Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Center Of Attention


__ADS_3

Aku dan Thea duduk memisahkan diri dari mereka. Kami duduk di meja kerja yang berada di sudut ruangan.


"Linda, I miss you so much," Thea memeluku dengan erat dan berbicara dengan antusias.


"I miss you too beb, lama sekali kita tidak bertemu," Jawabku sambil tersenyum.


Kami mengobrol panjang lebar dari membahas masa lalu sampai membahas masalah pekerjaan.


Thea juga bilang, katanya dia sudah akan menikah, dia meminta aku untuk menjadi salah satu Bridesmaids di acara pernikahannya nanti.


Semenjak lulus dan pulang ke negara asal ku ini, aku memang sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan teman-temanku kecuali Sian, hanya dia yang tau tentang ku dan perasaan ku selama ini. Aku bahkan berhenti bermain media sosial. Aku menghapus semua aplikasi instagram Twitter dan sejenisnya.


Sengaja aku melakukan itu agar tidak mendengar kabar ataupun berita tentangnya. Eh, sekarang orang itu malah ada di hadapanku, setelah sekian lama aku berusaha melupakan dia.


Kupu-kupu dalam perutku kembali bergejolak saat melihatnya kembali. Aku takut. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku. Keadaan kami sekarang sudah berbeda.

__ADS_1


Belum sempat aku menanyakan siapa calon suami Thea, perhatian kami sudah teralihkan dengan Pak Chandra yang saat ini sudah berdiri. " Kalau butuh sesuatu atau ada yang kurang di pahami, silahkan Mr Lautner dan Mrs Thea katakan pada Malinda. Dia jadi perwakilan perusaan untuk melayani anda selama disini. Dia akan mengurusnya untuk anda," katanya sambil tersenyum lalu pamit undur diri.


Jacob tersenyum kecil, "Terimakasih," katanya lalu berjalan menuju meja kerjanya yang sudah terisi tumpukan map yang berisikan berbagai laporan penting mengenai perusahaan ini.


Sejak pagi, sampai sekarang sudah masuk jam makan siang, aku dan dia belum bertukar kata. Dia belum berbicara sedikitpun padaku. Aku jadi berpikir ulang, apa benar bunga tadi pagi itu darinya atau memang aku memiliki penggemar rahasia lain, pikirku konyol.


Sejak pagi Jacob berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya. Setiap aku melihat ke arahnya, pandangannya masih saja tertuju pada layar laptop ataupun kertas-kertas itu.


Aku berbisik pada Thea, " Thea apa dia selalu seserius itu dalam bekerja?"


Thea tertawa kecil, lalu menghentikan pekerjaannya sejenak untuk melihat ke arahku, "Dia memang seperti itu, selama ini dia selalu tenggelam dalam pekerjaannya. Dia gila kerja. Perusahaan keluarganya sekarang berkembang pesat berkat kerja kerasnya." Terdengar nada bangga saat Thea berbicara tentangnya.


"Sorry sir," jawab kami kompak.


Jacob melihat jam di pergelangannya," Ayo kita makan siang," dia berkata sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


Akhirnya! Waktu istirahat makan siang sudah 15 menit berlalu, Max dan Sinta sudah mengirimkan belasan pesan WhatsApp padaku sejak tadi.


"Mau makan apa?" tanya Thea.


"Kita ke kafetaria kantor saja biar cepat, masih ada laporan yang belum ku periksa soalnya. Aku harus menyelesaikannya sebelum meeting nanti."


Aku tidak nyaman berada di meja ini. Meja kami menjadi pusat perhatian sekarang. Hampir semua mata orang yang ada di kantin ini sekarang memandang ke arah kami. Aku tau, mereka semua pasti sangat penasaran dengan Jacob yang merupakan bos besar perusaan ini, tapi bagiku yang selama ini tidak berusaha mencolok dan cenderung bersembunyi dari keramaian, suasana ini tuh sungguh-sungguh membuat aku sedikit pusing.


Sebenarnya tadi aku sudah akan pergi menuju meja Max dan Sinta yang sejak tadi menungguku, tapi Jacob mencegah aku pergi dengan alasan dia akan kesusahan untuk pesan makanan nanti, aku mengalah dan menuruti keinginan bos besar kami yang Agung ini. Meskipun sebenarnya dalam hati aku menggerutu kesal.


Aku sudah mengirim pesan permohonan maaf pada Max dan juga Sinta yang saat ini sedang melihatku dengan tatapan iri. Max, dia melemparkan senyum manisnya dari kejauhan padaku. Di saat aku sedang berpandangan dan juga bertukar senyuman dengan Max, Tiba-tiba saja Jacob mengusap ujung bibirku dengan jempolnya sambil berkata, "Makanmu masih saja berantakan seperti dulu."


Sontak tindakannya itu membuat mataku melotot kaget. Semua orang yang melihat langsung berkasak kusuk. Max terlihat mengerutkan dahinya. Sinta menampilkan ekspresi wajah yang syok, dia terlihat melotot dengan tangan yang menutup mulutnya.


Mulai detik ini, kedamaian ku di kantor ini sepertinya akan berakhir.

__ADS_1


Wahai para silent raiders, tinggalkan lah jejak keberadaan kalian!!!


Semakin banyak komentar dan like dari kalian, semakin bikin othor semangat buat lanjutin ini cerita(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و


__ADS_2