
Kenapa suasananya tiba-tiba mendadak jadi serius begini sih. Gerutu ku dalam hati. Aku bingung bagaimana harus menjawabnya.
Aku belum siap untuk menikah. Bagaimana aku menjelaskannya ya.
" Ehem... " Aku berdeham lalu menarik nafas panjang sebelum menjelaskan jawabanku pada Jacob.
" Jacob, usia kita masih terlalu muda untuk menikah. Kita belum siap. Aku masih ingin mengejar impianku. Ada banyak aturan di keluargamu. Aku pasti tidak bisa melakukannya. Dan aku juga tidak yakin akan di terima oleh keluarga bangsawan mu itu. Status sosial kita jauh berbeda. Aku hanya orang asing disini. " Aku berbicara dengan suara pelan dan perlahan.
" Kamu tau tentang keluargaku? " Jacob mengeluarkan ekspresi kagetnya.
"Ya..., Thea menceritakannya padaku. " Jawabku jujur dan dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Aku bingung harus mulai menjelaskannya dari mana. Aku sangat nyaman dengan hubungan kami yang seperti ini, tapi kalau untuk menikah rasanya terlalu jauh. Kuliah saja belum lulus, masa udah nikah aja. Setelah lulus kuliah pun aku masih ingin bekerja meniti karirku. Aku yang sekarang kalo nekat menikah dengan Jacob, hanya akan menjadi bulan-bulanan keluarganya saja. Aku merasa belum pantas, dan hidup di keluarga bangsawan begitu sudah pasti banyak aturan disana. Mana mau aku kalo harus di atur-atur.
" Beberapa hari yang lalu, keluargaku mengadakan makan malam dengan salah satu rekan ayahku. Lalu mengenalkan aku dengan putri mereka. Aku tidak bodoh Linda, aku mengerti maksud mereka apa. "
Lalu Jacob menggenggam jemari tanganku dan meremasnya pelan.
" Atau setidaknya aku ingin membawamu ke hadapan ibuku, supaya mereka tau aku sudah memiliki kekasih. " Aku menggeleng.
" Jacob aku belum siap, setidaknya tunggu sampai aku lulus kuliah dan memiliki pekerjaan yang bisa di banggakan saat aku berkenalan dengan keluarga mu nanti. "
Aku terdiam sesaat.
" Tunggu aku jika kau memang mencintaiku, " lanjut ku lagi.
__ADS_1
Mungkin bisa di bilang kalau aku ini pengecut, aku pesimis dan minder duluan. Aku takut mendapat hinaan atau cibiran dari keluarganya.
Karena aku hanya gadis biasa dari keluarga sederhana yang kebetulan beruntung bisa bersekolah di sini. Aku sadar diri ini dunia nyata, tidak mungkin berakhir dengan mudah seperti Cinderella yang mendapatkan pangerannya. Setelah di pikir-pikir kedudukan ku masih ada di bawah Cinderella yang merupakan anak saudagar kaya ya, makanya kelurga pangeran tidak ada yang protes saat mereka menikah.
" Mungkin aku sangat bisa menunggumu, walau bertahun-tahun pun lamanya. Tapi keluargaku, mereka tidak akan menunggu ! " ucap nya dengan sedikit emosi sambil mencengkeram kepalanya sendiri.
Aku hanya menundukkan kepala, sementara Jacob dia berbalik memunggungi ku sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia marah.
Aku mencolek punggung nya dari belakang, " jangan marah" kataku sambil mencolek bibirnya.
Jacob tetap tidak bergeming.
" Aku mandi dan bersiap dulu ya, " kataku sambil bangkit berdiri kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Saat semua persiapan ku selesai kulirik Jacob yang masih berada di atas tempat tidur dan masih dengan posisi yang sama saat ku tinggalkan tadi.
...****************...
Sekarang sudah jam 1 siang, aku baru selesai mengikuti kelas. Sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk mampir ke kedai kopi yang berada di dekat kampusku. Aku merasa sangat butuh kafein untuk sedikit merilekskan otakku. Gara-gara pembicaraan tadi pagi dengan Jacob, membuat mood ku seharian menjadi buruk.
Ketika mengantri di kasir dan membayar pesananku, ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku berbalik untuk mengetahui siapa orang itu.
" Hai.... "
" Oh, hai Neal..., " kataku balas menyapanya.
__ADS_1
" Kita sering bertemu secara tidak sengaja begini, orang bilang itu tanda-tanda kita berjodoh loh, " katanya sambil tertawa.
" Teori macam apa itu? kamu ada-ada saja " kataku sambil sedikit tersenyum. Aku sedang tidak mood menanggapi candaannya itu.
" Hei ekspresi wajah apa itu, sepertinya suasana hatimu sedang buruk. "
Aku hanya mengangkat bahu menanggapinya.
" Aku mau menunjukan sesuatu padamu, " lanjutnya lagi.
" Oh ya, apa itu? " kataku mulai penasaran.
" Ikutlah denganku kalau begitu! " katanya bersemangat dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.
Aku membuat ekspresi berpikir.
" Tidak usah banyak berpikir, aku yakin tempat ini akan membuat mood mu bagus kembali. " Neal meyakinkanku.
" Baiklah kalo begitu, ayo pergi! "
Mudah-mudahan apa yang di katakan Niel benar.
Akhirnya aku menyetujui ajakan Nathaniel dan mengikutinya keluar dari kedai kopi ini menuju mobilnya.
__ADS_1
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentarnya . Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil mengahalu author abal ini. Love you guys muach muach.!