
Aku terus menatap punggung tegap pria tadi, sampai dia menghilang dari pandanganku. Setelahnya aku melepaskan diri dari dekapan Jacob sambil marah-marah padanya.
"Kamu kenapa sih, nyebelin tau ga! Dia pergi kan jadinya, mana aku belum sempat kenalan lagi tadi." Aku menggerutu sambil menghentakkan kaki kesal pada Jacob.
"Santai sayang, ga ada untungnya kamu berkenalan dengan pria seperti itu. Dia cuma laki-laki tukang tebar pesona hanya untuk menjerat wanita," Jawabnya santai.
"Oh berarti, laki-laki tadi itu masih satu jenis denganmu dong ya!" jawabku telak. Dia hanya melongo kebingungan dengan ucapan ku.
"Iya sama denganmu, laki-laki tukang tebar pesona mencari perhatian para wanita. Kaya tadi itu. Dasar playboy cap ayam!" lanjut ku lagi sambil berlalu pergi meneruskan perjalananku yang tadi tertunda.
"Hey, Linda tunggu aku! Apa maksudmu tadi? Aku bukan laki-laki seperti itu ya." Jacob berkata kesal tidak mau di samakan dengan laki-laki tadi yang menurutnya ga banget itu.
"Kamu lupa apa yang kamu lakukan dengan gerombolan para gadis itu tadi?" Aku mencoba mengingatkan atas kelakuannya yang kecentilan juga tadi. Dasar, menilai orang lain begitu tapi dirinya sendiri tidak bercermin.
__ADS_1
"Hey, aku tidak melakukan apa-apa tadi, gadis-gadis itu saja yang menggodaku. Aku tadi cuma tersenyum. tunggu, apa tersenyum sekarang sudah termasuk juga dalam katagori genit?" Bela diri aja terus.
"Aku tidak peduli, terserah kamu sajalah. Mau senyum, koprol atau kayang ke. Masa bodoh, tidak ada urusannya denganku."
"Kamu cemburu ya?" tebaknya dengan seenak jidat. Mana mungkin aku cemburu, aku hanya kesal karena di anggap mahluk tak kasat mata tadi.
"Mana mungkin aku cemburu, kamu bukan kekasihku, jadi tidak mungkin aku cemburu oke," jawabku sambil tersenyum.
"Aku tidak cemburu, aku pergi karena tidak tahan berada di sana." Aku mengelak, masa iya aku cemburu. Aku hanya sedikit kesal saja tadi.
"Kamu cemburu baby!" Ungkapnya masih dengan senyuman di bibirnya, sambil terus mendekat merapatkan tubuhnya padaku.
"Tidak! " Aku masih terus menyangkalnya. Kenapa dia jadi makin deket gini sih, aku risih dan mendorong tubuhnya menjauh. Celakanya tangan yang ku gunakan untuk mendorongnya menjauh itu secara tidak langsung malah menempel di dada bidangnya yang tanpa pakaian itu. Saat aku tersadar dan akan menarik tanganku kembali, Jacob menahannya membuat tanganku tetap berada di sana.
__ADS_1
Alarm di kepalaku kembali menyala, bahaya, ini sungguh bahaya. Aku mulai panik dan berniat beranjak menjauh. Tapi sayangnya aku sudah terlambat, Jacob lebih dulu menahan tubuhku dalam kukungannya.
"Jacob, lepaskan aku." Aku mendongak menatapnya untuk protes akan sikapnya ini.
Jacob tidak menjawab ku, dia malah menyambar bibirku, memagutnya dengan mesra dan dalam. Aku menyerah, aku tidak kuasa menolak pria sexy di hadapanku ini. OMG aku khilaf lagi.
Burung-burung bernyanyi sambil berloncatan di atas pohon pinus yang berjajar seolah mengiringi pergulatan bibir kami yang sudah berlangsung lumayan lama ini. Setelah tangan ini puas berkelana menyentuh setiap otot tubuhnya, kini tanganku sudah ku kalungkan di lehernya, menikmati setiap sentuhan bibir dan belaian tangannya di tubuhku.
Perlahan tapi pasti pagutan bibir kami akhirnya terlepas, dengan nafas yang masih menderu menahan gejolak panas tubuh kami yang menginginkan lebih dari ini. Jacob menyatukan kedua kening kami.
"Ayo kita kembali, hari sudah mulai siang." Aku tidak menjawabnya, hanya menurut dan mengikuti dia saja.
__ADS_1