
Aku syok melihat seseorang yang sangat tidak disangka-sangka kini berada di hadapanku.
"Astaga Malinda! Kalian sedang asyik bercinta ya, sampai lama begini membuka pintunya!"
"SIAN!" teriakku sambil memeluknya dengan erat sekali. Biasanya dia akan datang saat musim liburan akhir tahun, sekarang masih di pertengahan tahun, tapi dia sudah ada disini. Agak aneh, tapi aku tidak peduli yang penting aku senang sekarang dia ada disini.
"Siapa yang dateng sayang? heboh banget," tanya max sambil berteriak dari dalam.
Sian melongokkan kepalanya, mencoba mengintip ke dalam ruangan. "Itu kekasihmu?" Tanya Sian, "Jadi benar apa yang di ceritakan Jacob, sekarang kamu sudah move on darinya?"
Aku membuka pintu lebar-lebar untuk Sian, mempersilahkannya masuk. "Ayo, aku kenalin sama Max!"
"Kalian tinggal satu kamar? Tadi aku udah ke kamar kamu di atas, tapi tidak ada yang membuka pintu. Terus tadi ada tetangga kamu keluar, dia bilang kamu ada disini, jadinya aku turun lagi deh," cerocos Sian sambil berjalan. Seperti biasa, Sian memang orang yang banyak bicara, hal ini juga yang aku rindukan darinya.
"Hai, aku Sian Morison. Sahabat sejatinya Malinda!" Sian langsung memperkenalkan diri begitu bertemu dengan Max. Dengan gayanya yang centil tentu saja, seperti biasa. "Namamu Max bukan? Tadi Linda udah bilang pas di depan." Tanpa di persilahkan dia sudah duduk di kursi kerjanya Max. "Tampan dan sangat imut, selaramu sudah berubah ya Lin?" Max cuma bengong, terlihat bingung bagaimana menanggapi Sian. Tentu saja dia bingung, Max belum terbiasa dengan Sian yang kalo ngomong selalu tanpa sensor dan selalu blak-blakan.
__ADS_1
"Sayang aku bawa Sian ke atas dulu ya," Aku pamit pada Max lalu menarik paksa Sian agar mengikuti ku. Bahaya kalo lama-lama disini, Max bisa kena serangan jantung. Bahaya kalau Sian sampai ngomong aneh-aneh di depan Max.
Aku mendorong Sian masuk, lalu buru-buru mengunci pintu, takutnya nanti Max tiba-tiba masuk saat aku cerita-cerita dengan Sian.
"Santai beb, ketakutan sekali sih kamu."
Aku menjatuhkan diriku di kasur.
Sian duduk sambil melipat kedua tangannya di dada. "Ceritakan! Sejak kapan kamu punya kekasih baru? ko ga bilang-bilang sih!"
"Kalau Jacob tidak bilang padaku, mana aku tau kamu sudah punya pacar baru. Aku pikir kamu bakalan melajang seumur hidup." Sian tertawa meledek.
"Jacob cerita? Ngomong-ngomong kenapa kamu datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan gini, tidak biasanya. Tumben juga ga minta jemput di bandara."
Sian memukul kepalaku dengan bantal, "Aku sudah ratusan kali telpon kamu tadi pas sampai di bandara tapi ponselmu tidak bisa di hubungi!" sewotnya.
__ADS_1
"Ah iya maaf. Ponselku tadi aku matikan, terus langsung aku tinggal pergi ke kamar Max," kilahku agar Sian tidak marah. Tapi memang benarkan, tadi aku sengaja mematikan dan meninggalkannya di kamar.
"Jacob menyuruhku datang!" Sian terdiam seperti menyadari sesuatu, lalu dia memukul mulutnya sendiri. "Aku datang kesini untuk menghadiri acara pesta lajangnya Thea dan Peter. Iya benar begitu?"
Aku mengerutkan kening, mengangkat alis sambil memicingkan mata pada Sian.
"Beneran ko, memangnya Thea belum ngabarin?" Aku menggeleng.
"Dia cuma minta aku jadi pengiringnya nanti pas acara pernikahannya." Seingat ku memang Thea belum pernah membahas soal pesta lajangnya deh.
Ponsel yang baru saja aku hidupkan tiba-tiba saja berdenting, suara email masuk.
Sekilas aku baca ternyata itu surat undangan dari Thea mengenai pesta lajangnya yang di laksanakan akhir minggu ini. Aku membacanya sekali lagi, kali ini lebih teliti. Pestanya di adakan di Bali.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1
(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و