Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Personal Assistant


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, Sinta datang dengan tergopoh-gopoh. Dia meletakan cangkir kopi di mejaku dengan sedikit menghentak.


"Linda! Gila hoki loe tinggi banget!" Sinta bicara degan semangat yang menggebu-gebu.


Aku mengambil cangkir kopi lalu menyesapnya sedikit. "Thanks kopinya. Hoki apa? Gue ga lagi menang lotre deh kayanya."


"Loe jahat ga mau cerita sama gue!" Aku mengerutkan alis.


"Menurut gosip yang beredar, loe kenal sama asistennya Mr Lautner ... terus loe di tugasin Pak Chandra buat bantu mereka kan selama mereka disini?"


Aku tersenyum sedikit di paksakan, karena tidak enak dengannya. "Ah, iya! Sorry gue lupa,"


"Gosip tentang temen deket sendiri, gue malah tau dari orang lain. Ini tuh bikin harga diri gue terluka tau ga sih, sebagai jajaran ratu gosip kantor ini gue ketinggalan berita." Sinta memegang dadanya, seolah-olah dia terluka dan kesakitan. Selain ratu gosip dia juga ratu drama. "Loe bikin cewek-cewek di kantor ini pada envy semua Lin, termasuk gue," lanjutnya lagi.


"Gue baru sadar, temen gue ini pinter banget. Lulusan universitas keren di Inggris sono." Sinta tertawa.

__ADS_1


Aku hanya senyum-senyum menanggapinya, " Ish biasa aja deh, ga usah lebay. Malu sama yang lain. Lagian kalo bisa pilih sih gue males banget, tau!"


Tring...


Telpon di mejaku berdering, sebelum deringan kedua aku buru-buru mengangkatnya.


"Hal--"


"Linda kamu di panggil ke ruangan Pak Chandra, kamu langsung kesana ya."


"Oke Bu, siap."


"Baik bu, saya langsung kesana sekarang."


Aku menutup telpon, lalu menghela nafas panjang. Gimana jadinya ini, aku yang biasa berkutat dengan angka tiba-tiba banting stir jadi bantuin tugasnya asisten Bos. Mana ngerti aku tugasnya asisten. Oh iya yang barusan telpon itu Bu Gina manager kami yang kemarin aku gantikan. Dia tuh walaupun udah ibu-ibu tapi gayanya gaul banget, dandanannya juga sangat modis, ABG aja kalah tuh kayanya.

__ADS_1


"Sampein salam gue buat Pak Bos ya," kata Sinta sambil mengedipkan mata.


"Salam ke Pak Chandra?" jawabku meledeknya.


"Ish... maksud gue salam buat Mr Lautner," kesal Sinta.


Aku tertawa, "Salamin aja sendiri sono kalau berani." Sinta mencebikan bibirnya kesal.


Sekarang disinilah aku berada, di salah satu ruangan meeting yang sudah di sulap menjadi ruangan kerja sementara. Ruangan seluas 9x6 meter ini, kini di isi oleh dua set meja kerja untuk Mr Lautner dan Asisten pribadinya, Mrs Thea. Ada juga satu set meja dan kursi untuk tamu. Aku rindu Thea, kemarin aku belum sempat mengobrol banyak dengannya karena pulang lebih dulu.


Tugas pertamaku sudah selesai, aku disini bertugas untuk memastikan ruangan ini benar-benar siap untuk di tempati oleh Bos Besar kami itu. Tadi Pak Chandra juga mengintruksikan, bahwa tugasku selama seminggu ini adalah untuk melayani sekaligus menjadi asisten mereka selama ada disini. Katanya aku ini sebagai perwakilan para karyawan, jadi aku harus mencerminkan karyawan yang baik dan kompeten. Melayani dengan sepenuh hati. Tugas utamaku sekarang, menjadi perantara komunikasi serta mengatur dan mengorganisir jadwal mereka selama disini.


Suara derap langkah yang menggema menandakan kedatangan mereka, aku sudah bersiap berdiri di dekat pintu.


Mereka masuk, Thea tersenyum padaku sedangkan Jacob, dia hanya memandangku sekilas lalu kembali mengobrol dengan Pak Chandra.

__ADS_1


Wahai para silent raiders, tinggalkan lah jejak keberadaan kalian!!!


Semakin banyak komentar dan like dari kalian, semakin bikin othor semangat buat lanjutin ini cerita(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و


__ADS_2