Kekasihku CEO Gila

Kekasihku CEO Gila
KCG#12


__ADS_3

"Loh, kamu udah bangun?" tanya Aileen saat melihat Gara datang menghampiri mereka berdua setelah dia mandi.


"Hmm, ini baju siapa?" balas Gara dan bertanya perihal baju yang sudah ada di depan kamar mandi.


"Oh itu kaos aku dulu beli kegedean, syukurlah kalau pas di badan kamu." jawab Aileen.


"Ayo makan, ini ada nasi goreng sama telur ceplok." lanjut Aileen menyuruh Gara untuk bergabung makan bersama mereka berdua.


"Bun nanti aku sekolahnya di antar sama Om Gara ya, kan Buna bentar lagi harus berangkat kerja." ucap Fatin yang sedari tadi diam fokus memakan nasi goreng.


"Emang Om Gara nya mau?" balas Aileen.


"Mau kok, iya kan Om?" balas Fatin dan di balas anggukan oleh Gara.


"Tuh kan Om Gara mau." lanjut Fatin.


"Ya sudah, nanti kamu jangan nakal ya kalau sekolah."


"Iya Buna."


"Gak ngerepotin kamu kan?" tanya Aileen pada Gara karena dia takut merepotkan Gara.


"Enggak kok, aku malah senang bisa bantu kamu." balas Gara.


Setelah itu mereka makan nasi goreng buatan Aileen, jujur kalau soal rasa ini adalah nasi goreng terenak yang pernah Gara makan.


Tapi kalau soal toping, nasi goreng ini sangat jauh dari apa yang biasanya Gara makan. Biasanya Gara makan nasi goreng dengan toping yang sangat lengkap, ada sosis, daging, telur dan juga ada sayur sayuran yang lain.


Ingin rasanya Gara memuji masakan Aileen, tapi dia gengsi untuk mengatakannya.


"Buna Fatin pamit dulu ya, nanti Buna yang semangat kerjanya biar dapat uang yang banyak." ucap Fatin sebelum dia berangkat sekolah bersama Gara.


"Iya sayang, doain Buna ya biar rezeki Buna lancar." balas Aileen.


"Iya Buna."


"Ayo Om kita berangkat." ajak Fatin pada Gara.


"Iya ayo, ehh bentar Om ambil sesuatu dulu di kamar mandi." Gara langsung berlari menuju kamar mandi saat dia mengingat jam tangan yang akan dia jual.


"Om Gara mau ambil apa Bun?" tanya Fatin pada Aileen.


"Entah, Buna juga tidak tahu." balas Aileen mengidihkan bahunya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Gara kembali dan langsung mengajak Fatin untuk segera berangkat ke sekolah.


"Yuk kita berangkat." ajak Gara.


"Assalamualaikum Buna, Fatin pamit dulu." pamit Fatin lagi.


"Waalaikum salam, kalian hati hati." balas Aileen.


"Aku pergi dulu ya, hati hati nanti kalau kerja." ucap Gara dan langsung menggandeng tangan Fatin keluar dari rumah.


Aileen memandang mereka berdua, setelah tidak terlihat lagi, Aileen pun langsung pergi bersiap untuk kerja.


...**...


"Dimana sekolahan kamu?" tanya Gara pada Fatin yang berjalan di sampingnya.


"Itu Om sudah kelihatan kok." jawab Fatin menunjuk ke arah depan di mana terlihat ada banyak anak anak yang mulai masuk ke dalam gerbang.


"Nanti pulangnya jam berapa biar Om jemput Fatin." tanya Gara.


" Jam sebelas Aileen baru keluar dari kelas Om." jawab Fatin.


"Om Fatin boleh minta sesuatu gak?" ucap Fatin menatap Gara serius.


"Mau minta apa hmm, nanti kalau Om sudah ada uang pasti Om kasih apapun yang Fatin minta." balas Gara berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Fatin.


"Fatin tidak minta aneh aneh kok om, Fatin cuma mau minta izin aja." balas Fatin.


"Izin apa hmm?"


