
"Maafkan aku, aku ...,"
"Jangan meminta maaf, aku tahu keadaanmu saat itu mungkin sangat kacau," kata Kimberly sambil tersenyum.
"Aku sangat mengenal Max, dia pria yang baik. Tapi aku yakin Jacob tidak akan membiarkan kalian bersama lebih lama lagi."
"Ya, aku tahu. Aku juga takut sekali Jacob akan berbuat yang tidak-tidak pada Max."
"Kamu tenang saja, Jacob tidak mungkin sekejam itu ... . Ayo kita kembali, sudah lumayan lama kita disini." Aku mengangguk lalu kami bangkit berdiri, pergi meninggalkan tempat ini.
Dari jauh aku melihat sorak sorai orang-orang. Saat sudah semakin dekat aku melihat Jacob dengan Max seperti sedang melakukan suatu perlombaan.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" gumamku.
"Sepertinya mereka sedang sama-sama menunjukan siapa yang terkuat satu sama lain," jawab Kimberly sambil bergumam juga.
__ADS_1
"Ada apa dengan mereka?" tanyaku pada Sian saat aku berhasil membelah kerumunan yang sedang menyoraki mereka.
"Aku tidak tau awal mulanya, tapi mereka terlihat bersaing satu sama lain dan mulai memesan banyak minuman, lalu beginilah mereka sekarang."
Max terdengar mulai meracau. "Kau mungkin memiliki segalanya, tapi aku tidak akan membiarkan Linda kembali padamu begitu saja." Max berteriak, lalu meminum kembali gelas besar yang berisi cairan kuning dengan gelembung kecil di dalamnya.
Jacob tertawa dengan keras, lalu berkata sambil menyentuh bahu Max yang sudah akan limbung, "Kamu sudah sangat mabuk. Dalam hal apapun aku lebih unggul darimu." Jacob memandang ke arah ku dan juga Sian. "Sayangnya Linda selamanya hanya akan menjadi milikku."
Aku menghampiri Max lalu mengambil gelas yang berisi alkohol yang akan dia minum lagi. "Max kamu sudah sangat mabuk, sudah jangan minum lagi."
"Hentikan itu bodoh!" Saat bibir Max sudah akan menyentuh bibirku, tangan Jacob menghalanginya. Jacob menarikku kedalam pelukannya. Jacob terlihat masih sadar, tidak sepenuhnya mabuk seperti Max.
"Sian cepat urus dia," perintah Jacob. Awalnya Sian terlihat ragu, tapi Jacob memelototinya. Pada akhirnya Sian beringsut memapah Max yang masih meracau tidak jelas.
Aku ikut membantu Sian yang terlihat kesusahan saat memapah Max. Tapi Jacob mencegahku, dia memeluk tanganku erat sekali. "Aku juga butuh bantuanmu, aku juga mabuk, kepalaku pusing," Jacob menyandarkan kepalanya di bahuku dengan manja. "Ayo kita kembali kekamar, kepalaku pusing." Jacob memijat keningnya, seolah dia benar-benar pusing. Aku tau dia pura-pura. Aku sangat tahu toleransinya terhadap alkohol sangat tinggi, tidak mungkin di mabuk dengan mudah.
__ADS_1
"Peter, tolong bantu aku bawa Jacob kekamarnya"
Saat Peter menyentuh bahu Jacob, Jacob buru-buru menepis tangan Peter lalu berdiri dengan tegak.
"Aku masih bisa berjalan sendiri! Linda ayo!" Jacob buru-buru menarik tanganku untuk mengikutinya.
Kami berjalan dengan Jacob yang merangkulkan tangannya di pundakku.
"Jacob kamu itu berat sekali tahu! Berjalanlah dengan benar. Aku tau kamu belum benar-benar mabuk." Bayi besar ini benar-benar sangat merepotkan. Dia tetap berpura-pura mabuk dan tidak mau berjalan sendiri dengan normal. Saat sampai di kamar, aku langsung mendorongnya ke kasur.
"Och, kasar sekali ... ," bayi besar itu merajuk sambil pura-pura kesakitan. Aku membiarkan dan tidak menanggapinya. Yang ada di pikiranku dari tadi itu adalah Max, apa dia baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanya sekarang. Sepertinya dia sudah mengetahui tentang hubunganku dengan Jacob.
Aku membuka kulkas kecil yang ada di kamar ini, setelah memapah Jacob yang beratnya keterlaluan itu membuat aku lelah dan sangat haus.
"Thanks God!" gumam ku saat menemukan air mineral di dalamnya. Aku segera menenggaknya sampai habis.
__ADS_1
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!