
Aku menoleh ke samping. Mampus. Sejak kapan dia ada di kamarku. Kapan dia pulang. Aku panik, berpikir Linda berpikir. Bahaya jika ibu tahu kelakuan nakal ku disini, Bisa-bisa saat pulang nanti namaku sudah di coret dari kartu keluarga. Ah, aku punya ide.
"Laki-laki apa? Aku tidak melihat siapa-siapa ko. Aku kan tidur sendiri di sini bu." Ide bagus Linda. Aku akan pura-pura tidak melihatnya. Kita anggap laki-laki sialan itu setan saja ya.
"Masa kamu ga lihat sih? Serius kamu bener-bener ga liat?" kata ibu meyakinkanku. Aku menggeleng.
"Ibu jangan coba nakut-nakutin Linda deh, masa iya ada setan gentayangan di kamarku." Bagus Linda, akting mu sempurna. Kamu berhasil mengelabui Ibumu sendiri, hati-hati di kutuk jadi batu tahu rasa loh. Kata pergolakan batinku. Aku meringis berpikir seperti itu.
"Ibu ga bohong, Linda baca do'a neng. Ibu takut itu hantu laki-laki bujang yang ngebet kawin." Tawaku hampir saja tergelak, mendengar ibu menyebut Jacob hantu bujang yang ngebet kawin. Aku menahannya.
"Iya bu, Linda mau berdo'a dulu. Linda tutup telponnya ya bu. Linda mau kabur ke kamar sebelah. Linda jadi takut disini," kataku mendramatisir.
"Iya neng, Ibu bantu do'a-in kamu dari sini ya," kata Ibu dengan suara yang khawatir.
"Iya bu, assalamualaikum," kataku pamit.
"Waalaikum salam." Setelah mendengar salam ku di jawab, buru-buru aku tutup saluran telpon ini.
Huuuft , aku menarik nafas lega. Ibu mempercayai kebohonganku.
Mampus Linda! Hati-hati kualat!
Aku menoleh pada pria yang saat ini sedang tertidur nyenyak di atas ranjang ku. Jacob tertidur disana dengan damainya. Dia memang tidak mengenakan baju, hanya celana boxer nya saja yang menempel di tubuhnya saat tidur. Dia memang terbiasa tidur tanpa pakaian begitu.
Rasanya semua darah naik ke wajahku, mungkin kalo di film kartun saat ini dari telinga dan hidungku sudah keluar asap mengepul. Amarahku rasanya sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
Jeduuugh...
Gedebuugh...
Auuch...
Iya, suara gedebugh yang seperti karung beras yang jatuh itu adalah suara tubuh Jacob yang terjatuh karena aku tendang bokongnya. Dia meringis mengaduh.
"Kamu kejam sekali, kekasihmu baru pulang bukannya menyambutnya malah menendangku begitu," katanya menggerutu, sambil mengusap-usap bokongnya yang mencium lantai.
"Sejak kapan kamu ada di kamarku?" tanyaku kesal.
"Semalam saat aku datang kamu sudah tertidur. Aku sangat merindukanmu makanya tidur disini. Kemari beri aku pelukan," katanya manja.
"Kamu tau, hampir saja ibuku terkena serangan jantung karena melihatku tidur dengan laki-laki yang telanjang begini," kataku masih dengan berkacak pinggang.
"Ibuku orang Asia dengan pikiran kolotnya. Dia akan marah melihat anak perempuannya yang belum menikah sudah tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya begini," jelasku.
"Yasudah kita menikah saja kalo begitu, agar ibu mu tidak marah," dia berkata dengan entengnya. Dia pikir Ibuku sama seperti kebanyakan orang-orang tua di Eropa sini yang menganggap wajar melihat anak mereka tidur atau tinggal serumah dengan pacarnya.
"Tidak mudah menikah denganku Jacob," kataku sambil naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa tidak mudah, apanya yang sulit? Kalau kamu bersedia kita bisa menikah sekarang juga." Aku memutar bola mata, jengan dengan omongannya yang menggampangkan seperti itu.
"Kamu harus tau, jika ingin menikah dengan gadis muslim kamu harus masuk ajaran ku juga."
__ADS_1
"Tidak masalah," katanya masih meremehkan.
"Lalu, kebanggan mu itu harus di potong," kataku menakut-nakuti. Aku membuat gerakan tangan seperti memotong sesuatu.
"APA??? Yang benar saja!" Jacob syok mendengarnya. Dia memegangi Jacob juniornya itu dengan ngeri.
Tawaku meledak, "Bagai mana masih berminat menikahi ku?" kataku sambil tertawa terpingkal.
"Kamu pasti sedang mengerjai ku kan?"
"Tidak," kataku masih sambil tertawa.
"Kamu mengerjai ku," katanya sambil menggelitik perutku.
Kami tertawa bersama. Setelah lelah tertawa kami saling terdiam.
Lalu tiba-tiba saja Jacob menindih tubuhku. Dia memandang wajahku dan akhirnya kami berciuman.
"Aku merindukanmu," katanya di sela-sela ciuman kami.
Aku melihat ke arah bawah, di pahaku juga sudah terasa sesuatu yang mengganjal.
"Dia juga merindukan rumahnya," kata Jacob sambil tertawa.
Pagi yang mengejutkan ini, berubah menjadi pagi yang panas. Ya, aku juga merindukannya dan tubuhku juga merindukan sentuhannya.
__ADS_1
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, dan vote nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil mengahalu author abal ini. Love you guys muach muach.!