"Boleh gak kalau Fatin panggil Om ayah, soalnya Fatin pengen punya ayah sama seperti yang lain, tapi Buna bilang kalau ayah Fatin gak ada." sedu Fatin.


Fatin menundukkan kepalanya tidak berani menatap Gara, dia takut kalau nanti Gara akan marah kepadanya.


Gara memegang dagu Fatin agar Fatin melihat ke arahnya.


"Dengerin Om ya, Fatin boleh kok pangil Om ini ayah, Om malah senang. Sebenarnya Om emang mau seperti itu dari kemaren, tapi Om takut nanti malah Fatin gak suka sama om." balas Gara.


"Enggak kok om, Fatin suka sama Om, jadi mulai sekarang Fatin boleh panggil Om ayah kan?"


"Iya sayang boleh, sini peluk." pinta Gara merentangkan kedua tangannya agar Fatin masuk ke dalam pelukannya.


"Makasih ayah, Fatin sayang sama ayah seperti Fatin sayang sama Buna. Fatin juga sayang sama mama yang sudah ada di surga. " ucap Fatin menangis haru dalam pelukan Gara.

__ADS_1


"Ssttt... udah gak boleh nangis, masak anak cantik ayah nangis sih, emang gak malu nanti sama teman temannya kalau mata Fatin sembab hmm." ucap Gara agar Fatin tenang.


"Iya ayah, Fatin gak nangis lagi kok." Fatin melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang ada di pipinya.


""Nah gitu dong, Fatin doain ayah ya nanti biar ayah bisa dapat uang dan bisa beliin Fatin mainan." ucap Gara.


"Iya ayah, Fatin pasti selalu mendoakan kalian kok." balas Fatin.


Cup.


"Yuk pergi ke sekolahnya, nanti keburu bel." ajak Gara setelah memberikan kecupan di kening Fatin.


"Ayo ayah." balas Fatin senang.


Karena saking gemasnya, Gara sampai membawa Fatin ke dalam gendongannya, hingga membuat Fatin tertawa senang.


"Hahaha... ayah Fatin kaget." tawa Fatin.


"Gemes banget sih kamu." balas Gara mencubit satu pipi Fatin menggunakan satu tangannya yang menganggur.


Gara terus menggoda Fatin sampai akhirnya dia menggantarkan Fatin sampai di depan kelasnya.


Banyak orang yang memperhatikan mereka berdua, mereka bertanya tanya, siapakah laki laki yang bersama Fatin itu, apakah itu ayah Fatin, tapi bukannya Fatin itu tidak mempunyai ayah ya? pikir mereka yang melihat Fatin dan Gara.


Setelah memastikan Fatin masuk ke dalam kelas, Gara pun keluar dari sekolahan Fatin. Kali ini Gara akan langsung pergi ke kota, entah bagaimana caranya nanti, yang pasti dia harus bisa sampai di kota untuk menjual jam tangan miliknya.


Tidak mungkin juga Gara menjual jam tangan itu di sana karena nanti pasti harganya akan sangat murah.


Gara berfikir mungkin nanti langkah awalnya setelah mendapatkan uang dia akan langsung membeli handphone baru dan langsung menghubungi asistennya untuk mengatakan di mana keberadaannya.


"Ini gimana coba supaya aku bisa sampai ke kota, mana gak ada uang sama sekali lagi." gumam Gara.


Gara menggerutuki kebodohannya, kenapa tadi dia tidak meminjam uang kepada Aileen untuk pergi le kota, kalau kayak gini kan jadi dia tidak bingung sendiri.


Tadi saat mengantarkan Fatin sekolah, Gara dan Fatin berjalan kaki karena memang jarak dari rumah Aileen ke sekolah Fatin tidak terlalu jauh, hanya di tempuh lima menit dengan berjalan kaki saja sudah sampai di sekolah Aileen.


Tin tin tin.


Saat Gara tengah asik melamun memikirkan cara agar bisa pergi ke kota, tiba tiba saja ada orang yang membunyikan klakson di depannya.


"Paman."


...***...

__ADS_1


__ADS_2