
"Jangan aneh-aneh deh, kita harus cepat balik ke meja makan sebelum seseorang menyusul ku kesini."
"Siapa? Kekasih barumu itu?" dengus Jacob dengan sinis. "Mereka pasti mengurusnya dengan baik, dia tidak mungkin datang kesini." Aku melihat Jacob yang tersenyum sinis dari pantulan cermin di sebelah kami. Dugaan ku benar ternyata, semua ini terjadi atas kendali Jacob.
"Jacob aku mohon jangan aneh-aneh, jangan sampai kamu punya rencana jahat untuk Max. Dia tidak bersalah apa-apa, Dia--"
"Menjadi kekasihmu! itu adalah kesalahan terbesarnya! Aku janji tidak akan menyakitinya asalkan kamu tidak menolak ku lagi mulai saat ini!" tegas Jacob. Aku memejamkan mata, mulai merasa jengah dengan segala kerumitan ini.
"Kalau di pikir lagi, sebenarnya aku juga masih kekasihmu, loh. Tidak pernah ada kata putus yang terucap dari mulut kita berdua. Kita hanya sepasang kekasih yang terpisah sementara karena kebodohanmu!" Kata-kata terakhirnya itu menohok hatiku. Dia masih kesal padaku karena membuat keputusan sepihak saat itu. Namanya juga saat itu aku masih labil, dan belum cukup dewasa untuk menghadapai masalah sebesar itu. Saat itu terjadi, umurku saja baru akan menginjak dua puluh tahun. Kuliahku saja baru di tahun kedua, jelas pemikiran ku belum dewasa.
Jacob melonggarkan pelukannya, dia memegang kedua bahuku sambil menatap mataku.
"Jacob hentikan semua ini, jangan buat aku harus memilih. Kita sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu." Aku berusaha mengembalikan kembali akal sehatku.
__ADS_1
"Tenang saja honey, aku tidak akan membuat otak kecilmu ini untuk memusingkan pilihan." Jacob menyentil dahi ku, membuat aku mengernyit dan mengaduh. "Sejak awal kamu sudah menjadi milikku, tidak ada pilihan lain!"
Setelah mengklaim diriku sebagai miliknya, Jacob langsung merengkuh tubuhku lalu melum*at bibirku. Aku yang masih kaget dengan tindakan tiba-tiba nya itu tanpa sadar malah membuka mulut, membuat lidah Jacob leluasa menari di dalam rongga mulutku, mengabsen semua deretan gigi, lalu berusaha mengajak lidahku untuk bergulat dengan lidahnya.
Kupu-kupu di dalam perutku serasa berhamburan terbang mengepakkan sayapnya menjelajahi semua aliran darah di dalam tubuhku. Menggelitik seluruh kulitku, membuat aku meremang. Tubuhku seperti hilang kendali, otakku sudah berusaha menolaknya tapi tubuhku mendamba, merindukan sentuhan yang dulu sering memanjakannya.
Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan dan belaian tangan Jacob di tubuhku. Kali ini aku tidak bisa lagi menolaknya. Jacob melepaskan pagu*tan kami, cumbu*annya beralih pada leherku.
"Sepertinya kita butuh kamar, tapi kalau kamu tidak keberatan melakukannya disini aku sama sekali tidak keberatan." Jacob berbicara dengan nafas yang memburu menahan gejolak bir*rahinya.
Perkataan Jacob membuat aku kembali tersadar. Aku segera melepaskan diri.
"Kita harus segera kembali, akhiri ini oke!" Jacob terlihat akan mengatakan sesuatu. "Jangan protes!"
__ADS_1
Aku melihat penampilan kami di cermin. Baju tangtop ku sudah menyingkap keatas, memperlihatkan bra hitamku. Rambut dan wajahku tentu saja berantakan.
Aku melirik Jacob yang saat ini sedang membenarkan kemejanya, penampilannya tidak kalah berantakan dariku. Jacob sedang mengancingkan satu persatu kancing kemeja mahalnya, yang sekarang terlihat sedikit kusut karena aku mencengkeramnya terlalu kuat tadi. Tanganku hebat juga ternyata, aku tidak sadar sudah membuka kancing baju Jacob membuat dada bidang dan otot perutnya terpampang nyata di hadapanku. Sudah aku bilang bukan, sejenak aku tidak bisa mengendalikan diriku tadi.
Sebelum keluar dari sini aku mengecek kembali penampilanku, memastikan semua terlihat normal seperti sedia kala.
"Aku pergi lebih dulu, baru nanti kamu menyusul." Jacob tidak menjawabnya, dia hanya melihatku sambil menyunggingkan senyum arogannya. Senyuman meledek, karena sudah berhasil membuat aku tidak bisa menolaknya kali ini.
Aku membuka slot kunci lalu keluar, aku berbalik untuk memastikan lagi tulisan di atas pintu toilet yang aku masuki tadi. Di sana tergantung tulisan 'SEDANG DALAM PERBAIKAN' lalu tidak jauh dariku ada seorang OB yang sedang mengepel lantai, dari gelagatnya yang mencuri-curi pandang ke arahku, aku tau, dia pasti orang yang di bayar Jacob untuk mengawasi pintu ini. Pantas saja dia dengan santainya berlama-lama di toilet wanita.
Salam lope lope untuk kalian yang masih setia membaca cerita ini.
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya, aku tuh seneng banget loh kalau lihat jejak kalian tuh.
__ADS_1