
Aku melihat ke arah Max yang saat ini sedang mengobrol akrab dengan teman-teman ku. Sudah aku bilang bukan Max itu bisa akrab dengan mudah dengan siapa saja. Begitulah Max, laki-laki ceria yang bisa mencairkan suasana di manapun dia berada. Sifatnya sangat berbanding terbalik dengan Jacob.
Aku khawatir akan hubunganku dengan Max kedepannya. Sekarang Jacob sudah semakin berani. Di saat ada Max begini pun, tanpa rasa takut dan juga tanpa ragu sedikitpun dia berani memegang tanganku. Kedepannya apa lagi yang akan dia lakukan padaku. Aku menarik nafas berat. Sepertinya aku butuh ruangan yang lebih leluasa untuk aku bisa menghirup nafas dengan santai. Aku harus menyingkir sejenak dari sini.
Aku bangkit berdiri, dengan terpaksa genggaman tangan Jacob pun terlepas.
"Aku butuh ke toilet dulu sebentar. Kalian enjoy aja, lanjutin ngobrolnya." Aku mengusap pundak Max, memberi isyarat kalau aku baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Setelah bertanya arah letak toilet pada pramusaji yang ku temui tadi, aku mengikuti petunjuk darinya dan kini aku menemukan sebuah lorong.
"Kata pramusaji tadi toilet ada di lorong kan ya? Akh, itu dia," gumam ku yang berbicara sendiri. Sebelum mendorong pintu toilet aku mendongak, melihat tulisan di pintu, tertulis Women dengan gambar yang melambangkan kaum perempuan.
__ADS_1
Restoran mewah memang beda ya, toiletnya pun terlihat mewah juga. Meskipun aku berada di toilet, tapi rasanya nyaman sekali, tidak ada bau tidak sedap sama sekali, malah di sini di dominasi oleh aroma lemon yang segar.
Interiornya di dominasi dengan warna gold dan hitam, dindingnya menggunakan marmer coklat, di tambah lampu yang temaram. Kenapa lampunya tidak di buat terang saja sih, komentar ku dalam hati.
Aku tidak memperhatikan interior lagi, aku langsung pergi ke salah satu bilik untuk pipis. Karena tegang aku jadi banyak minum tadi, kantung kemih ku penuh sekali dan akhirnya aku meras lega sekarang setelah menuntaskan semuanya.
Aku keluar lalu segera menuju wastafel, untuk mencuci tangan.
Saat aku mendongak melihat cermin, sekilas aku melihat seseorang di belakangku. Aku memperjelas lagi pandanganku, ku perhatikan cermin di hadapanku ini dengan seksama. Aku melihat Jacob sedang berdiri angkuh sambil bersandar pada pintu kamar mandi dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Jacob, kamu tidak bisa berada disini, lebih baik cepat keluar sebelum ada seseorang yang memergoki kamu salah masuk toilet wanita." Jacob tidak pergi, dia malah melangkahkan kakinya kearah ku sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," kata Jacob tiba-tiba saja memelukku. "Aku marah, aku sangat kesal saat melihat laki-laki itu dekat-dekat denganmu."
Makanya jangan lihat aku.
Semenjak aku tahu semua kebohonganku sudah terkuak, aku tidak bisa lagi berbuat kasar padanya. Rasa bersalahku akan semakin tinggi kalau aku melakukanya.
Aku mendorongnya pelan, mencoba melepaskan diri meskipun hasilnya sia-sia. Dia tidak bergeming sedikitpun.
"Jacob ini kamar mandi, orang bisa masuk kapan saja." Aku melirik gusar ke arah pintu, takut tiba-tiba ada seseorang yang masuk.
"Tenang saja aku sudah menguncinya." Aku mengernyitkan kening, karena heran. "Apa kita pindah ke kamarku saja supaya lebih leluasa. Tinggal naik lift sebentar langsung nyampe ko."
__ADS_1
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!