
Baru saja aku akan memejamkan mata, kaki Jacob menimpa perutku dan juga tangannya memelukku erat. “Ukh ... berat.” Aku menyingkirnya pelan-pelan tapi beberapa saat kemudian tangan dan kakinya kembali membelit tubuhku. Dia pikir aku ini guling apa! Terpaksa aku tidur dengan keadaan sedikit sesak, kalau tidak cinta sudah ku tendang dia.
Keesokan paginya tidurku terusik bukan karena silau dari matahari tetapi aku terusik dengan pergerakan dan belaian tangan di beberapa spot sensitif tubuhku.
Aku segera membuka mata dan menangkap tangan Jacob yang sedang meremas buah dadaku. Dia langsung memandangku sambil menampilkan senyum bodohnya.
“Morning honey...” dia mengecup bibirku cepat.
“Morning,” balasku.
Jacob kembali menciumku tapi aku segera menghindar. “Kenapa?” tanyanya kesal.
“Biarkan aku mencuci muka dan menggosok gigiku lebih dulu,” jawabku sambil menutup mulutku dengan tangan.
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ucapnya kemudian menyingkirkan tanganku.
Dia mencium bibirku dalam dan sangat menuntut sambil tangannya bergerak dengan lincah membuka satu per satu kancing piyamaku.
Ciumannya pun kini turun menyusuri tulang leher dan terus merambat ke bawah sampai di buah dada ku, dia berhenti mengendusnya sebentar lalu melahapnya dan melakukan gerakan seperti mengunyah dimulutnya.
“Uhhh...” aku menjambak rambutnya dan menekan kepala Jacob membuatnya semakin tenggelam diantara dua buah gunung kembar miliku.
“Aku sangat merindukan ini,” gumamnya sambil terengah-engah diliputi kabut nafsu.
__ADS_1
Ciumannya turun semakin kebawah ke bagian pusat tubuhku.
Percintaan kami pagi itu berlangsung sangat lama sampai-sampai kami hampir akan ketinggalan pesawat.
“Ini semua gara-gara kamu tidak mau berhenti, telat kan kita jadinya!” aku duduk di kursi pesawat sambil menyeka keringat di dahiku akibat jalan setengah lari untuk mengejar pesawat.
Aku tidak mengerti apa yang telah Jacob lakukan sehingga pesawat yang seharusnya sudah terbang sejak lima menit yang lalu menunda penerbangannya dan hebatnya lagi kami masih diizinkan naik.
London, Bandar Udara Heathrow
Aku menarik nafas lega. Setelah lima tahun akhirnya aku menginjakan kaki dan bisa menghirup udara London lagi.
Senyuman di bibirku merekah. Teringat dulu saat pertama kali aku datang ke Negara ini seorang diri. Betapa noraknya aku waktu itu.
“Ada apa?” tanya Jacob dengan wajah penasarannya, mungkin dia khawatir kekasihnya ini menjadi gila semenjak sampai disini senyuman dibibirku terus saja merekah.
Mobil Roll Royce Phantom Drophead Coupe berhenti di depan kami, lalu seorang pria muda membuka pintu mobil itu dan menghampiri kami.
“Selamat datang Malinda ... “
“Noah!” aku memeluknya erat. “Kamu sudah besar sekarang.” Aku mengusap punggung kekarnya.
“Mungkin karena mie goreng yang selama seminggu ku makan tiga kali aku bisa jadi sebesar ini,” ujarnya sambil tertawa. Aku tahu dia bercanda meskipun itu sangat garing. Kalian tahu? Semenjak kunjunganku waktu itu, Noah jadi tergila-gila dengan mie goreng. Hahaha.
__ADS_1
“Eheemm...” Jacob berdehem memecahkan keakraban ku dengan Noah.
“Selamat datang Sir,” ucap Noah sambil melakukan gerakan penghormatan ala bangsawan.
“Aku sudah lelah, mengobrolnya lanjutkan di dalam mobil saja!” perintah Jacob tegas. Kenapa nada bicaranya berubah jadi tegas begitu, apa dia cemburu pada Noah? Yang benar saja.
Noah membukakan pintu mobil untuk kami, aku segera masuk kemudian disusul oleh Jacob.
“Jadi Noah yang sekarang menjadi asisten pribadi mu?” tanyaku mengulangi apa yang Noah katakan barusan. Katanya Noah menggantikan Thea yang sekarang akan segera menjadi istri Peter.
“Hemmm...” jawabnya singkat.
“Ckckck... dasar pencemburu,” bisik ku agar tidak terdengar oleh Noah.
“Aku tidak suka wanita milikku akrab dengan laki-laki lain!” jawabnya sambil berbisik pula.
“Dia bukan laki-laki lain. Noah adik sahabatku yang sudah aku anggap adik sendiri.”
“Dia laki-laki dewasa sekarang, berbeda dengan lima tahun yang lalu ...” baru saja aku akan menjawab tapi ku urungkan karena orang yang sejak tadi kami bicarakan angkat suara.
“Kalian seperti bocah! Aku masih bisa mendengar bisikan kalian tahu. Setidaknya kalau mau bergosip tentang aku, berusahalah agar aku tidak mendengarnya!” Noah menggeleng-gelengkan kepalanya di depan sana.
Aku dan Jacob langsung diam tidak melanjutkan lagi perdebatan kami.
__ADS_1
“Rumah utama apa rumah pribadimu Sir?” tanya Noah.
“Rumah ku saja!”