
Ceklek.
"Buna...." Fatin langsung menyerobot masuk ke dalam rumah.
"Sayang kamu bawa apa?" tanya Aileen mengikuti Fatin masuk ke dalam rumah.
"Ada apa sih kenapa ada rame rame?" tanya Gara menghampiri mereka.
"Ternyata sudah datang." ucap Gara saat melihat ada Joan di sana.
"Siapa Gar?" tanya Aileen menatap orang yang ada di tengah pintu masuk rumahnya.
"Ini kenalin temen aku namanya Joan, dia yang suka bantuin aku." ucap Gara memperkenalkan Joan.
"Halo salam kenal aku Joan as... ehh temennya Gara." hampir saja Joan keceplosan.
"Oh iya, aku Aileen...."
"Istriku." potong Gara.
Aileen yang mendengar itupun langsung menatap tajam Gara, dan Gara pun membalas tatapan Aileen tapi dengan tatapan yang lembut.
"Apakah aku tidak di persilahkan masuk?" ucap Joan membuyarkan tatapan mereka berdua.
"Ah iya, ayo mari silahkan masuk. Maaf ya rumahnya kecil." Aileen mempersilahkan Joan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Joan pun masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Om makasih ya, Fatin suka sama hadian hadiannya." ucap Fatin yang sudah membuka kantong belanjaan yang dia bawa sendiri tadi.
Isi kantong belanjaan yang Fatin bawa tadi itu ada beberapa pakaian buat Fatin dan ada mainan juga.
"Iya Fatin sama sama." balas Joan sambil tersenyum.
Gara yang melihat Fatin suka dengan barang barang yang dia belikan pun senang, Gara tahu pasti Fatin belum pernah mempunyai mainan yang seperti itu dan pakaian yang seperti itu juga.
"Kamu yang ngasih itu semua?" tanya Aileen di balas anggukan oleh Joan.
"Kenapa repot repot segala sih, itu pasti harganya mahal mahal." lanjut Aileen tidak enak.
"Enggak kok itu tidak seberapa. Oh iya ini juga ada buat Gara sama kamu." balas Joan memberikan kantong belanjaan yang dia bawa sendiri tadi.
"Kenapa repot repot sih, ini banyak banget loh." tak enak Aileen.
"Enggak kok, di mobil juga masih ada, soalnya tadi aku susah bawanya." balas Joan.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak perlu membawa ini semua,"
"Sudahlah, Joan ini emang baik orangnya, dia juga yang sudah meminjamkan aku uang buat beli motor." sela Gara agar Aileen tak sungkan menerima itu semua.
"Beneran itu kamu, terimakasih banyak ya, kamu orangnya baik banget, aku doain semoga rezeki kamu semakin lancar dan berkah ya." ucap terimakasih Aileen pada Joan.
"I-iya sama sama." balas Joan sambil menatap Gara tidak enak.
"Mana barang yang kamu bawa lagi, ayo aku bantuin ambil." ucap Gara mengajak Joan untuk keluar mengambil barang yang masih tertinggal di mobil Joan.
"Ah iya ayo." balas Joan dan bangkit mengikuti Gara keluar dari rumah.
"Buna ini cantik banget ya bajunya." ucap Fatin sambil menunjukkan gaun princess yang berwarna pink.
"Iya sayang itu cantik, nanti jangan lupa bilang terimakasih ya sama Om Joan." balas Aileen.
Aileen selalu membiasakan Fatin sedari kecil agar bilang terimakasih kalau menerima sesuatu dari orang lain, dan Fatin yang memang anaknya yang penurut pun selalu melakukan perintah Aileen.
"Iya Buna." balas Fatin.
Fatin kembali sibuk dengan barang barang pemberian Joan yang sebenarnya itu adalah pemberian Gara.
Sedangkan Aileen pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk Joan dan juga Gara.
Sementara itu di luar rumah, Gara dan Joan masuk ke dalam mobil milik Joan.
