Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Isi Papper Bag


__ADS_3

Aku gugup jika terus berada di dekat Jacob seperti ini, lebih baik aku pergi dulu untuk menenangkan hati ini yang tidak karuan rasanya. Aku bangkit berdiri, berniat akan pergi untuk berdiam diri di kamar saja.


"Linda mau kemana? pestanya baru di mulai, makanan dan minuman kita masih banyak," intrupsi Sian menghentikan langkahku.


"Aku ganti baju dulu sebentar," kilahku. Setelahnya aku langsung pergi menuju kamar.


Aku menjatuhkan tubuhku di kasur empuk kesayanganku ini, setelahnya ku angkat kedua tangan untuk menyentuh pipiku yang rasanya sedikit menghangat. Padahal aku tidak minum alkohol tapi kenapa pipiku rasanya memanas ya.


Tidak, tidak, tidak. Aku menggeleng-gelengkan kepala, aku tidak mungkin menyukai Jacob kan. Iya benar, tidak mungkin. Aku hanya malu saja, iya benar begitu.


Tok... tok... tok....


"Ya masuk,"


Cklek....


Aku menoleh ke arah pintu, ku lihat Jacob berdiri di ambang pintu sembil menenteng dua papper bag bertuliskan Chanel dan Victoria Secret .


Sebenarnya aku sedikit kaget melihat dia disini, ku pikir tadi Sian atau Thea yang datang. Ternyata malah orang yang sejak tadi ada di pikiranku yang muncul. Aku sungguh tidak mengharapkannya ada disini, ini tidak baik untuk jantungku. Interaksi di antara kita berdua harusnya tidak boleh terlalu intens, akan sangat berbahaya, aku takut kejadian tadi malam terulang kembali. Itu tidak baik untuk hubungan pertemanan kita kedepannya.


"Ada apa?" aku beringsut, langsung mendudukkan tubuhku dengan tegak.


"Kemarilah, dan ambil ini!" dia menyodorkan kedua paper bag itu ke arahku.


Aku berdiri lalu menghampiri Jacob untuk mengambil ke dua paper bag itu.


"Apa ini? rasanya ulang tahunku masih lama deh." Jacob tersenyum menanggapi pertanyaan ku.


"Gaun dan underwear baru untuk mu, sebagai ganti yang semalam ku rusakkan." Pipiku langsung memerah mendengarnya mengatakan itu semua.


"Semalam aku sudah berjanji untuk meng--"

__ADS_1


" Stop! oke terimakasih. Silahkan kembali ke pesta mu." Aku tidak mau membahasnya lebih lanjut, lebih baik dia cepat pergi dari sini.


"Hey itu pesta kita berdua, untuk merayakan-- " belum sempat dia melanjutkan perkataannya aku sudah mendorong dia keluar dan menutup pintu dengan segera. Aku tau apa yang akan dia katakan, sialan sepertinya dia sama seperti Sian.


"Kau harus bergabung lagi dengan kami kalo tidak ingin di curigai," bisiknya dari balik pintu yang masih bisa ku dengar.


"Iya aku tahu." Setelah ku jawab akhirnya aku mendengar suara derap kaki yang melangkah menjauhi pintu kamar. Ku dudukan kembali tubuhku di kasur sambil membuka paper bag yang di berikan Jacob tadi, aku penasaran model baju seperti apa yang dia beli untukku.


Ceklek....


Pintu kamarku terbuka lagi, Jacob membukanya sedikit, dia berdiri di ambang pintu.


"Astaga!" Aku yang sedang melihat isi paper bag yang tadi di berikan oleh Jacob merasa kaget karena tiba-tiba pintu kamarku terbuka kembali, aku memang tidak menguncinya tadi.


"Oh iya, di dalam situ ada pil kontrasepsi darurat juga, semalam kita melakukannya tanpa pengaman. Kamu harus meminumnya segera jika tidak ingin hamil sambil kuliah. Aku sih tidak keberatan kalo kamu bersedia mengandung anakku sekarang, aku pasti akan bertanggung jawab ko," katanya sambil mengerlingkan mata menggodaku. Jacob sialan, aku melemparnya dengan bantal yang memang kebetulan ada di dekatku. Siapa juga yang mau mengandung anak nya.


Jacob hanya terkekeh lalu menutup pintu dan berlalu pergi lagi.


Ini menjadi pelajaran penting bagiku yang harus selalu ku ingat. Aku tidak boleh ceroboh, itu akan sangat membahayakan masa depanku juga hidupku.


Setelahnya aku langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera mengganti pakaian, aku mengganti bajuku dengan piyama tidur saja deh dan aku pilih yang menutupi leherku tentu saja.


