
Sekarang aku sedang duduk di meja makan, menunggu Sian yang sedang menghangatkan makan malam kami. Kami memang biasa menyetok makanan beku di kulkas, dan aku pribadi masak paling kalau weekend saja.
Karena menurutku yang tidak hobi masak ini, kegiatan masak itu hanya menghabiskan waktuku. Jadi lebih baik beli. Itu alasan saja sih sebenarnya karena aku tidak bisa masak saja makanya aku memilih beli jadi. Aku cuma bisa masak yang simpel-simpel saja seperti bikin ceplok telur misalnya, hehe.
" Honey bangun, ayo kita makan malam. " Sian membangunkan Steven yang tertidur di kursi depan TV. Pasti dia bosan dan lelah menunggu kami sejak tadi, sampai ketiduran begitu.
Stevan menguap sambil meregangkan badannya, " Ya sayang, aku bangun " katanya. Lalu Sian mengecup bibir Stevan sekilas, setelahnya dia mengambil makanan di microwave yang baru saja berdenting tanda makanan kami sudah siap.
Kami bertiga sekarang duduk di hadapan makanan masing-masing.
" Cepat makan, jangan hanya memandangnya. Ikan itu tidak akan hidup lagi meskipun kamu memandangnya selama berjam-jam, " di saat seperti ini masih saja Sian sempat membuat lelucon. Makanan ini memang belum aku sentuh sama sekali, aku hanya duduk dan melihatnya saja.
Aku tersenyum mendengar lelucon garingnya itu. " Apaan sih, garing tau " kataku.
" Tapi kamu tetap tersenyum kan, " katanya, sambil mengedipkan mata. Sian selalu punya cara untuk menghiburku. Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertinya.
" Cepat makan, apa perlu aku suapi ? "kata Sian, lalu menyodorkan garpuhnya yang penuh makanan padaku. " Aaa... Buka mulutmu! " Aku menggeleng. Memangnya aku anak kecil apa harus di suapi, Sian ada-ada saja.
" Aku bisa makan sendiri " kataku. Lalu mengambil pisau dan garpuh miliku sendiri.
Aku mengunyah makananku dengan perlahan, rasanya aku sulit menelan makanan ini sehingga aku dorong dengan air minum supaya bisa tertelan.
__ADS_1
Aku hanya sanggup makan tiga suap saja, itupun bisa tertelan karena di bantu dorongan air. Hanya untuk makan tiga suapan saja, aku menghabiskan 2 gelas besar air putih.
" Sian aku selesai, aku tidak sanggup lagi memakannya. Perutku kenyang. " Aku mengusap perutku yang rasanya begah sekali.
" Itu kembung namanya. Bukan kenyang, " kata Sian sedikit kesal karena aku tidak mau makan.
" Aku ke kamar duluan ya, " kataku yang tidak tahan ingin merebahkan tubuhku di kasur. Rasanya aku lelah sekali, mungkin karena kebanyakan menangis juga.
" Baiklah, nanti aku menyusul. " Aku hanya mengangguk tanda setuju.
***
Jacob kita harus bicara
Kamu salah paham
Kamu belum mendengar penjelasan ku
Kalau kamu baca pesan ini, please hubungi aku
Semua pesan yang ku kirimkan sejak tadi masih centang satu.
__ADS_1
Cklek... Bunyi pintu kamarku yang terbuka. Lalu Sian muncul setelahnya.
Di naik ke atas kasur dan tidur di sebelahku.
" Tidak usah temani aku, kasian Steven kamu tinggal terus dari tadi " kataku sambil terkekeh.
" Dia sudah ku suruh pulang barusan, " kata Sian. Lalu dia memelukku.
" Kau kejam sekali, " kataku sambil tertawa meledeknya.
" Aku mau disini menemanimu, " dia menjeda sebentar ucapannya. " Aku tadi menelpon Thea. Katanya dia tidak pulang karena masih banyak urusan. "
" Apa kamu menanyakan tentang keberadaan Jacob pada Thea ? " kataku cepat. Sian mengangguk.
" Thea tidak tau, nanti kalo dia mengetahuinya pasti langsung mengabari kita. " kata Sian yang membuatku kecewa.
Hari ini sungguh melelahkan, hingga tanpa ku sadari kesadaran ku hilang. Aku tertidur dalam pelukan Sian.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1