
Aku berpapasan dengan Mba Riska penghuni kamar sebelah. "Linda! tadi ada dua cewek yang masuk kamar loe, karena dia ngeluarin kunci buat buka pintu jadi gue biarin aja, soalnya gue pikir itu sodara loe,"
"Oh iya mba, itu emang sodara aku yang mampir," kataku cepat.
Aku langsung turun dan memasuki kamar Max begitu saja, dia tidak mengunci pintu. Max sedang serius dengan laptop juga kertas-kertas yang bertaburan di atas meja dan juga lantai di dekatnya. Dia tidak mendengarku karena di kepalanya ada headphone. Aku tidak mau menggangunya. Aku langsung berbaring di atas kasurnya.
"Astaga! Linda." Max terkejut melihatku.
"Kerjamu sudah selesai?"
"Belum. Tinggal sedikit lagi. Kenapa?"
"Selesaikan dulu, terus peluk aku."
"Kamu kenapa sih?" tanyanya sambil tersenyum, mungkin dia heran dengan sikapku yang tiba-tiba begini.
"Jangan banyak tanya, pokonya peluk aku kalau sudah selesai."
Dia menggaruk kepala, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Aku menunggu dengan wajah terpendam dalam bantalnya yang beraroma mirip seperti tubuh Max.
Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai akhirnya Max memelukku. "Kamu mau cerita?"
Aku menggeliat merubah posisi agar bisa melihat wajahnya, lalu aku menggeleng pelan. Namun entah kenapa air mataku tiba-tiba saja merembes keluar tanpa bisa ku tahan. Max tidak bertanya, untungnya dia bukan tipe orang yang banyak ribut. Aku bisa menangis kapan saja tanpa harus menceritakan alasannya. Max tidak akan bertanya. Dia hanya akan memelukku dan mengusap rambutku sampai aku tenang.
Ya, Max selalu semanis itu.
"Kamu mau nonton?"
Aku menggeleng. "Aku mau nonton kamu aja," kataku sambil bergelung di tempat tidurnya.
Dia tertawa, "Aku juga," katanya sambil berbaring menghadapku. Dia memainkan ujung rambutku, menggulung dengan jarinya.
__ADS_1
"Uhm ... boleh aku tanya sesuatu?"
"Ya tentu saja. Asalkan jangan tanyakan kenapa aku nangis aja." Aku terkekeh, "Karena aku sendiri tidak tahu jawabannya."
"Kamu kenal dengan COO Jardin? Aku kaget loh saat denger orang-orang gosipin kamu tadi. Apa dengan Mr Lautner juga kamu sudah kenal sebelumnya? Setahuku mereka bersaudara."
Jantungku seperti menggelinding jatuh.
"Uhm ... itu ... aku kenal mereka karena Thea. Thea punya hubungan dengan Peter dan sebentar lagi mereka akan menikah."
Jangan sampai dia tahu. Tolong, jangan sampai dia tahu.
"Oh," katanya sambil mengusap pipiku.
Apa aku harus bilang kepadanya, apa aku harus mengatakan segalanya tentang masa laluku dengan Jacob pada Max.
"Max ... "
"Menurutmu, Mr Lautner itu orang seperti apa?"
"Jujur saja, aku tuh mengidolakan dia. Sangat bahkan. Dia tuh gentleman banget. Kalau kata cewek-cewek di kantor sih, katanya dia seksi. Kalau dia mau, ga akan mungkin ada cewek yang nolak."
Kemarin aku menolaknya. Tadi juga.
"Sayangnya mana mungkin dia mau melirik cewek-cewek di kantor ini. Kalo menurutku, levelnya Mr Lautner itu sudah seperti artis Hollywood, sih.
Uhuk... Aku tersedak air liurku sendiri.
Max tertawa. "Mau coba kenal lebih dekat?"
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Iya sih. Bahaya kalau kamu naksir sama dia juga," katanya sambil tertawa. "Soalnya aku ga akan bisa saingan sama dia," lanjutnya lagi.
Aku kembali teringat pembicaraanku dengan Jacob pagi tadi.
Tadi pagi, kami berdua sama-sama menangis. Menangisi takdir kejam yang membuat kita berpisah. Di saat kami kembali bertemu, keadaan sudah tidak sama seperti dulu. Meskipun Jacob sudah tidak dengan Shelby, tapi aku ... aku sekarang memiliki Max. Aku tidak mungkin meninggalkan Max begitu saja hanya karena cinta pertamaku sekarang sudah kembali. Rasanya akan sangat tidak adil dan kejam sekali untuk Max kalau aku sampai melakukan itu. Dilema besar kembali menghantam hidupku.
Tok... tok... tok...
Ada yang mengetuk pintu kamar Max.
Kami berdua bertukar pandangan. Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini.
"Biar aku saja yang buka, aku capek dari tadi rebahan terus,"
Max tertawa. "Hanya Malinda yang merasa capek karena rebahan," katanya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas.
Aku bangkit karena suara ketukan pintu itu semakin menjadi.
"Iya, iya, sabar!" teriakku sambil berjalan untuk membuka pintu.
Aku syok melihat seseorang yang sangat tidak disangka-sangka kini berada di hadapanku.
"Astaga Malinda! Kalian sedang asyik bercinta ya? lama banget sih buka pintunya!"
Siapakah yang malem-malem datang nyatronin kosannya Linda? apakah ibu kosan yang kepanasan karena Linda berduaan sama Max? wkwkwk
Wahai para silent raiders tinggalkan lah jejak keberadaan kalian!!!
Semakin banyak komentar dan like dari kalian, semakin bikin othor semangat buat lanjutin ini cerita(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و
__ADS_1