
"Linda," Max mengusap pipiku. "Bangun sayang, kita udah sampe." Aku menguap lebar. Tidak ada kata jaim bagiku di hadapannya, jangankan nguap kentut pun kami sudah biasa melakukannya. Entahlah, Max itu pacar rasa sahabat. Tidak ada kata jaim di antara kami. Aku sudah hapal dengan semua kebiasaan buruknya, begitupun dia padaku. Aku nyaman bersamanya.
Setelah pulang kerja tadi kami mampir ke tempat makan dulu, dengan perut kenyang dan tubuh yang lelah karena aku kerja lembur hari ini, jadinya begitu duduk di kursi mobil aku langsung ketiduran.
Max merapihkan anak rambutku, menyelipkannya ke balik telinga. "Lelah?" tanyanya. Aku mengangguk.
Dia menatap mataku lalu menangkup pipiku dengan kedua tangannya yang terasa dingin, mungkin karena terlalu lama terkena AC mobil. Kemudian dia semakin mendekatkan wajahnya, dia mencium bibirku dengan lembut sekali dan sangat hati-hati. Tidak lama dia melepaskan bibirnya. Hanya ciuman singkat, dia terlihat salah tingkah.
Ini ciuman pertama kami, dan aku tidak menolaknya.
Kami berdua terdiam, aku tersenyum karena melihat kegugupannya, manis sekali pria ini. Mungkin dia takut aku marah, karena dia dengan tiba-tiba menciumku begitu. Aku jadi gemas dengannya yang seperti ini. Kemudian dia mulai memundurkan wajahnya tapi tidak jadi karena aku menahan tengkuknya.
Aku menciumnya. Aku menciumnya karena gemas dengan sikapnya yang malu-malu begitu. Dia memang pria dewasa, tapi sejauh yang ku tau saat mengenalnya, dia itu sangat manja dan kekanak-kanakan sekali. Katanya aku ini pacar ketiganya. Masa mudanya di habiskan dengan belajar, dia lebih memilih berkencan dengan angka-angka itu dari pada mencari kekasih. Jadi pengalamannya berpacaran sangat minim sekali. Makanya dia senang sekali saat aku mengatakan kalau dia adalah pacar keduaku. Tidak tahu saja dia, sejauh mana yang sudah ku lakukan dengan pacar pertamaku dulu.
__ADS_1
"Linda, kamu ko bisa ciuman kaya begitu?" Wajahnya merah, terkejut sekaligus terkesan dengan ciumanku.
Aku tersenyum lebar, "Aku ini berbakat dalam hal apa saja," kataku sambil mengerlingkan sebelah mataku.
Jacob yang mengajarkanku dulu.
Kami turun dari mobil lalu berjalan menuju kamar kami masing-masing, senyuman bahagia masih tersungging di bibirnya. Max sudah masuk ke kamarnya sedangkan aku masih harus berjalan sedikit dan menaiki tangga untuk sampai di kamarku. Kamar Max ada di bawah sedangkan kamarku ada di lantai dua.
"Mbak Linda"
Apa lagi sih, aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Seingat ku, aku sudah membayar uang Kos bulan ini deh, ada urusan apa lagi coba. Biasanya wanita gendut berisik itu akan ribut kalau ada yang nunggak bayar kosan aja deh.
"Kenapa Bu?"
__ADS_1
"Mbak, kemarin mas Max tidur di kamar Mba, ya?"
Astaga! Masalah ini?! Yang benar saja. Setauku Selly penghuni kamar sebelah yang hampir setiap minggu membawa pacarnya menginap saja, dia tidak pernah peduli deh.
"Iya Bu, kemaren Max lihat pintu kamar saya tidak dikunci, jadi dia masuk deh terus kunci pintu dari dalam."
Dia menarik nafas berat, beberapa butir keringat menetes di dahinya. "Gini ya Mbak, kos ini punya aturan. Biar kata penghuninya cowok-cewek, tapi ngak boleh ada macem-macem. Nanti bisa di gerebek RT."
"Iya Bu saya paham, saya udah bilang juga sama Max." Iyain aja, karena aku malas ribut. Sabar, sabar Linda, aku mengelus dada.
"Lagian kenapa sih Mba jadi cewe murahan amat. Mau aja di apa-apain sebelum nikah." Kata-katanya membuat sebelah alisku terangkat dan hatiku tertohok.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1
Oh iya jangan lupa share cerita ini di media sosial kalian dan bersabar ya menunggu part selanjutnya. (๑˃̵ ᴗ ˂̵)و