
"Terserah kamu sajalah," kataku sambil melengos pergi mengambil handuk dan baju ganti. Lebih baik aku mandi dulu untuk merilekskan tubuhku yang sudah lelah seharian ini.
Setelah selesai mandi aku membuka handle pintu sepelan mungkin. Sebenarnya aku sedikit penasaran. Akh tidak, aku sangat penasaran. Ada urusan apa antara Jacob dengan Sian.
Aku melihat mereka sedang mengobrol dengan serius. Sian terlihat sedikit protes, lalu kemudian mereka berjabat tangan. Mereka sedang melakukan kesepakatan tentang sesuatu sepertinya. Sayangnya aku tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka sedang bicarakan. Lelah mengintip, akhirnya aku keluar juga.
Mereka memandang ke arahku secara berbarengan. "Ada apa?" tanyaku sambil mencoba memastikan penampilanku takut ada yang aneh, rasanya tidak ada yang aneh deh. Aku memakai baju dengan benar.
"Tidak-tidak," jawab Sian sedikit gugup sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku pulang. Urusanku disini sudah selesai," kata Jacob sambil bangkit berdiri.
Aku mengantarnya hanya sampai depan pintu. Sebelum pergi dia memelukku terlebih dulu. "Sampai jumpa besok, honey. Aku akan pastikan, secepatnya kamu akan segera menjadi milikku lagi seutuhnya." Jacob berbisik di telingaku lalu meniupnya pelan. Membuat seluruh bulu di tubuhku berdiri meremang. Aku terkesiap, takut ada orang yang melihat.
__ADS_1
Setelah Jacob pergi aku segera menutup pintu lalu menghampiri Sian yang sedikit melamun. Aneh sekali dia, tidak biasanya Sian sedikit diam begini.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanyaku penasaran pada Sian.
Sian tersenyum hambar, terlihat jelas sekali dia gugup. "Bukan hal penting ... tidak usah di pikirkan," jawabnya dengan sedikit gelagapan. Aku malah semakin curiga melihat gelagatnya yang seperti itu.
***
"Jadi hari ini kita akan menghadiri pesta Bachelor dan Bachelorette party yang di adakan secara bersamaan? Unik sekali," kata Max sambil tertawa. Memang sangat aneh, seharusnya mereka mengadakan party yang berbeda kan.
Kami sekerang berada di pesawat dengan penerbangan yang bertujuan Denpasar Bali.
Max menguap lebar. "Sayang aku tidur ya, nanti bangunkan aku kalau sudah sampai." Aku mengangguk, dan membiarkan dia memejamkan mata.
__ADS_1
Kasian sekali Max, semalam dia pulang larut sekali karen lembur dan pagi ini sudah harus berangkat lagi dengan kami. Aku ikut memejamkan mata juga, menyusul Max ke alam mimpi.
Setelah perjalanan panjang yang kami habiskan dengan tidur di dalam pesawat, akhirnya sekarang kami sudah mendarat dengan selamat di bandara I Gusti Ngurahray Bali.
"Hooaaam--" Aku berjalan dengan mulut yang masih menguap lebar karena nyawaku belum terkumpul semua sehabis tidur tadi.
Acara menguap ku terjeda karena Sian membekap mulutku dengan keras. Aku kesal dan meronta meminta Sian melepaskan tangannya.
"Memalukan! Jaga image sedikit dong," rutuk Sian.
Max hanya tertawa melihat kelakuan kami berdua.
Di luar bandara kami sudah di jemput oleh mobil Alphard berwarna hitam yang akan membawa kami ke lokasi pesta yang katanya berada di Cangu.
__ADS_1
Setelah menempuh waktu perjalanan kurang lebih 40 menit akhirnya kami sampai di sebuah bangunan villa mewah super besar. Mungkin untuk pajak bangunannya saja bisa untuk menghidupi satu jakarta. Aku ragu kalo ini Hanya villa pribadi, bukan resort yang di sewakan. Hanya orang yang keterlaluan kaya yang sanggup memiliki bangunan seperti ini. Akh benar juga, kelurga mereka kan memang salah satu crazy rich Eropa. Tentu saja hal seperti ini hanya salah satu bagian kecil dari kekayaan mereka kan.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!