
Dalam sekejap semua makanan yang ada di hadapan kami habis tak tersisa. Setelahnya aku yang membersihkan meja dan juga mencuci piring bekas kami tadi makan.
"Biar aku saja yang mencucinya," kata Jacob. Tangannya akan mengambil alih piring kotor di tanganku.
"Tak apa, biar aku saja," kataku sambil tersenyum. Aku sedikit tahu diri karena tadi dia sudah memasak makanan untuk kami jadi urusan cuci piring biar aku saja yang mengurus nya.
"Baiklah," katanya yang masih tetap berdiri di sebelahku.
Aku melanjutkan kegiatan mencuci piring ini, sebuah tangan kurasakan melingkar di perutku. Jacob memelukku dari belakang dengan kepala berada tepat di bahuku.
"Kenapa pake baju kaya gini sih, aku jadi tidak bisa mengendus lehermu," protesnya.
"Kamu pikir siapa yang menyebabkan aku harus memakai baju tertutup seperti ini di saat musim panas?" Jacob hanya terkekeh mendengar jawabanku.
__ADS_1
"Jacob lepaskan, aku susah bergerak kalo kamu memelukku seperti ini." Aku menggeliat di dalam pelukannya.
"Tidak mau," katanya dengan nada manja.
"Jacob ku mohon lepaskan." Aku mendengar suara pintu yang terbuka dari teras depan. Sepertinya ada yang datang.
Aku menolehkan kepala, lalu ku tatap matanya dengan pandangan memohon pada Jacob, yang pada akhirnya meluluhkan hatinya sehingga dia melepaskan pelukannya ini. Aku belum siap jika keintiman kami berdua ini di lihat oleh orang lain.
"Oke oke, baiklah." Akhirnya dia melepaskan ku dan kembali duduk dengan tenang di meja makan sambil sesekali memperhatikan aku yang sedang mencuci piring.
"Kamu baru pulang? Kami baru saja selesai makan." Jawabku sambil mengeringkan tangan karena baru selesai mencuci piring. Sementara Jacob sedang duduk sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Oh, hai Stevan," Jacob akhirnya menyapa Stevan. Lalu pandangannya kembali tertuju pada ponsel yang dia pegang.
__ADS_1
Selanjutnya kami berkumpul duduk di kursi depan TV, tempat favorit kami jika sedang berkumpul begini. Kami menonton film sambil makan cemilan bersama. Kalau di perhatikan kami sudah seperti melakukan double date saja. Oh iya, ternyata Thea sedang pulang ke rumah orang tuanya, sedangkan Jasen aku tidak tau dia ada dimana.
"Linda kamu sakit?" Tiba-tiba saja Sian beringsut dari tempat duduknya dan mendekat padaku. Lalu menempelkan telapak tangannya pada kening dan leherku.
"Tidak panas, katanya." Ya jelas lah tidak panas, karena sekarang yang panas adalah pipiku. Kalo Sian melihat banyaknya tanda merah di leherku ini dia pasti menertawakan ku habis-habisan.
"Oho... oho...." Aku buru-buru pura-pura batuk.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kurang enak badan saja." Jawabku sambil tertawa hambar. Sementara si pelaku yang membuatku begini, kulihat dia menutupi mulutnya dengan mata yang sedikit menyipit. Meski di tutupi oleh tangannya begitu aku tau dia saat ini sedang menertawakanku. Aku mendelikan mata ke arahnya karena kesal.
Kami semua fokus kembali pada layar TV yang sedang menayangkan adegan Bella dan Edward menikah, ya kami sedang menonton film Twilight Saga. Aku dan Sian kami berdua penggemar film vampir dan serigala tampan itu, kami selalu menontonnya berulang-ulang tanpa bosan. Seperti sekarang ini kami menontonnya lagi yang entah sudah ke berapa kali.
Tiba saatnya adegan dimana Edward dan bella sedang berbulan madu. Mereka mulai saling menyentuh dengan mesra dan semakin lama adegan keduanya semakin panas. Tidak hanya adegan di televisi yang memanas tapi kulihat di sebelahku Sian dengan kekasihnya Stevan sudah saling menc*umbu satu sama lain. Di sebelahku yang lain, Jacob sudah memandangku dengan tatapan mata sayunya.
__ADS_1
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, dan vote nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil mengahalu author abal ini. Love you guys muach muach.!