
Dari kejauhan aku melihat Jasen dan Stevan yang sedang bersiap menyusun kayu bakar untuk di jadikan api unggun. Aku buru-buru melepaskan tautan tanganku dengan Jacob karena takut ketahuan oleh teman-teman ku yang lain. Tapi Jacob malah menahannya, genggaman tangannya semakin erat.
"Jacob lepaskan, aku tidak mau mereka salah paham dengan hubungan kita." Dengan susah payah, akhirnya genggaman tangannya lepas juga. Jacob menghentikan langkahnya dan otomatis aku pun ikut terdiam juga.
"Kenapa memangnya, kamu malu jika mereka tahu kita berhubungan?" Jacob bertanya dengan sebelah alis yang terangkat dan mata yang menyipit.
"Bukan begitu Jacob, Aku kan sudah bilang, kita tidak memiliki hubungan apapun. Hanya teman, ingat?" Jacob mendengus terlihat tidak suka dengan jawaban yang aku berikan.
"Hanya teman? mana ada teman yang mengetahui rasa tubuh masing-masing hemm, " smirks Jacob.
Aku tertohok dengan jawabannya. Memang benar juga sih apa yang dia bilang, tapi kan ini tuh Eropa gitu loh, masa iya dia mempermasalahkannya. Yang ada aku kan sebagai wanita yang di rugikan disini. Rasanya laki-laki yang ada di bagian asia timur seperti daerah asalku saja pasti tidak akan banyak cingcong dan malah senang jika dapat mencicipi tubuh wanita perawan secara cuma-cuma begitu. Dasar pria aneh, pikirku.
"Malam itu adalah sebuah kesalahan, aku mabuk saat itu," cicit ku pelan karena takut Jacob tersinggung.
"Kesalahan? tapi kau sadar saat melakukannya denganku waktu itu. Aku tidak memaksa dan kita menikmatinya bersama, ingat?" Secara otomatis ingatanku melayang pada malam panas yang kami lalui saat itu. Aku menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan pikiran kotorku gara-gara teringat kejadian itu.
__ADS_1
"Mulai malam itu kau sudah menjadi milikku!" klaimnya tegas.
Hey kenap jadi seperti ini, sepertinya aku melakukan kesalahan menghabiskan malam pertamaku dengannya. Memang benar ya ternyata dalam setiap hal apapun jangan pernah menyamaratakan semua orang, karena pasti diantaranya ada beberapa persen yang berbeda. Dan sayangnya aku sial atau malah beruntung bertemu dengan pria yang termasuk spesies langka ini, sikapnya tidak sesuai dengan kebanyakan orang yang tinggal satu habitat dengannya. Masalahnya untuk saat ini aku masih ingin menikmati masa mudaku tanpa terikat hubungan dengan satu pria manapun, akan sangat merepotkan, batinku.
"Kenapa seperti itu? bukannya sudah hal yang lumrah ya disini melakukannya tanpa ada ikatan hubungan apapun," aku protes tentu saja.
"Bagi orang lain mungkin begitu, tapi tidak untukku yang baru pertama kali melakukannya" jawabnya cepat. Setelah Jacob mengatakan itu terjadi keheningan di antara kami.
"Phuuuuft...." Aku menutup mulutku karena tidak tahan menahan tawa yang akan segera meledak. Apa katanya tadi? baru pertama kali melakukannya katanya. Sungguh aku tidak mempercayai itu.
"Hey, kenapa kamu tertawa? itu melukai harga diriku tau." Jacob memberengut kesal.
"Bercanda mu tidak lucu Jacob, kau pikir aku percaya."
"Aku tidak bercanda, kau sungguh yang pertama bagiku." dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Karena itu kau harus bertanggung jawab," lanjutnya dengan sedikit merajuk.
"Apa? bertanggung jawab apa maksudmu?" Aku syok mendengar penuturannya dan juga merasa sedikit aneh melihatnya merajuk seperti itu. Aku terbiasa melihatnya yang selama ini cool dan tegas jadi aneh saja melihatnya begitu. Apa ini yang di maksud dengan kata orang, sesangar-sangarnya laki-laki jika sedang bersama wanita yang dicintainya akan keluar sifat manjanya juga. Tunggu dulu, di antara kami berdua kan tidak ada cinta. Ah, aku tidak mau besar kepala dulu mungkin di balik sifat dinginnya itu memang ada sifat manjanya juga.
"Kamu sudah mengambil keperjakaanku, jadi harus bertanggung jawab selamanya terikat denganku. Setelah lulus kuliah nanti kita menikah oke!" Aku hanya terbengong mendengar cerocosnya yang panjang itu.
"Kenapa jadi kamu yang minta pertanggung jawaban, keperawanan ku juga kan kamu yang mengambilnya. Kita impas dong seharusnya," protes ku. Lagi pula aku tidak percaya, mana mungkin aku yang pertama baginya. Saat dia meniduri ku kemarin rasanya dia sudah seperti pro dalam melakukannya.
"Maka dari itu, kita harus menikah." Jacob memutuskannya nya sebelah pihak.
Aku menatapnya sengit, sedangkan dia memasang senyum di wajahnya. Menyebalkan pikirku.
"Tidak bisa seperti itu dong, pokonya aku tidak mau titik."
"Kau tidak bisa menolaknya!"
__ADS_1
"Tidak mau, tidak mau, tidak mau...." aku menutup telinga dengan kedua tanganku sambil melengos pergi meninggalkannya. Jacob tertawa sambil berjalan mengekoriku dengan kedua tangan yang di masukan kedalam kantung celananya.