
"Kebetulan teman kami yang lain sedang ada di sini juga," kata Sian sambil mengedipkan mata.
"Jangan bilang kalau kita mau ketemuan sama--"
"Yes beb! Tepat! Apa yang ada di otamu benar."
"Siapa? Apanya yang tepat, Linda belum menyebutkan nama siapapun," tanya Max dengan heran.
Sian tertawa. "Kami ini sahabat sejati, tampan. Kamu belum tau ya, kalau yang namanya sahabat itu bisa saling mengerti apa yang akan di bicarakan meskipun baru melirik satu sama lain tanpa perlu mengucapkan kata-kata."
__ADS_1
"Mana ada yang seperti itu," kilah Max.
"Ada lah! Kami buktinya." Tawa Sian kembali meledak. Sedangkan aku, sekarang bukan pakaian lagi yang aku pikirkan, tapi aku memikirkan orang yang akan kami temui. Sian ini, benar-benar ya, baru saja datang sudah akan menciptakan suasana tidak enak untukku. Aku kepikiran bagaimana harus bersikap disana nanti. Aku takut melukai hati Jacob lagi, dan aku juga takut ketahuan oleh Max mengenai siapa Jacob untukku yang sebenarnya. Seharusnya aku jujur sejak awal, tapi aku sudah terlanjur ngomong tidak mengenal Jacob pada Max sebelumnya. kalau aku jujur sejak awal mungkin tidak akan seribet ini. Sekali berkata bohong, berikutnya kita akan mendatangkan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Kami sudah sampai sejak tadi, beberapa pasang mata memandangku dengan aneh, mungkin karena busana yang aku kenakan ini. Awalnya aku risih tapi ada yang membuat aku lebih risih lagi ternyata, posisi duduk kami. Sekarang aku duduk dengan kaku di antara dua laki-laki. Kalian pasti bisa menebaknya bukan?
Pasti ada konspirasi disini yang sengaja mereka rancang. Aneh sekali, pertama Peter yang datang kemudian Sian juga tiba-tiba datang. Akhir pekan ini Peter dan Thea mengadakan pesta lajang secara tiba-tiba juga. Aneh sekali bukan, terlalu banyak yang tiba-tiba nya. Beberapa hari ini kami kan selalu bertemu, tidak ada tuh sedikitpun Thea menyinggung tentang pesta lajang.
"Linda kamu harus ikut, aku tidak mau tahu pokonya. Max kau mengijinkannya bukan? Aku juga mengundangmu. Kalian harus datang! Tidak ada penolakan!" tutut Peter.
__ADS_1
Max tertawa canggung. "Aku sih terserah Linda, kalo dia mau tentu saja aku mengizinkan." Max mengusap rambutku lalu berkata lagi, "Aku kan selalu bilang kamu itu butuh piknik. Kasian teman-teman kamu tuh udah dateng jauh-jauh kalo kamu tolak."
Max, kamu tidak mengerti. Aku menolak karena aku tidak ingin ada di situasi seperti sekarang ini, berada di antara kalian berdua yang membuatku serba salah. Jauh di dalam lubuk hatiku ada ruang yang di penuhi oleh kenanganku dengan Jacob yang selama ini berusaha keras aku kunci. Aku takut bila terlalu banyak interaksi dengannya, dia bisa membukanya lagi. Aku takut menyakitimu. Aku tidak ingin membuat orang lain terluka lagi.
"Malinda! Aku rindu liburan bersama denganmu lagi seperti dulu. Kumohon jangan banyak alasan untuk menolak." Sian menyatukan kedua tangannya sambil memasang ekspresi wajah puppy eyes.
"Aku bisa apa kalau sudah begini, baiklah aku ikut." Aku mengangkat kedua bahu. Semua orang tertawa senang mendengar keputusanku. Terutama laki-laki yang duduk di sebelah kiri ku ini. Diam-diam dia memegang jemari tanganku yang aku letakan di paha sejak tadi. Diam-diam Jacob menggenggam jemariku di bawah meja sana, dia meremasnya kuat saat aku memutuskan untuk ikut acara itu. Aku sudah berusaha melepasnya, tapi dia menggenggam tanganku dengan erat. Aku tidak mungkin protes karena ada Max di sebelahku. Saat aku sudah tenang dan tidak berusaha melepaskan tangannya, dia mengusap-usap lembut punggung tanganku dengan ibu jarinya.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1