
Gara dan Joan sudah sampai di bandara tepat di mana kota Aileen tinggal, Gara dan Joan segera pergi menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Jo coba kau hubungi istrimu, ada di mana dia." perintah Gara kepada Joan.
"Baik tuan." balas Joan dan langsung mencoba untuk menghubungi Arumi tapi tidak bisa panggilan selalu di luar jangkauan.
"Gak bisa tuan." ucap Joan membuat Gara semakin panik begitu juga dengan Joan.
Perasaan Gara gak enak, entah akan terjadi apa yang pasti hati Gara saat ini tengah tid tenang.
"Pak bisa di percepat gak?" tanya Gara menyuruh agar laju mobilnya lebih di percepat.
"Maaf tuan ini jalannya padat, jadi akan bahaya kalau kita kebut kebutan." balas pak sopir membuat Gara gelisah.
"Ya Allah lindungilah istri dan anak hamba ya Allah, tolong jaga mereka hamba mohon." batin Gara berdoa.
Joan mencoba terus untuk menghubungi istrinya untuk menanyakan keberadaan mereka tapi selalu tidak bisa, dan hal itu juga membuat Joan panik.
"Kau punya nomor ibu Maya gak Jo?" tanya Gara yang teringat dengan mertua Joan.
"Tidak tuan, di kampung sana saya hanya mempunyai nomor istri saya aja." jawab Joan jujur.
Dasar menantu laknat, masak nomor mertuanya aja gak punya sih.
"Aku takut Jo, aku takut kalau kita terlambat datang ke sana." takut Gara.
"Sama tuan saya juga takut, dari tadi perasaan saya sudah gak enak." balas Joan yang sama sama memiliki firasat yang tidak enak.
"Kita harus terus berdoa jo semoga mereka baik baik saja di sana."
"Iya tuan."
Setelah itu mereka berdua saling diam di dalam mobil, tapi tidak dengan hati mereka yang terus melafalkan doa doa berharap agar di berikan pertolongan dan untuk Aileen dan yang lainnya.
__ADS_1
Sementara itu di tempat Aileen, dia sudah mengambil bulpoin siap membubuhkan tanda tangan di atas materai yang sudah terpasang dia atas kertas putih yang tadi membuatnya menangis.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga ini menjadi awal yang baik untuk keluargaku." doa Aileen dan mulai mengoleskan tinta hitam di atas meterai yang ada di surat itu.
Gara dan Joan sampai di depan rumah Aileen, Gara langsung berlari masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak di kunci, dia bisa melihat Aileen yang berdiri membelakangi dirinya dengan membawa sebuah kertas.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau telah mengabulkan doa hamba." lega Gara karena melihat istrinya baik baik saja.
Gara yang kangen banget karena sudah lama tidak bertemu dengan Aileen pun berjalan pelan menghampiri Aileen untuk memberikan kejutan.
"Semoga kamu nanti bahagia dengan keluarga kamu Gar, aku ikhlas melepaskan kamu dan aku juga akan menjaga anak kita dengan baik." ucap Aileen yang dapat Gara dengar dengan jelas.
"Apa maksud kamu?" tanya Gara lantang membuat Aileen kaget dan menjatuhkan surat itu.
"Ga-gara." gagap Aileen kaget melihat keberadaan Gara di belakangnya.
Melihat ada yang aneh dengan kertas itu, Gara segera mengambilnya dan langsung membaca isi dari surat itu.
"Apa apaan ini, kamu mau menceraikan aku Hah?" marah Gara dan langsung merobek surat cerai itu menjadi beberapa bagian dan membuangnya ke lantai.
Mendengar tuduhan dari Gara, Aileen pun tidak terima karena yang mengirimkan itu semua adalah Gara, tapi malah Aileen yang menjadi korban yang di salahkan.
"Apa maksud kamu, kamu yang mengirimkan itu semua ke sini sama foto foto kemesraan kamu sama wanita mu yang tengah hamil anak mu di kota, dan bisa bisanya kamu datang dan menuduh aku yang menggugat cerai kamu. Pikir gar pikir." balas Aileen tak terima dengan apa yang Gara tuduhkan kepadanya.
"Maksud kamu apa, kamu menuduh aku yang melakukan ini, dan kamu juga menuduh aku selingkuh?" balas Gara yang malah tersulut emosi karena mendengar tuduhan Aileen yang sama sekali tidak Gara lakukan.
Aileen tertawa hambar, dia mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.
"Aku sudah menuruti perintah kamu untuk menandatangani surat cerai itu, dan kamu malah merobeknya dan menuduh aku yang menceraikan kamu, jadi ini permainan kamu." ucap Aileen menatap Gara penuh kekecewaan.
"Apa maksud kamu, aku gak ada menceraikan kamu dan gak ada menyuruh kamu untuk menandatangani surat cerai itu." bentak Gara dengan suara yang lantang.
Aileen berbalik dan menggambil sesuatu yang ada di atas meja dan langsung melemparkannya ke wajah Gara.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Gara mengganggap Aileen tidak sopan kepadanya.
"Gak usah sok gak tahu kamu." balas Aileen.
Gara pun langsung membuka amplop itu dan matanya melotot melihat apa yang ada di dalamnya. Foto dirinya yang tengah berpelukan dengan Agnes.
Gara ingat, itu adalah foto tadi pagi waktu Agnes tiba tiba memeluknya, sial berarti tadi itu semua adalah rencana Agnes.
"Sayang...."
"Pergi dari sini gar, aku kecewa sama kamu, aku benci sama kamu." potong Aileen mengusir Gara.
"Sayang dengerin aku dulu,ini salah faham aku minta maaf sama kamu, tolong dengerin aku dulu." mohon Gara yang sekarang sudah kembali lembut tidak dengan suara yang keras lagi.
"Apapun itu aku kecewa sama kamu, kamu sudah terlanjur banyak berbohong sama aku, aku kecewa sama kamu."
"Yang plis dengerin aku dulu, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu, tapi plis jangan suruh aku pergi dari sini, aku gak bisa hidup tanpa kamu." mohon Gara agar Aileen mau mendengarkan penjelasan.
"Pergi gar pergi, aku gak butuh penjelasan kamu. Aku gak pantas buat kamu, aku hanya cewek kampungan yang gak pantas bersanding dengan seorang CEO seperti kamu." Aileen mengusir Gara dengan kata kata yang hampir sama Agnes ucapakan kepadanya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, aku cinta sama kamu aku gak mau pisah sama kamu."
"Pergi gar, pergi, aku mohon kamu pergi." usir Aileen kepada Gara agar pergi dari rumahnya.
Grep.
Gak ada pilihan lain, Gara langsung memeluk Aileen, Aileen memberontak saat Gara memeluknya dan Gara tak tinggal diam, dia semakin mengeratkan pelukannya agar Aileen tidak bisa melepaskan diri.
"Aku kangen sama kamu, aku minta maaf karena aku sudah banyak berbohong sama kamu. Plis dengerin penjelasan aku dulu, aku gak mau kita pisah." bisik Gara di telinga Aileen setelah Aileen tenang dan tidak memberontak lagi.
"Kamu jahat, kami sudah membohongi aku, aku gak mau sama kamu, aku kecewa sama kamu hiks hiks." Tangis Aileen yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh juga.
Pertahanan Aileen lemah kalau sudah dalam pelukan Gara, hati Aileen sakit, dia kecewa dengan apa yang sudah Gara lakukan kepadanya.
__ADS_1
...***...