"Saya juga tidak tahu tuan, tadi niat saya mau bertanya di mana rumah nyonya Aileen, ehh malah ternyata anak yang mau aku tanyain itu ternyata nona Fatin anak nyonya Aileen." jelas Joan.
"Sudahlah gak usah formal begitu, pangil kita seperti tadi saat di dalam saja." balas Gara yang memang tidak terlalu suka dengan panggilan formal Joan.
"Tapi tuan...."
"Kamu boleh menggunakan kata formal saat kita berada dalam kantor saja." potong Gara.
"Kamu tahukah kalau aku tidak suka di bantah." lanjut Gara.
"Baik tuan, ehh Gara." balas Joan yang masih belum terbiasa.
"Ya sudah ayo kita masuk lagi, takutnya nanti Aileen curiga." ajak Gara keluar dari dalam mobil dan tak lupa dia mengambil barang barang yang ada di jok belakang mobil Joan.
"Iya Gar." balas Joan dan mengikuti apa yang Gara lakukan.
...**...
Hari sudah sore dan Joan pun sudah pulang dari rumah Aileen, sepanjang perjalanan Joan selalu memikirkan wajah Fatin yang sangat mirip dengan seseorang yang ada di masa lalunya.
__ADS_1
Seseorang yang sampai sekarang ini belum bisa di temukan keberangkatannya, seseorang yang selalu hadir dalam mimpi Joan.
"Kenapa wajah Fatin sangat mirip dengan Fenny, bahkan sembilan puluh persen wajah itu sangat mirip dengan Fenny." ucap Joan sambil menyetir mobil.
"Apakah ini semua hanya kebetulan saja, ataukah ini pertanda kalau aku sebentar lagi akan bisa menemukan keberadaan Fenny?" lanjut Joan.
"Semoga saja begitu, kamu di mana sih Fen, aku lelah dari dulu selalu mencoba mencari keberadaanmu tapi selalu gak bisa."
Keasikan memikirkan masa lalunya, membuat Joan tidak menyadari kalau di depan ada pengendara motor yang menyebrang di depannya.
Tin tin tin.
Citttt....
"AAGRRR."
"S1al, hampir aja aku nabrak orang." umpat Joan memukul setir mobil.
"Woy kalau bawa mobil itu hati hati, kalau baru bisa bawa mobil jangan ugal ugalan di jalan." teriak pengendara yang lewat di samping mobil Joan.
"Iya pak saya minta maaf, tadi saya kurang fokus." balas Joan ramah dan merasa bersalah.
"Makanya kalau bawa mobil jangan melamun." balasnya dan setelah itu dia langsung pergi.
Beruntungnya keadaan jalanan tidak terlalu rame, jadi aman tidak ada korban.
Joan pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat tinggal dia selama ada di kota itu, Joan sampai di sana Joan mengganti mobilnya dengan mobil miliknya yang sesungguhnya dan setelah itu dia melanjutkan perjalanannya pulang menuju kota tepat di mana ada perusahaan Gara berdiri di sana.
...**...
Makan malam kali ini Gara merasa sangat bahagia, karena ada seseorang yang rela memasakkan dirinya dan yang pasti orang itu juga melayani dirinya juga.
"Kamu mau lauk apa?" tanya Aileen setelah mengambilkan nasi buat Gara.
"Semuanya aku mau." balas Gara.
Aileen pun mengambilnya semua lauk pauk yang dia masak tadi, dan setelahnya dia meletakkan makanan itu di depan Gara.
"Terimakasih." ucap Gara.
Aileen hanya membalasnya dengan anggukan saja. Meskipun Aileen memang belum terlalu bisa menerima Gara, tapi dia berusaha untuk melayani Gara dengan baik seperti layaknya istri yang sesungguhnya.
Setelah mengambilkan Gara, Aileen berganti mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri. Sedangkan Fatin sudah anteng dengan makanan miliknya yang sudah Aileen ambilkan tadi sebelum mengambilkan makanan untuk Gara.
Mereka makan malam dengan tenang hingga makanan mereka habis tak tersisa di piring mereka masing masing.
__ADS_1
...***...