
Blackpool Sand tidak ada hubungannya dengan kota Blackpool yang terkenal di tepi laut Utara. Pantai ini sebenarnya terletak di Devon, tepat di luar Stoke Felming. Pantai ini di kelilingi oleh garnisun pohon pinus, sehingga membuatnya terasa liar dan terpencil, meskipun termasuk pantai yang mudah di akses.
Di cuaca pagi yang cerah ini aku memutuskan untuk lari pagi, sekedar berjalan-jalan menyusuri garnisun pohon pinus di belakang pantai. Mumpung ada di sini, ku putuskan untuk menjelajah alam sekitar. Aku sudah selesai berganti baju untuk Joging, lalu ku lirik buntalan yang ada di sebelahku.
"Thea aku mau joging, kamu mau ikut tidak?" Aku mencoba membangunkan Thea yang saat ini masih menggulung tubuhnya di dalam sleeping bag.
Dia hanya menggeliatkan badan dan bergumam pelan. "Tidak mau, aku masih ingin memejamkan mata." Bukannya bangun dia malah makin menenggelamkan seluruh tubuhnya masuk ke dalam kantong tidur itu. Yasudah kalo begitu, aku coba mengajak Sian saja deh.
Aku membuka resleting pintu tenda, kedua tenda yang ada di sebelah kanan dan kiri ku masih sepi tidak terdengar tanda-tanda kehidupan sedikitpun. Sepertinya mereka masih tidur, aku jadi ragu kalau harus mengetuk tenda Sian yang terlihat tidak ada pergerakan sama sekali. Sian pasti begadang sampai pagi dengan kekasihnya. Ya sudah aku pergi sendiri saja deh kalo begitu.
Aku berlari pelan sambil menikmati hangatnya sinar mentari juga angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku.
__ADS_1
Sesekali aku berhenti sejenak untuk mengambil foto selfie dengan pemandangan indah yang terhampar luas di sepanjang penglihatan ku. Aku suka sekali tempat ini.
Setelah puas mengambil foto, aku meneruskan kembali perjalananku dengan berjalan santai. Dari kejauhan samar-samar aku melihat seorang pria bertelanjang dada yang sedang berlari kecil berlawanan arah denganku, aku tidak melihat wajahnya dengan jelas karena mataku minus atau rabun jauh dan aku lupa memakai kacamata. Saat jarak kami semakin dekat aku baru menyadarinya, kalau laki-laki itu adalah Jacob. Jaraknya denganku sudah mulai dekat. Aku langsung panik, bagai mana ini. Aku membalikan badan berusaha untuk melarikan diri. Aku tidak boleh berlama-lama disini, aku harus segera pergi. Aku bebalik pergi mengubah arah tujuanku sebelumnya.
"Hah... Haaah... Haah...," Suara deru nafasku yang kelelahan. Aku berhenti sejenak sambil menunduk dan memegang kedua lutut ku, rasanya aku sudah berlari sangat jauh tadi. Perlahan aku mencoba menormalkan nafasku kembali.
Tiba-tiba ada uluran tangan dengan air mineral yang di sodorkan padaku, kebetulan sekali aku sangat haus akibat lari maraton tadi. Aku mengambilnya dan segera menenggak air mineral yang terasa sangat segar di kerongkonganku yang terasa kering ini, tanpa melihat siapa orang yang memberikannya.
"Thanks!" Kataku sambil mendongak melihat orang baik itu.
__ADS_1
"Astaga!" Aku terkejut melihat orang itu yang ternyata adalah Jacob. Kenapa orang ini selalu ada di sekitarku sih, pikirku sedikit kesal.
Rasanya tadi aku sudah berlari dengan kecepatan maksimal deh, tapi dia kini berdiri menjulang di sebelahku dengan tenangnya tanpa terlihat lelah sedikitpun. Sangat berbeda sekali denganku yang sudah seperti akan kehabisan nafas ini.
"Kenapa kamu ada disini?" Sergahku yang sedikit kesal.
"Sama sepertimu. Aku juga sedang olah raga tentu saja, memangnya apa lagi?" Jacob menjawab dengan gaya santainya. Rasanya ingin ku jawab, apa kau memata-matai ku. Tapi kata-kata itu hanya terucap dalam hatiku saja.
"Ah, ya sudah kalo begitu silahkan lanjutkan olah raga mu." Aku berbalik lagi pergi ke arah tadi.
Aku tidak bisa berlama-lama disini, berbahaya. Jacob yang habis olah raga tanpa memakai baju begitu sungguh terlihat hot. Otot perutnya yang kotak-kotak berjejer rapi dan juga dada bidangnya yang keras terpampang nyata di hadapanku. Keringat di kulitnya membuat semua itu terlihat mengkilap. Alarm di kepalaku segera berbunyi, berbahaya. Ini sungguh berbahaya, pemandangan indah di depan mataku ini bisa membuat aku khilaf. Aku tidak mau khilaf lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1