Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Shadow


__ADS_3

Back at this time.


Aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal dan berkeringat. Apa ini, kenapa tubuhku tidak bisa di gerakan. Apa aku masih bermimpi.


Eh, ko benar-benar tidak bisa bergerak.


Aku mengerang, berusaha melepaskan diri. Tapi aku merasa ada sesuatu yang menahan perutku.


"Nghhhh... "


Astaga!


Max memeluk dari belakang. Tangannya sangat erat di perutku. Mengunci tanganku jadi satu di pelukannya. Dia bergerak sedikit, nafasnya terasa di tengkukku. Terasa hangat. Lalu hidungnya menyentuh belakang telingaku.


"Max," desisku kesal. "Lepaskan, aku bukan guling." Ku tarik satu tanganku dari pelukannya. "Lepaskan, aku mau ambil minum."


Berani sekali dia tidur disini, eh kenapa dia bisa tidur disini?


"Rambutmu harum Linda," katanya di sela tidurnya sambil mengendus rambutku.


Ku raba rambutnya. "Max, lepaskan!" dia tidak bergeming. Karena dia tidak mau melepaskan ku juga, akhirnya ku jambak saja rambutnya sekeras mungkin. Dia mengerang.


Aku melepaskan diri lalu berjalan untuk mengambil air minum di kulkas mini yang ada di dalam kamar kos ku ini.


"Kamu jahat banget," keluh Max sambil mengusap rambutnya.


"Kamu kenapa ada di kamarku? Di grebek pak RT tahu rasa loh nanti." kataku sambil menenggak segelas air dingin yang sudah ada di tanganku.

__ADS_1


"Pas aku pulang tadi pintu kamarmu tidak di kunci jadi aku masuk, dari pada maling yang masuk kan." Max menguap sambil mengucek matanya. Imutnya.


Akh benar juga, rutukku dalam hati. Aku benar-benar lupa mengunci pintu. Aku pulang di antar oleh Sinta. Begitu masuk aku langsung ke kamar mandi, ganti baju dan langsung tertidur.


"Tapi ga tidur di kasurku juga kali."


"Masa iya aku tidur di lantai, ada tempat yang lebih hangat kenapa aku harus pilih kedinginan di bawah," katanya sambil nyengir.


Masalahnya dia itu cuman tidur pakai celana kolor doank, dengar, kolor doank. Aku kan tidak siap kalau sampai ada adegan yang iya-iya di antara kami.


Semua ini jadi mengingatkan aku tentang dia. Kami pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku jadi merasa bersalah pada Max. Di saat aku sudah bersama dengan Max tapi kenangan tentangnya masih tetap menghantuiku.


"Kamu ngigau pas aku masuk, jadi aku peluk deh." Dia menguap lagi.


Astaga, jangan-jangan aku ngigau terus nyebut nama Jacob. Semoga tidak ya.


Dia berjalan ke arahku, lalu mengambil gelas kosong yang masih aku pegang. Dia mengisinya lalu di minum dengan tiga kali tenggakan.


Dia memelukku, "capek banget," ucapnya sambil menyenderkan kepalanya di pundakku.


Aku melepaskan diri, lalu ku punguti celana dan kemejanya yang berserakan di lantai.


"Tapi tidak harus tidur telanjang di kasurku yang sempit juga kali!" Aku menyodorkan pakaiannya lalu mendudukkan bokongku di kasur. ini hanya kasur single, jelas sempit kalau di pakai untuk tidur dua orang.


Max mengikuti ku, "Jangan galak-galak," katanya sambil berbaring lagi di sebelahku.


"Kamu kurang piknik Linda," katanya sambil mengusap tanganku.

__ADS_1


Aku tergelak mendengar celetukannya itu. Lalu ku pukul wajahnya dengan bantal.


"Serius, hidupmu hanya seputar kamar kos dan kantor saja. Selama tiga tahun mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu pergi nongkrong ataupun liburan."


"Aku pergi pulang menjenguk orang tuaku tiap bulan," kataku mengelak.


"Itu beda lagi, maksudku bergaul Linda. Bersenang-senang, semacam itulah," katanya frustasi.


Semenjak pulang, aku memang menjadi pribadi yang berbeda. Aku jadi lebih menutup diri, benar kata Max hidupku hanya seputar pekerjaan dan juga kamar kos ini. Rasanya begini lebih baik. Aku malas kalau harus menghadapi drama kehidupan lagi. Semakin sedikit berinteraksi dengan orang lain, semakin sedikit juga konflik yang di hadapi. Max tidak tahu, aku sudah pernah merasakan hidup yang seperti itu. Anganku melayang pada masa-masa saat aku masih kuliah dulu. Itu semua sudah cukup untukku. Sekarang aku memilih kehidupan yang seperti ini.


"Terus aku harus kemana? Kamu mau ajak aku jalan-jalan ?"


Max menghela nafas, "maafkan aku Linda, sebenarnya aku sangat ingin. Tapi minggu-minggu ini aku sedang sibuk, pekerjaanku sedang banyak-banyaknya. Aku sedang memperbaiki sistem baru."


Benar juga, bos besar akan datang. Divisi keuangan juga sedang sibuk mengumpulkan semua data dan lainnya. Karena bos besar itu nanti pasti akan memeriksanya.


"Oh iya saat pesta penyambutan nanti kamu datang ya, aku mau kenalin kamu sama semua orang. Aku mau tunjukin kalau sekarang aku sudah berhasil milikin kamu." Max berkata dengan semangat.


"Tidak Max, tiap divisi hanya mengirim dua orang perwakilan saja. Dan aku tidak termasuk." Lagi pula, meski dapat kesempatanpun aku tidak akan mau datang. Aku takut. Aku tidak berani kalau harus berhadapan dengannya lagi.


"Tidak apa, kamu akan ikut sebagai pasanganku. Oh iya, aku kan sekarang menjadi acting manager, jadi pergaulanku sekarang sama eksekutif circle. Aku mau kenalin kamu kesemua orang," Max berbicara dengan bangga.


"Whoa selamat kalau begitu," kataku sambil bertepuk tangan. "Tapi aku tidak mau ikut," lanjutku lagi sambil tersenyum.



__ADS_1


Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!


Oh iya jangan lupa share cerita ini di media sosial kalian dan bersabar ya menunggu part selanjutnya. (๑˃̵ ᴗ ˂̵)و


__ADS_2