
Hari ini adalah acara pemberkatan pernikahan Peter dengan Thea. Aku dan Sian duduk di bangku paling depan sebagai pengiring pengantin, begitu pun dengan Jacob dan Noah yang menjadi pengiring mempelai pria.
Suasana sangat khidmat di saat kedua mempelai selesai mengucapkan janji suci pernikahannya barulah kami semua riuh dan bertepuk tangan dengan gembira. Peter dan Thea kini telah resmi menjadi suami istri.
Sesaat sebelum kedua pengantin pergi meninggalkan gereja, Thea melemparkan buket bunganya. Kalian tahu siapa yang mendapatkannya ? aku ? No. Yang mendapatkan bunga itu adalah Sian.
“Oh My God? Aku mendapatkan buket ini?” tanyanya heran sambil memandangi bunga di tangannya. Tidak lama kemudian mimik wajahnya berubah. Sian memegang perut dan juga menutup mulutnya. Dia menyodorkan bunga itu padaku lalu berlari. Aku memegangi buket bunganya dan ikut berlari mengikuti Sian.
Sian berlari ke kamar mandi dan saat ini sedang berjongkok di depan kloset sambil memuntahkan isi perutnya. Aku memijat pundaknya berharap bisa mengurangi rasa mualnya. Sepertinya dia sangat tersiksa sekali, yang dia muntahkan hanya cairan bening yang sedikit kekuningan.
Sian terengah,aku membantunya bangkit dan berjalan ke depat wastafel. Sian mencuci tangan dan juga mulutnya.
“Thanks, Linda,” ucapnya kemudian menyeka sedikit air diujung matanya.
“Kau sakit? Sejak kapan? Kenapa memaksakan diri untuk datang jika keadaanmu begini. Aku yakin Thea akan mengerti ko, meskipun kamu tidak datang.” Omelku yang kasihan dengan keadaanya, pantas saja sejak tadi wajahnya sedikit pucat.
“Berapa bulan?” lanjutku lagi. Sian kaget saat mendengar pertanyaanku. Dia memandang wajahku dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
“Kamu tahu?” jawabnya dengan pertanyaan balik. Aku mengangguk mantap.
“Aku akan membesarkan anak ini seorang diri, aku akan merawatnya,” racaunya.
“Hei, kenapa begitu? Dimana ayah anak itu memangnya?” tanyaku lagi sudah seperti ibu yang sedang mengintrogasi anaknya yang ketahuan hamil diluar nikah.
“Itu...” Sian terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Katakan saja, tidak usah ragu-ragu begitu. Aku akan seret laki-laki yang menghamilimu kehadapanmu,” ucapku dengan tegas. Aku memang bertekad akan membawa laki-laki itu agar bertanggung jawab. Aku tidak mau temanku hamil seorang diri.
“Tidak usah repot-repot, aku tidak ingin menikah. Aku benar-benar akan membesarkan anak ini seorang diri.” Dari ucapanyan sepertinya Sian serius. Disni jadi ibu tunggal tuh memang sudah biasa, tapi tetep saja aku tidak tega jika sahabatku harus menghadapi ini seorang diri.
“Tapi setidaknya beritahu aku siapa ayah anak itu?” aku masih penasaran.
Sian terlihat ragu-ragu sekali untuk mengatakannya. “Max,” cicitnya pelan.
“Hah, aku tidak salah dengar kan?” tanyaku keheranan dan sedikit tidak mempercayainya.
__ADS_1
“Kamu tidak salah dengar. Ini memang anak Max, mantan kekasihmu.” Kali ini dia menjawab dengan tegas.
“Max? Saat kejadian di Bali waktu itu?” Sian mengangguk. “Kamu yakin itu benih milik Max?”
“Tentu saja yakin. Sebelum pergi ke Bali sudah lebih dari tiga bulan aku tidak berhubungan dengan siapapun dan lagi kami melakukannya tanpa pengaman. Bodoh sekali aku lupa tidak minum pil pencegah kehamilan.”
Tokcer sekali benihnya Max, sekali tembak langsung jadi. Aku jadi ingin tertawa tapi aku urungkan karena situasinya sedang melow begini.
TAMAT
Sampai jumpa di Season selanjutnya.
I Love You, guys!!! terimakasih kalian udah mau baca cerita ini sampai tamat.
kelanjutan kisah Malinda sama Jacob akan ada di novel selanjutnya ya. Stay tune oke!
__ADS_1
Jacob masak dulu buat othor biar cepet-cepet di kawinin sama Linda katanya. Dia ga Terima kalau harus kena salip lagi!