Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Starving


__ADS_3

Aku tidur di kamar yang sama dengan Sian, Sebenarnya kami di sediakan kamar yang terpisah, tapi aku tidak mau tidur sendirian.


Saat makan malam tadi, Teresa bilang kalau besok dia akan mengajak kami untuk berbelanja keperluan pesta lusa nanti. Dia benar-benar baik dan sangat menyenangkan. Aku jadi teringat ibuku, aku merindukannya. Sebenarnya aku ingin menelpon tapi tidak mungkin karena disini saat ini sudah jam 22.00 pm yang artinya di Indonesia sana mungkin bru dini hari atau masuk waktu subuh.


Kruyuuuk...


" Sian, aku lapar. " Aku mencolek punggung Sian yang sedang membelakangi ku sambil mendengarkan musik. Sepertinya dia sudah bersiap akan tidur.


" Ini sudah malam, kamu mau besok pagi perutmu membuncit, " kata Sian berceramah. Lapar begini ceramah Sian tidak akan mempan padaku.


Tadi kami makan malam jam 18.00 pm, makanya jam segini aku sudah lapar lagi. Lagi pula tadi taku tidak makan nasi, hanya makan daging-dagingan dan juga kentang panggang. Mana mungkin aku menemukan nasi di kelurga ini. Bagiku yang orang Indonesia sejati ini, belum makan nasi sama dengan belum makan. Seharian ini aku memang belum makan nasi. Di tambah cuaca yang dingin begini membuat ku cepat lapar, makan mie adalah pilihan yang paling cocok untuk saat ini bukan.


Di saat musim dingin begini, malam di Inggris menjadi lebih panjang. Jam empat sore sudah mulai gelap disini, sedangkan matahari mulai terbit lagi sekitar jam delapan pagi.


" Tapi aku kalo lapar jadi tidak bisa tidur, antar aku ke bawah please. "


" Aku sudah mengantuk, lagi pula mau cari makan kemana? Mau menggeledah isi kulkas rumah orang malam-malam begini? "

__ADS_1


Aku turun dari kasur dan membongkar tasku untuk mencari sesuatu.


" Tada... " kataku sambil memamerkan tiga bungkus Indomie goreng kesukaanku. Sebagai mahasiswa dan penghemat sejati, kemanapun aku pergi selalu ku selipkan indomie dalam tasku.


" Tidak tidak, aku tidak mau. Silahkan menggendut sendirian, " kata Sian sambil menarik selimut. Sian tega sekali, batinku sambil menycebikkan bibir. Aku lupa Sian sangat menjaga penampilannya, mana mau dia makan mie sebelum tidur begini.


Mau tidak mau akhirnya aku pergi ke dapur sendirian.


Aku keluar dari kamar, lalu menyusuri lorong kemudian turun dari tangga. Aku menempati kamar yang ada di lantai dua. Malam-malam begini ko jadi terasa seram ya, suasananya sunyi di tambah bangunan rumah ini bergaya klasik, yang nuansanya jaman dulu sekali.


Bagaimana tidak sepi, rumah sebesar ini hanya di huni oleh 4 orang, para asisten rumah tangga datang saat pagi dan pulang di saat jam makan malam telah usai. Di sini yang memiliki asisten rumah tangga tuh hanya orang-orang tertentu yang punya kelebihan uang saja, karena biayanya sangat mahal dan pembayarannya di hitung per 1 jam kerja. Makanya hampir tidak ada asisten rumah tangga yang menginap, kecuali memang keluarganya kaya sekali.


" Tadi ruang makan ke sebelah sini, berarti dapurnya tidak jauh dari sini dong ya, " gumam ku pelan.


Aku sekarang berada di ruang makan tempat kami makan malam tadi.


Aku melihat ke kanan dan ke kiri, tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang ada sebuah lorong.

__ADS_1


" Aku coba ke sana deh, "


Aku membuka salah satu pintu, " Ah benar, akhirnya aku menemukannya. " Aku tersenyum kesenangan seperti telah menemukan harta karun saja.


Aku mengusap perutku sambil berkata, " Tenang bayi-bayi cacing ku. Sebentar lagi mommy akan memberimu makanan, " aku berkata sambil mengusap-usap perut menirukan orang hamil menenangkan bayinya. Sayangnya saat ini aku hanya mempunyai bayi cacing di perutku yang sejak tadi sedang berdemo rusuh meminta makan. Alias aku kelaparan.


Tidak mau membuang-buang waktu lagi, aku segera mengambil peralatan dan mulai memasak indomie goreng kesukaanku.


Aku masak sambil bersenandung kecil, untuk mengusir rasa takut karena suasana sunyi ini.


" Apa yang sedang kamu lakukan? " Tiba-tiba ada suara berat dari seorang pria yang mengagetkanku dari belakang.


" Oh astaga ... " Hampir saja aku menumpahkan mie di tanganku. Karena saat ini aku sudah hampir selesai dan sedang membuang air panas pada wastafel lalu setelahnya menuangkan mie kedalam piring.


Noah datang secara tiba-tiba, aneh sekali aku tidak mendengar suara langkah kakinya yang sedang berjalan tadi.


__ADS_1


Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!


Oh iya jangan lupa share cerita ini di media sosial kalian dan bersabar ya menunggu part selanjutnya. (๑˃̵ ᴗ ˂̵)و


__ADS_2