
Dia masih menganggap aku berselingkuh dengan Peter ternyata. Sepertinya Peter menuruti kata-kata ku waktu itu, dia masih belum menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Jacob sampai sekarang. Pandanganku berubah nanar.
"Jawab aku, Linda!" desisnya tidak sabar.
Mata coklat kecilnya berkilat-kilat. Apa aku salah melihat? Mata itu berkaca-kaca. Apa dia menangis?
Air mataku ikut meleleh. Aku sadar, seluruh diriku berada di genggamannya. Seluruh hidupku ada di tangannya. Setelah sekian lama, aku sadar dia masih tetap memilikiku.
Dia mengeratkan pegangannya. Menempelkan tubuhnya pada tubuhku. Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakannya menginginkan diriku. Detak jantungnya berada di atas detak jantungku.
Dia bernafas di leherku. Rasanya, seperti ada es yang di alirkan ke tulang punggungku, seluruh tubuhku merinding.
"Aku tidak keberatan kalau sekarang aku menjadi salah satu selingkuhan mu, Linda. Ini bisa jadi rahasia kita." Dia menjeda, "Seperti yang kamu lakukan dengan Peter dulu, saat kamu masih menjadi kekasihku." Jacob mengucapkan itu sambil menyeringai. Kata-katanya itu sungguh membuat hatiku terluka. Hampir saja aku terhanyut oleh buaiannya, sekarang aku seperti di jatuhkan kembali oleh kata-kata terakhirnya itu.
Aku meronta minta di lepaskan. Aku tidak terima dengan ucapannya barusan.
Dia tidak bergeming.Dia bahkan tidak melepaskan pegangannya pada rambutku. Dia terus menatapku.
"Le-pas," desis ku marah.
"Aku sudah pernah melepaskan mu sekali dan hidupku hancur."
Jacob sudah gila! Aku sudah mulai kesakitan dengan posisi seperti ini.
__ADS_1
Jacob sangat menyeramkan, ada kemarahan dari setiap nada bicaranya, tapi sedetik kemudian dia berubah menjadi lembut kembali.
Entah kenapa dia tiba-tiba saja melepaskan tangannya, sepertinya dia melihat ekspresi ku yang menahan sakit. Dia memejamkan mata dan menggeleng. "Malinda ... " Dia memanggil namaku dengan lirih. Apa dia sudah sadar, dia telah menyakitiku.
Setelah dia melepaskan ku, aku buru-buru berbalik pergi keluar dari sini.
Dia terus memanggil namaku dengan suara lirih. Namun aku terus berlari. Aku sangat ingin berhenti, aku sangat ingin tinggal. Sayangnya aku tahu, kalau aku kembali padanya yang ada hanya rasa sakit.
Saat mencapai pintu, aku mendengar dia meneriakkan namaku lagi dengan keras. Suaranya menggema di dalam ruangan ini.
Aku mendengar lebih dari yang dia suarakan. Aku mendengar keputusasaan. Aku mendengar keterpurukan.Aku mendengar menara keangkuhan yang roboh.Aku mendengar kerinduan yang tidak bisa diungkapkannya selama bertahun-tahun.
Aku meneruskan langkahku sampai ke kamar mandi, lalu menumpahkan segala kesedihanku disana. Aku mengunci pintu. Menutup mulutku dengan erat supaya suara tangisanku tidak terdengar keluar.
Aku melihat beberapa orang sudah ada di sana. Max juga sudah di sana. Max langsung menghampiriku begitu melihat aku datang. Dia memandang wajahku sejenak, "Are you oke?" Aku mengangguk. Padahal jelas-jelas aku sedang tidak baik-baik saja. Apa Max menyadari itu?
Max mengusap rambutku, "Apa pekerjaanmu sangat banyak? Wajahmu terlihat kusut sekali sayang," katanya khawatir.
"Aku hanya sedikit lelah, it's oke, " jawabku sambil tersenyum untuk menenangkannya.
Ehem....
"Simpan kemesraan kalian untuk nanti di rumah, sekarang ayo kita mulai meeting ini." Itu sura Jacob yang menginterupsi kami. Dia mengatakan itu sambil tersenyum meledek. Aku melihat sedikit kemarahan dari pandangan mata dan nada bicaranya. Hanya aku yang menyadari itu.
__ADS_1
Max tersenyum salah tingkah sambil mengusap kepalanya lalu kembali ke tempat duduknya. Dia menatapku sambil mengumbar senyum cerianya yang khas.
Aku menyiapkan kopi dan juga cemilan, menghidangkannya di depan semua orang yang ada disini, kemudian duduk di samping Thea. Thea memandangiku dengan tatapan yang ... entahlah, seperti tatapan kasihan mungkin.
Meeting sudah di mulai, Max sedang mempresentasikan sesuatu di depan kami. Mery berkacak pinggang di depannya, terlihat siap menyerang Max. Deby dan Riky melotot pada Max seperti akan menelan Max hidup-hidup. Mereka terlihat sangat berbeda ketika sedang bekerja begini.
Jacob berdiri di sudut sambil memandangi mereka. Itu memang gaya Jacob. Dia bisa merekam semua hanya dengan melihat saja. Dia tidak perlu berdebat dan tidak perlu ngotot untuk meyakinkan orang. Tapi sekalinya bicara orang-orang akan sangat tunduk dan menurutinya.
Dia melihat kebersamaan ku dengan Max lagi tadi. Apa perasaanya baik-baik saja, aku merasa tidak enak jadinya. Aku merasa seperti seorang kekasih yang kedapatan sedang selingkuh. Konyol sekali bukan, pikirku.
Aku melirik pada Jacob. Mata kami bertemu. Dia tidak berkedip. Aku buru-buru memalingkan wajah.
Seakan-akan ada magnet tersembunyi pada dirinya, aku kembali mencuri pandang ke arahnya. Aku memperhatikan wajahnya yang sedang serius itu. Aku sepertinya ketahuan.
Dia tersenyum sambil terus menatapku. Di samping matanya ada garis senyum tegas. Dulu garis-garis itu tidak ada. Apa lima tahun adalah waktu yang sangat lama? Apa lima tahun ini hidupnya menjadi sangat berat.
Yang tidak berubah adalah pandangan matanya.Dia menatapku seakan tidak ada yang lebih penting daripada aku. Seperti dulu?
...****************...
Wahai para silent raiders, tinggalkan lah jejak keberadaan kalian!!!
Semakin banyak komentar dan like dari kalian, semakin bikin othor semangat buat lanjutin ini cerita(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و
__ADS_1