
Aku dan Sian, kami berdua sedang menatap Thea dengan serius menuntut jawaban atas pertanyaan kami tadi padanya.
"Baiklah, baiklah, aku beri tahu semuanya." Thea bicara dengan putus asa karena kami tidak mungkin melepaskannya begitu saja tanpa mendapat informasi yang selengkapnya.
"Keluargaku sejak dulu mengabdi pada kelurganya, ayahku sekarang menjadi asisten ayah Jacob, dan itu di lakukan sudah turun temurun sedari dulu kala sejak jaman nene moyangku. Aku sekarang ada di sini juga di tugaskan oleh ayahku supaya bisa membantu dan mengawasinya."
"Ah iya, aku heran dia kan kaya raya tapi kenapa dia malah memilih tinggal rame-rame sama kita gini ya, aku tidak habis pikir." Akhirnya pertanyaan yang selama ini ada di hatiku keluar juga.
"Itu karena dia kesepian, sejak dulu kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja. Dia memiliki satu kaka perempuan yang sudah menikah. Selama ini dia hidup hanya dengan para pelayannya saja." Aku dan Sian hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar cerita Thea. Ko kisahnya mirip kaya di film-film yang dulu sering aku tonton ya, pikirku.
" mKasian sekali dia, tidak merasakan kehangatan keluarga," komentar Sian yang di amini olehku juga Thea.
"Ternyata punya terlalu banyak uang juga tidak selamanya menyenangkan ya, aku jadi teringat orang tua ku di desa nan jauh di sana. Aku merindukan mereka," ucapku dengan raut muka sedih karena merindukan bapak sama ibu, mereka sedang apa ya sekarang? Aku sangat bersyukur di lahirkan menjadi anak mereka, meski menjadi anak tunggal tapi selama ini aku tidak pernah kesepian. Kedua orang tuaku selalu meluangkan waktu mereka untukku. Sian dan Thea merentangkan kedua tangan mereka untuk memelukku. Kami bertiga jadi berpelukan seperti Teletubbies, film kartun warna warni yang waktu kecil dulu sering ku tonton.
"Hey kenapa suasananya menjadi melow begini sih, kita kesini kan untuk bersenang-senang. Ayo kita keluar dan nikmati api unggun bersama." Ujar Sian mencairkan suasana.
Kami bertiga keluar bergabung dengan para pria yang sedang asik mengobrol sambil minum bir di depan api unggun.
Sian duduk di sebelah stevan sambil memeluk tangan kekasihnya itu dengan mesra.
Mesra-mesraan teros, kesal ku yang masih jomblo ini.
Sian mengerti arti dari delikan mataku, makanya dia menjulurkan lidahnya untuk meledekku.
"Jasen, pinjam gitarmu dong." Aku bisa memainkan alat musik itu karena dulu sempat belajar dari Doni sepupuku yang bercita-cita dan terobsesi menjadi anak band biar keren seperti Arie Noah katanya. Jika ada waktu luang atau bosan, biasanya aku akan bernyanyi sambil bermain gitar di kamar.
"Sebentar aku ambil dulu." Jasen beranjak dari duduknya untuk mengambil gitarnya yang masih ada di mobil
"Kamu bisa main gitar?" Tanya Sian antusias.
"Tentu saja bisa, apa sih yang Linda tidak bisa." Aku tertawa bangga. Memang selama disini tidak ada yang tahu bakat terpendam ku ini karena gitar kesayanganku kan aku tinggalkan di rumah orang tua ku di desa sana.
" Ini..., " Jasen baru datang dan langsung menyodorkan gitar miliknya.
Aku mengambilnya lalu bersiap untuk bernyanyi.
__ADS_1
Jreeeng.... Suara awal saat aku mengetes petikan gitar ini.
Kulihat awan membentuk wajahmu
Seakan dunia pun t'lah setuju
Bodohnya kupaksakan kau menjauh
Padahal jelas
Hanya kau yang kumau
Mungkinkah
Kau rasakan yang sama
Kau ingin coba
Sekali lagi
Adakah
Rasa rindu yang sama
Bisakah kita kembali utuh lagi
Seakan dunia pun t'lah setuju
Bodohnya kupaksakan kau menjauh
Padahal jelas
Hanya kau yang kumau
Mungkinkah
__ADS_1
Kau rasakan yang sama
Kau ingin coba sekali lagi
Adakah
Rasa rindu yang sama
Bisakah kita kembali utuh lagi
Mungkinkah
Oh adakah
Mungkinkah
Kau rasakan yang sama
Kau ingin coba sekali lagi
Oh adakah
Rasa rindu yang sama
Bisakah kita kembali utuh
Lagi
Sekali lagi
( Original lirik, Maudy Ayunda : Sekali Lagi)
Ceritanya itu lirik bahasa Inggris ya guys X)
Aku terhanyut terbawa suasana nyanyian lagu yang ku nyanyikan sampai lupa dengan orang-orang sekitar. Setelah selesai satu lagu yang kulantunkan, mereka semua bertepuk tangan. Lalu kami lanjutkan pada lagu berikutnya, aku bergantian dengan Jasen memainkan gitar sebagai pengiring nyanyian kami.
__ADS_1
Malam ini kami habiskan dengan bernyanyi bersama di depan api unggun. Kita semua bersenang-senang tertawa gembira sampai lelah dan kembali ke tenda masing-masing untuk tidur.