Sebelum aku bergabung kembali dengan teman-temanku yang lain, aku pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil air putih dan menenggak pil yang tadi Jacob berikan, setelahnya aku kembali duduk di antara teman-temanku yang lain sambil mengunyah pizza yang baru saja ku ambil. Aku makan sambil menyimak semua yang teman-temanku bicarakan.


"Liburan musim panas ini kalian akan pergi kemana? Aku dan Linda akan pergi ke pantai." Sian tiba-tiba membeberkan rencana kami, membuatku mendelik kesal. Dasar si mulut ember.


"Kalian akan pergi ke pantai mana? ah iya, bagaimana kalau kita pergi bersama, kita berkemah saja, sepertinya akan seru? " ujar Jasen dengan sangat bersemangat.


"Jasen benar, berkemah di musim panas akan sangat menyenangkan. Kita akan menyalakan api unggun, mengadakan pesta BBQ lalu bernyanyi bersama. Pasti sangat menyenangkan," Thea menimpali, dia setuju dengan ide Jasen.


Sian melirik ku, menanyakan pendapatku dengan kode mata nya. Aku kurang setuju sebenarnya jika harus pergi dengan para pria, rencana awal ku untuk bersenang-senang bisa berantakan nanti.

__ADS_1


"Ide yang bagus, kita akan pergi berkemah di dekat pantai kalau begitu," Jacob memutuskan dengan seenak jidatnya. Tuh kan, rencana liburan musim panas ku tahun ini di pastikan terancam gagal.


"Bagaimana kalo ke pantai Blackpool Sands saja? pantai itu cocok untuk kita berkemah, disana kita bisa mendirikan tenda," ujar Jacob lagi memberi saran.


" Oke aku setuju, tapi aku akan mengajak pacarku ikut serta ya? kalian tidak keberatan kan?" dasar Sian sialan, di mengorbankan rencana kami berdua dan malah akan bersenang-senang dengan pacarnya.


"Aku sih terserah saja, kalo begitu kita semua sudah setuju ya dengan rencana ini. Tidak ada yang keberatan kan?" cerocos Jasen masih dengan antusiasnya, sekarang semua orang melihat ke arahku.


"Iya, iya. Aku setuju," aku menjawab dengan lesu. Memangnya jika aku menjawab tidak, mereka semua akan mendengar ku apa.


"Baiklah kalo begitu dua hari lagi kita akan berangkat, kita berkemah dua malam saja ya di sana," Jacob memutuskan. Di rumah ini dia sudah seperti leader kami, tanpa sadar kami juga selalu patuh pada setiap instruksinya . Benar-benar karisma calon pemimpin, iya benar dia memang salah satu pewaris perusahaan besar, sudah di pastikan menjadi calon pemimpin bukan. Tapi aneh nya setiap kami bertanya perusahaan apa dia tidak pernah mau menjawabnya dengan serius.


"Iya, iya terserah kalian saja lah," ujar ku lagi.


"Sebenarnya aku sangat ingin sekali pergi ke bali, tapi Linda menolaknya mentah-mentah. Katanya tahun depan saja, tahun ini dia ingin merasakan liburan disini," gerutu Sian.


Sian memang sangat antusias sejak awal tahu aku orang indonesia, dia terus merengek meminta aku mengajaknya ikut serta jika nanti aku mudik. Aku baru setahun disini jadi belum ingin mudik, lagi pula tiketnya kan tidak murah jika aku harus pulang setiap tahun jebol nih kantong.


"Aku juga ingin ke bali, musim panas tahun depan kita kesana ya," Jasen menimpali dan di acungi jempol oleh teman-temanku yang lain. Sakerepmu sajalah, aku menggerutu dalam hati.


Jasen menuangkan wine pada gelas kami, lalu mengajak kami semua untuk bersulang.


Aku mengambil gelasku dan ikut bersulang bersama, ini pertama kalinya aku minum wine rasanya manis, sedikit pahit menjadi satu. Lalu hangat saat melewati kerongkongan saat aku menelannya.


Aku melihat ke arah Jacob, dia memelototkan mata melarang ku untuk minum lagi. Aku tidak menggubrisnya, yang ada ku teguk habis sisa wine tadi sekalian. Maklumi saja aku tidak tau caranya menikmati minuman mahal ini, masa bodo lah toh aku sekarang ada di rumah dan bersama dengan teman-teman yang lain.


Sudah lewat tengah malam, kami sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Dan aku tentu saja mabuk seperti kemarin lagi, untungnya sebelum mulutku meracau tidak jelas Sian segera membawaku ke kamar. Sian tidak mungkin akan mabuk hanya karena segelas wine seperti ku.


__ADS_1


__ADS_2