Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Sulking!


__ADS_3

Dia tertawa. "Maaf aku sudah menganggu waktu tidurmu, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. I miss you so much. "


"Ish, sudah tau menganggu tapi masih meneleponku di jam segini." Aku menguap lagi. Hari ini aku sedikit lelah karena kemarin aku habis lembur.


"Aku kesal dengan jarak di antara kita ini. Kita cuma bisa bicara tanpa bisa saling menyentuh," gerutu Jacob.


"Bersabarlah, sebentar lagi kita ketemu ko." Aku tersenyum melihatnya seperti itu.


Dua minggu lagi Pernikahan Peter dan Thea di langsungkan, aku akan datang untuk menjadi Bridesmaids nya.


"Dua minggu itu sangat lama baby." Jacob cemberut.


"Berhenti menggerutu. Sekarang ceritakan bagaimana harimu?"


"Ah ada sesuatu yang menggelikan saat di kantor tadi." Wajah cemberutnya kini berubah ceria kembali.


"Kamu tahu tadi Thea ke kantor membawa Chese karena nanny nya sedang sakit."


"Oh ya, aku tidak sabar ingin bertemu dengan bocah imut itu ... ah, maaf lanjutkan ceritanya."

__ADS_1


"Tenang baby, kita juga bisa membuatnya kalau Kamu mau," katanya sambil mengangat alisnya naik turun menggodaku.


Aku memutar mata menanggapinya. "Lanjutkan ceritamu!"


"Ah iya. Kamu harus tahu, meski tampangnya imut tapi aku rasa anak ini dewasa sebelum waktunya. Bocah tiga tahun sudah pandai menggoda wanita. Saat di kantor tadi dia menggoda semua karyawan wanitaku. Dia benar-benar anaknya Peter, sudah tidak akan ada yang meragukannya lagi kalau melihat sifat genit nya itu. Bibit Playboy-nya sudah muncul di usia sedini ini." Jacob bercerita sambil tertawa. Aku ikut tersenyum saat melihat wajah cerianya.


"Ada yang lebih konyol lagi. Chese seharian ini menempel terus pada, Jessi sekertarisku. Dia mendeklarasikan bahwa dirinya akan menikahi Jessi. Semua orang yang melihatnya tidak berhenti tertawa seharian ini. Bocah itu sudah pintar memilih, dia sudah tahu wanita ****," Jacob tertawa geli sambil memegangi perutnya.


Tawanya berhenti karena melihatku terdiam, tidak berekasi dengan cerita yang menurutnya konyol itu.


"Baby, kamu masih disana? Hallo...,"


Aku berbicara dengan nada datar. "Aku tidak ingin mendengar cerita lucu mu lagi. Telpon saja sekertaris mu yang seksi itu. Bye!" Aku mematikan sambungan telpon kami. Siapa suruh pake memuji wanita lain di hadapan pacar sendiri.


Ponselku kembali berkedip dan suara deringnya menggema kembali. Foto Jacob terpampang lagi di layar ponsel segi empat itu.


Aku tidak mau mengangkatnya. Aku mengubah kembali ke pengaturan silent seperti biasa. Biarkan saja dia kelabakan disana. Ku biarkan saja ponselku tergeletak di kasur, layarnya tidak berhenti berkedip sejak tadi.


Ku sudahi acara memperhatikan layar ponselnya, sekarang lebih baik aku mandi dan bersiap untuk pergi kekantor.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap aku bergegas mengunci pintu kamar. Tadi aku sempatkan untuk sarapan setangkup roti dan juga segelas susu. Jangan sampai memulai hari tanpa sarapan, agar kuat menghadapi realita hidup ini sampai jam makan siang nanti datang.


Saat menuruni tangga, aku melihat Max yang juga baru keluar dari kamarnya. Dia sedang mengunci pintu.


Max melihat ke arahku, "Berangkat bareng?" tanyanya sambil tersenyum.


"Apa tidak apa-apa?" jawabku dengan ragu. Aku masih sungkan dan merasa tidak enak padanya.


"Hey, ga usah pasang tampang aneh kaya gitu deh. Kita bukan musuh. Walaupun aku bukan pacar kamu lagi. Setidaknya kita masih teman bukan?" katanya sambil bercanda.


"Ah iya, kamu benar ... kita teman, iya sekarang kita berteman." Aku tersenyum canggung.


"Ayo!" ajaknya sambil tetap tersenyum.


Aku duduk di mobilnya, Max membungkuk memasangkan sabuk pengaman ku. Aku membeku, tubuhku kaku.


"Maaf, udah kebiasaan. Tubuhku bergerak sendiri," katanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Max! come to mama, sini nak. Rasanya jadi pengen peluk Max dengan erat deh. Ngenes banget nasibnya. Jadi meras bersalah udah nyiksa dia begini. Duuh jadi pengen sun. Ehh


__ADS_2