
itu adalah percakapan terakhir kami selama dalam perjalanan ini. Aku lebih memilih melihat keluar jendela memperhatikan pemandangan kota yang sudah lama tidak aku lihat.
Mobil berhenti didepan rumah mewah yang bangunannya di dominasi oleh kaca dan tembok berwarna abu-abu. Kami masuk dan koper-koper milik kami dibawakan Noah dan ada salah satu asisten rumah tangga Jacob yang bergegas keluar membantu Noah.
Aku memperhatikan ruangan-ruangan yang berdisain minimalis tapi tetap dengan perabotan-perabotan yang bermerk.
“Bagaimana?” tanya Jacob.
“Apa?”
“Rumah ini. Kamu suka tidak?” tanyanya lagi.
“Bagus. Suasananya nyaman, aku suka.” Aku menjawab masih dengan mata yang memindai sekitar.
“Yakin, kamu beneran suka?” aku mengangguk. “Ekpresi wajahmu biasa saja, kalau kamu tidak suka kita bisa membangun rumah baru dengan model sesuai keinginan mu.”
“Apaan sih, kita belum menikah. Rumah ini sudah sangat bagus ko.”
“Aku akan menikahi kamu secepatnya, bila peru setelah acara pernikahan Peter aku akan langsung menikahimu,” ucapnya dengan yakin.
__ADS_1
“Kamu belum bertemu dengan orang tuaku, jangan terlalu percaya diri mereka akan menerima kamu,” ucapku sambil tertawa.
“Kalau mereka menolakku aku akan bawa lari anaknya lalu akan aku buat dia mengandung anakku,” jawabnya sambil tertawa lebar.
-------------*******-----------------
Dua hari lagi pernikahan Peter dan Thea dilaksanakan jadi malam ini diadakan acara makan malam keluarga besar Jacob. Aku sudah siap dengan gaun malam dan juga dandanan yang sedikit wow. Jacob mendatangkan MUA dan penata gaya untuku. Mungkin dia takut aku berdandan seadanya kali ya, masa bodoh dengan alasannya yang pasti sekarang penampilanku sangat luar biasa. Aku bisa berjalan disebelah Jacob dengan percaya diri.
Kami baru sampai di rumah besar tempat kediaman keluarga besarnya lalu segera memasuki ruang makan yang luasnya mungkin sebesar aula.
“Linda, kamu sudah datang.” Kimberly menghampiri kami lalu memeluk dan menempelkan pipi kami bergantian. “Kamu semakin cantik saja,” lanjutnya lagi.
Kemudian Jacob menarik tanganku dan membawaku kehadapan ibu dan kakak perempuannya.
Mereka menyambutku dengan ramah terutama Abigail, ibu Jacob. Dia menyambutku dengan tangan terbuka.
“Oh, ya ampun. Syukurlah kamu mau kembali pada Jacob. Terima kasih, sayang,” ucapnya sambil mencium pipiku.
“Linda, untung kamu kembali padanya, kalau tidak Jacob akan terus menjadi pria mengerikan dan menyedihkan!” Ucap Joana, kakak perempuan Jacob.
__ADS_1
“Joana, tutup mulutmu!” Jacob melotot kearah Joana.
“Memang benar adanya kan—“ Joana menghentikan ocehannya karena kedatangan wanita tua yang dulu pernah menyuruhku pergi dari kehidupan Jacob.
“Berhenti mengolo-ngolok adikmu itu, Joana.” Ucap Wanita Tua itu.
“Lama tidak berjumpa, Malinda.” Dia memelukku. “Maafkan aku karena dulu sudah mengacaukan hidupmu,” ucapnya terlihat tulus. Tapi aku masih belum berreaksi. Aku harus membaca situasinya dulu, dia benar-benar tulus atau memiliki maksud lain.
“Tidak perlu tegang begitu, sekarang aku merestui kalian. Kebahagian cucuku yang utama bagiku sekarang. Aku harap kamu akan selalu membuatnya ceria seperti sekarang ini, sudah cukup hidupnya suram selama lima tahun kebelakang.” Dia berbicara panjang lebar.
“Anda sendiri yang membuat hidupnya suram,” gumam ku. Nenek menoleh kearahku lalu tersenyum kecil pandangan matanya seolah menerawang ke masa-masa itu.
“Ya, kamu benar. Sekarang aku sudah sadar dan berharap kamu bisa memaafkan nenek tua ini.” Ucapnya sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tentu saja aku sudah memaafkanmu,” ucapku lalu memeluknya erat. Kami saling berpelukan menandakan gencatan senjata dan tanda damai.
“terimakasih,” bisiknya.
Setelah acara maaf-maafan itu acara utama di mulai. Kami semua makan malam dengan suasana meriah.
__ADS_1