih banyak, ngapain beli pakaian lagi."
"Ya gak papa, biarin aja yang ada di rumah kamu biar nanti kalau kita datang kamu gak perlu repot-repot bawa pakaian," balas Joan santai.
"Tapi itu sayang banget loh,"
"Udah, lagian cuma pakaian gitu doang gak bakal bikin aku melarat." sombong Joan.
"Ya tetap saja, kan mending uangnya di tabung buat kebutuhan yang lain."
Arumi tak tahu saja kalau uang Joan itu sangat banyak, bahkan kalau untuk biaya hidup tujuh turunan juga gak bakalan habis karena saking banyaknya.
"Udah sayangku, kamu gak perlu mikirin uang, itu jadi urusanku." balas Joan membuat Arumi mencabik kesal.
Mereka pun akhirnya pulang ke apartemen Joan dengan otak Arumi yang menerka nerka siapa sebenarnya Joan ini, dan sekaya apa dia.
...***...
__ADS_1