
Setelah selesai menutup telpon aku segera kembali ke meja kerjaku, ku abaikan mata teman-teman satu ruanganku yang sejak tadi melirik kearahku. Aku tahu mereka pasti sangat penasaran dan ingin bertanya padaku secara langsung. Aku segera duduk, menarik nafas dalam dan kembali fokus pada layar monitor di hadapanku. Pekerjaan ku jadi tetunda karena big bos yang semena-mena itu.
Saat makan siang tiba, aku seperti biasa hanya duduk berdua dengan Sinta temanku satu-satunya di kantor ini.
“Max, ko belum dateng Lin? Tumbenan tuh cowok, biasanya dia yang paling semangat buru-buru ngajak istirahat.” Sinta celingak celinguk mencari keberadaan Max.
“Udah gak usar di cariin, dia gak bakal dateng. Gue udah putus sama dia,” jawabku santai sambil tetap menyendok baso dihadapanku.
“Serius?” Sinta syok sampe gebrak meja. Hampir saja aku keselek baso karena reaksinya itu mengagetkanku. “ Apa ada hubungannya sama orang yang telponin loe terus tadi?” lanjutnya lagi.
Aku berdehem lalu menyentuh hidung, aku bingung harus menjelaskan dari mana. “Ceritanya panjang, Ta...”
“Gue dengerin! Tenang aja. Buruan cerita, penasaran banget nih.” Sinta menopang pipinya dengan tangan lalu menatapku dengan serius. Sebenarnya aku males cerita tapi aku harus meluruskan semua ini. Aku yakin dengan aku bercerita padan Sinta sama dengan melakukan klarivikasi pada satu kantor ini. Biarkan dia yang akan menjelaskan jika nanti ada berita tidak benar tentang ku, jahat banget ya aku memanfaatkan teman sendiri begini. Ada untungnya juga ternyata berteman dengan ratu gosip.
Aku ceritakan semua tentang masa laluku dan juga tentang Max yang dengan lepang dada mengalah dan memilih mundur.
__ADS_1
“Gila, pantesan aja waktu itu Mr Lautner natap loe terus. Jadi ini alesan loe bisa akrab banget sama orang-orang dari kantor pusat itu,” komentar Sinta dengan takjub. "Lagian Max mau maju pun sudah tidak memungkinkan. Berat saaay, bakalan babak belur dia," lanjutnya lagi.
--------------*********--------------------
Hari-hariku berjalan seperti biasa, benar dugaanku desas desus macam-macam tentang ku di kantor merebak. Aku tidak terlalu peduli tentang itu jadi ku biarkan saja selama itu tidak menyakitiku secara fisik.
Hari ini aku harus buru-buru pulang karena besok aku harus terbang ke London, untuk menghadiri pernikahan Thea dan Peter. Aku belum menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa kesana.
Aku berjalan sambil sesekali menguap, hari ini sangat melelahkan. Sebelum melewati tangga untuk naik ke lantai atas aku berhenti sejenak dan menoleh pada pintu kamar yang dulu di huni oleh Max. Kamar itu kini tidak berpenghuni karena Max sudah pindah dua hari yang lalu. Aku menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kembali langkahku.
Aku tersenyum kecil, sekedar basa basi. “Mba, Linda,” sapanya dengan nada yang sedikit sinis.
Aku menghentikan langkahku sejenak, “Iya, Bu?”
Dia menatapku dari atas sampai bawah bolak balik. Aku risih dengan tatapannya itu, emangnya ada apa sih rese banget deh ibu-ibu satu ini.
__ADS_1
“Ada apa ya, Bu?” tanyaku lagi karena dia tidak mengucapkan apa-apa.
“Enggak, saya cuman heran aja. Berapa kalipun saya perhatiin, tetep aja biasa aja,” jawabnya dengan nada sinis.
Astaga mulutnya itu! Aku lebih baik segera pergi dari hadapannya daripada emosiku semakin tidak terkendali.
“Saya, duluan kalau gitu ...” Aku melewatinya begitu saja tanpa menanggapi ucapannya tadi.
Dari ekor mata aku melihat Ibu kos itu masih saja memperhatikanku dengan pandangan sinisnya.
Masa bodoh, aku tidak mau memperdulikannya!
Aku mengeluarkan kunci kamarku dan sedang berusaha membuka pintu.
“Eh, ko ga kekunci?” gumamku keheranan. Rasanya pagi tadi aku tidak lupa menguncinya deh.
__ADS_1