
"Ssst...!" bisik nya di telingaku.
"Jangan berteriak honey. Ini aku...," kata seseorang yang ada di belakang punggungku.
Aku tahu betul milik siapa suara itu tanpa harus memandangnya. Setelahnya aku mulai tenang tidak panik seperti tadi.
Dia membalikan tubuhku menghadap kepadanya, lalu menyenderkan ku pada tembok. Kebetulan posisi kami ada di sudut ruangan di antara rak buku yang berjejer rapi ini.
"Kamu gila! Kenapa menyergap ku begini. Membuat jantungku hampir copot aja tau ga!" kataku kesal pada tindakannya yang mendadak ini. Aku berbicara dengan nada pelan namun tegas. Sedangkan sang tersangka cuma cengengesan saja menanggapi ku.
"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat saat melihatmu tadi ada di sekitar kampusku. Makanya aku mengikuti mu kesini," katanya menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya memutar bola mataku malas, aku tidak mau membalas ucapannya.
"Ada perlu apa disini?" tanyanya yang mulai penasaran.
"Yang pasti bukan untuk bertemu denganmu!" jawabku ketus. Entah kenapa aku masih sangat kesal padanya.
"Whoo... whoo... whoo... galak sekali," katanya yang mulai menyadari kekesalanku. Dasar laki-laki, tidak peka.
Aku mendorongnya agar menyingkir dari hadapanku. Aku sedang malas bertemu dengannya.
__ADS_1
Bukannya menyingkir, dia malah menekan tubuhku, menghimpitnya di antara tembok dan tubuhnya.
"Jacob minggir, aku harus pergi," kataku tegas. Sebenarnya aku ingin berbicara keras tapi tidak mungkin aku lakukan. Aku tidak ingin seseorang memergoki kami dalam posisi saling menghimpit seperti ini. Ingat Jacob salah satu pria most wanted disini. Aku tidak mau berurusan dengan wanita-wanita penggemarnya itu. Lagi pula ini di perpustakaan, aku bisa di usir dari sini kalo berisik.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku!" katanya berbicara tepat di depan wajahku. Asal kalian tahu, posisi kami saat ini sangat dekat, bibir kami sudah hampir bersentuhan.
"Bukan urusanmu! di manapun aku berada dan kemanapun aku pergi tidak ada urusannya denganmu," kataku ketus.
"Tentu ada! Kamu milik ku! Jadi aku harus mengetahuinya!" katanya tegas. Lalu dia mencoba mencium bibirku yang sayangnya ku tolak dengan cara memalingkan wajahku ke samping.
"Kamu marah padaku?" tanyanya dengan sedikit frustasi karena mendapat penolakan dariku. Aku tidak menjawabnya.
"Bicaralah! beritahu apa kesalahanku. Jangan tiba-tiba marah dan menolak ku begini." Aku tetap diam tidak mau menjawabnya. Biarkan saja dia berpikir sendiri, enak saja setelah berdekatan dengan wanita lain, main nyosor padaku begitu saja tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Lepaskan aku, kamu cium aja wanita itu!" kataku sambil mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya.
Jacob tidak menjawab ku, dia malah terkekeh. Menertawakan aku yang mungkin dia anggap konyol.
"Brengsek," kataku sambil memukul dadanya.
Jacob menghentikan tawanya, lalu dia memegang tanganku.
__ADS_1
"Jadi kekasihku ini sedang cemburu?" katanya sambil tersenyum menggodaku.
"Aku bukan kekasihmu, dan aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka saja kau mencium ku seenaknya begitu," kataku kesal.
"Masih belum mau mengaku?" katanya sambil mencolek hidungku.
"Iish, apaan sih. Lepaskan aku Jacob!" Aku risih dan makin kesal di buatnya.
"Tidak mau. Sikapmu yang seperti ini manis sekali. Aku senang kamu cemburu padaku," katanya sambil tersenyum.
Aku menarik tanganku, dan melipatnya di dada. Tanda aku sudah benar-benar kesal.
"Wanita tadi, namanya Shelby. Dia tau identitas ku dan dia juga mengenal keluargaku. Kami tumbuh besar bersama. Dia sedikit manja, dan sudah terbiasa dekat denganku begitu." Jacob menjelaskan dengan panjang lebar. Aku hanya menaikan sebelah alisku, karena jawaban itu tidak memuaskan untukku.
"Kami hanya teman, tidak lebih. Jangan marah lagi oke?" tambahnya lagi.
"Aku tidak marah dan aku juga tidak peduli, dengan si Shelby itu. Mau teman atau pun kekasihmu. Terserah, bukan urusanku!" jawabku masih dengan sedikit ketus.
"Ngomong-ngomong soal identitas, memangnya sepenting itu ya? sampai harus menyembunyikannya." Aku pura-pura tidak tahu soal identitas yang selama ini dia sembunyikan. Biarkan dia bercerita dengan sendirinya nanti jika sudah mau terbuka denganku.
"Teman wanita mu itu berarti sangat istimewa ya. Sampai kalian saling berbagi rahasia begitu," kataku telak membuat Jacob terdiam.
__ADS_1
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, dan vote nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil mengahalu author abal ini. Love you guys muach muach.!