
Penghuni kamar lain keluar. Wajar sih, orang ini ngomong seperti kompor meleduk, suaranya bisa bikin bayi tetangga yang lagi tidur jadi nangis jerit-jerit, sangking kencangnya.
Mbak Dewi penghuni kamar yang ada di sebelah tangga keluar dan bertanya tanpa suara padaku, 'Ada apa?' aku jawab hanya dengan mengangkat bahu.
Ini kos elit yang harganya lebih mahal dari kos manapun di sekitar sini. Dari awal kami memang membeli privasi. Kami tidak suka di campuri seperti ini. Tapi entah kenapa Ibu kos ini selalu rese kalau urusan dengan Max. Apa lagi pas awal-awal pindah Max suka keluyuran tanpa baju, tanpa dia sadar roti sobeknya bisa bikin emak-emak khilaf.
"Saya ga ngapa-ngapain ko bu, tanya aja sama Max."
"Mbak saya kasih tau ya, Laki-laki itu tergantung bagaimana perempuannya. Kalau Mbak jual mahal, mereka juga bakalan ngehormatin kita ko."
Aku menghela nafas panjang mencoba menahan amarah, sialan siapa sih yang ngadu segala sama nenek sihir ini.
"Jadi kalau Mbaknya bisa menjaga kehormatan, mas Max nya juga pasti--"
"Pasti apa bu?" Max yang baru keluar dari kamarnya sekarang berdiri di sebelahku, sambil menyenderkan badannya pada tembok tangga. Dia menatap ibu kos dengan senyum mematikannya. Membuat si ibu kos yang tadinya emosi langsung tersipu malu salah tingkah.
Para penghuni kamar yang tadi keluar langsung memutar mata lalu berbalik masuk ke kamarnya lagi.
"Eh mas Max, sudah pulang ya." Dia berbicara sambil tersenyum manja.
"Iya, tadinya saya mau tidur, tapi denger suara ribut-ribut disini. Ibu habis makan sambel merecon ya?"
Harusnya sih, kalo orang normal yang ngomong begitu pasti sudah di semprot habis sama Ibu kos ini. Tapi berhubung Max yang ngomong, yang ada dia malah senyum-senyum salah tingkah. Mana berani dia marah sama cowok ganteng dan hot ini.
__ADS_1
Wajah Ibu kos jadi merah, "Duh maaf ya, saya pergi dulu. Mas Max, Mba Linda," katanya sambil berlalu pergi meninggalkan kami.
Max tersenyum kepadaku dengan sombong,seolah dialah penyelamat hidupku. "Jahat banget dia," Max menggandeng tanganku. "Jangan di ambil hati ya, sayang."
"Max, kalau sudah bosen sama cewek ini, ke kamarku ya," kata Mba Siska penghuni kamar di ujung sana, dia berjalan melewati ku. Dia menepuk pantat Max sambil tertawa genit. "Cuekin aja tuh Mak Lampir, dia ho*rny liat cowok lo!" katanya sambil mengerlingkan mata padaku.
Aku tertawa hambar sambil berjalan menaiki anak tangga, ini bukan kejadian luar biasa sih bagiku. Aku sudah terbiasa melihat perilaku menyimpang penghuni kos dan ibu kos disini pada Max. Makanya Max selalu sembunyi di kamarku. Kalau di kamarnya sendiri, selalu ada saja cewek atau cowok yang mengetuk kamarnya yang meminta perhatian.
...****************...
"Linda, karena baju dan penampilanmu udah cantik banget begini, tampang mu juga harus bahagia dong. Muka kamu sekarang udah kaya tampang habis kena semprot atasan tau ga."
Max sekarang ada di kamarku, aku baru saja selesai berdandan dan bersiap untuk berangkat. Iya, sebentar lagi kami akan berangkat menuju makan malam dan pesta penyambutan bos besar itu.
"Max aku tidak siap, aku tidak ingin pergi. " Aku belum siap dan tidak ingin bertemu dengannya sekarang.
"Apa maksudnya ini?" kataku sambil memperhatikan jemari tanganku yang sudah terhias dengan cincin bermata tunggal yang baru saja max pakaikan.
Max mencium tanganku, "Ini untuk penanda, kamu sudah ada yang memiliki. Aku takut kamu di curi cowok lain," katanya sambil tertawa. Aku ikut tertawa dengannya.
"Terimakasih," kataku sambil mencium pipinya. Mungkin tanpanya hidupku pasti masih begitu-begitu saja. Selama ini dia yang selalu ada dan selalu menghiburku. Di balik sikap kekanakannya, dia sudah melakukan banyak hal untukku.
"I love you," katanya sambil memeluk kemudian melu*mat bibirku.
__ADS_1
"Oh astaga! Aku membuat lipstik mu luntur Linda," katanya lagi sambil tertawa.
Kamu tidak tahu Max bagaimana jadinya hidupkan sekarang jika aku tidak bertemu denganmu. Mungkin saja saat ini aku masih saja terpuruk dalam kesedihan.Kamu tidak tahu betapa aku harus berterima kasih kepadamu.
"Kita berangkat sekarang yu, bercintanya nanti saja... "
"Ish, mesum." Aku memukul pundaknya.
Dia tertawa sambil membimbingku keluar, dia yang mengunci pintu kamarku lalu menyelipkan kuncinya ke dalam tas ku.
Ibu kos sedang mengobrol dengan penghuni kamar yang ada di bawah saat aku turun, dia mengedipkan matanya pada Max tanpa melihatku sama sekali.
"Max, dia menggoda mu," kataku sambil tertawa geli. Max mengernyitkan dahi sambil bergidik ngeri, membuat aku semakin terbahak dan Max hanya mencebikkan bibirnya.
***
Acara makan malam ini, bukan acara pesta yang resmi. Acara itu di adakan untuk menyambut kedatangan bos besar kami yang baru. Jadi yang datang hanya orang yang berada di lingkaran dalam eksekutif perusahaan saja. Acaranya di adakan di ruang VVIP sebuah restoran mewah.
Jantungku berdebar kencang sekali. Max menggenggam tanganku lalu membawaku masuk kedalam. Warna lampu remang dengan dekorasi modern yang mewah menjadi pemandangan pertama yang ku lihat. Aku merasa tidak cocok disini. Entahlah, semenjak mengalami kejadian itu, sesuatu yang mewah membuat perasaanku tidak nyaman. Aku merasa tidak cocok berada di dalam sini.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1
Oh iya jangan lupa share cerita ini di media sosial kalian dan bersabar ya menunggu part selanjutnya. (๑˃̵ ᴗ ˂̵)و