Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Not Happy Ending


__ADS_3

Sian bilang Max sama terpuruknya dengan dirinya, saat bangun tadi Max sudah memohon ampun pada Sian meskipun saat itu Sian tidak menanggapinya dan langsung berlari kesini. Katanya Max sudah mengetahui hubunganku dengan Jacob, dari racauannya yang Sian dengar semalam rupanya Peter yang telah memberitahunya. Pantas saja kemarin malam sikapnya agak berbeda padaku.


Perasaanku semakin tidak enak, aku berusaha mempercepat langkahku. Saat ini aku sedang menuju pantai, tempat dimana Max berada. Aku sudah menghubunginya tadi, aku rasa kami benar-benar harus bicara. Saat di telpon tadi suaranya terdengar sangat parau. Aku sudah mematahkan hatinya, laki-laki baik yang selama ini selalu memelukku dan menenangkan gundahku.


Dari kejauhan aku melihat dua orang pria yang sedang beradu tinju di tepi pantai. Aku semakin mempercepat langkahku, dengan hati yang ikut berdebar cepat juga karena takut sesuatu yang buruk sedang terjadi.


Saat sudah sampai di hadapan mereka, aku memandang kedua pria itu dengan tatapan bodoh. Aku melongo melihat Max yang saat ini sedang beradu tinju dengan Peter. Mereka saling memukul bergantian sambil saling melemparkan lelucon satu sama lain, sesekali kata-kata makian juga keluar dari mulut mereka saat terkena serangan lawan.


Max dan Peter sedang melakukan olah raga Muay Thai bersama.


"Oh ... hai Linda ... sapa Peter dengan nafas yang masih terengah-engah." Max dan Peter langsung berhenti dari kegiatan mereka begitu menyadari kehadiranku. Aku tidak menjawab sapaan Peter.


Max melihat kearahku, dia melihatku sambil tersenyum manis sampai matanya yang kecil itu hampir tidak terlihat. Aku menggelengkan kepala. Tidak Max, kamu harusnya marah dan memakiku. Senyuman manis itu tidak pantas aku dapatkan darimu.


"Max, Linda. Aku pergi duluan...," pamit Peter. Peter berhenti sejenak untuk menepuk bahuku sebelum benar-benar pergi berlalu meninggalkan kami berdua.


"Max--," aku tercekat, semua kata-kata yang sudah aku susun sejak tadi hilang sudah. Aku tidak sanggup bicara. Aku tidak kuasa menahan tangis. Air mata ini keluar dengan sendirinya tanpa bisa ku tahan.


Max mendekat, lalu kedua tangannya memegang kedua pipiku, menghapus air mata yang meleleh disana. Aku mendongak, tatapan wajahnya kini berubah sendu. Max membawaku kedalam dekapannya. Max memelukku dengan erat sekali.


"Max, maaf...," Tangisanku kembali pecah.

__ADS_1


"Ssssst ... udahan yu nangisnya. Aku ga mau kamu sedih. Kalau kamu nangis terus gini aku jadi makin sulit lepasin kamu," katanya sambil mengusap air mataku lalu mengecup keningku, mencoba membuat aku lebih tenang.


"Kenapa ... kamu ga marah ... atau maki aku aja sih , Max?" tanyaku dengan tersedu.


Max menggelengkan kepalanya lalu menatap mataku dengan dalam. "Aku mau menikmati detik demi detik sisa waktu yang mungkin ngga bisa kita rasakan lagi, aku mau liat senyum kamu," katanya sambil membelai wajahku.


Aku kembali berhambur ke pelukannya. Menghirup aroma tubuh pria yang selama ini selalu menenangkan gundahku yang mungkin sebentar lagi sudah tidak akan bisa aku rasakan lagi.


Suara deburan ombak seolah menjadi nyanyian indah yang menjadi backsound suasana hati kami saat ini.


"Aku ingin marah, sangat ingin marah bahkan. Namun rasa cinta ini teramat besar. Aku ga bisa marah sama kamu. Aku cuma bisa marah sama keadaan. Aku udah denger semuanya tentang kisah kalian dulu. Sekarang aku baru tau, semua penyebab kemurungan kamu selama ini. Sekarang dia udah kembali, aku mau kamu bahagia."


Max tersenyum hambar. Pandangannya terlihat jauh ke depan, menatap lautan luas yang ada di depan sana. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


Aku menatapnya dengan pandangan yang berkaca-kaca. Mungkin jika aku bertemu Max lebih dulu, aku pasti akan bersamanya.


***


"Max, aku ga tau kalau dia bakalan datang lagi di hidup aku kaya gini. Aku udah benar-benar berusaha lupain dia, aku--" Max menaruh jari telunjuknya di bibirku, membuat aku berhenti bicara.


"Aku udah pernah bilang sebelumnya sama kamu kan, kalau aku ga akan mungkin bisa saingan sama dia." Max menggeleng sambil tersenyum yang aku sangat tau kalau itu sangat palsu.

__ADS_1


"Kamu ga usah mencari alasan, aku udah tau semuanya. Karena aku yakin semua itu bisa bikin kamu lebih bahagia dan sepenuhnya aku sadar kalau cinta ga mesti harus memiliki. Tapi aku akan terus selalu sayangin kamu setulus hati." Air mata menetes di pipinya, tapi Max buru-buru mengusap itu. Sepertinya dia tidak ingin aku menunjukan kesedihannya padaku.


"Jujur aku ga pernah menginginkan perpisahan ini terjadi, tapi aku bisa apa? Aku cuma bisa mencoba merelakan. Mungkin ini memang pilihan yang terbaik buat kita, aku ga mau egois buat nahan kamu tetep di sisi aku." Air mataku menetes kembali, beruntungnya aku bertemu pria sepertinya.


"Kalo dia bikin masalah ataupun nyakitin kamu, kamu bisa lari padaku kapan aja. Aku akan selalu ada buat kamu!"


Max menyatukan kening kami. "Terlalu singkat aku merasakan kebahagiaan ini," lirihnya.


Max mendekatkan bibirnya sambil berbisik, "Izinin aku buat cium kamu untuk yang terakhir kalinya." Aku mengangguk, menyanggupi keinginannya itu.


Max memagut bibirku dengan lembut dan penuh cinta. Tidak ada hawa nafsu, hanya ciuman yang penuh dengan emosi dan kesedihan mendalam.


"Terimakasih," katanya setelah melepaskan pagutan bibir kami dengan berat.


Aku sangat berharap semoga Tuhan bisa secepatnya pertemukan dia dengan wanita yang benar-benar bisa cinta dan sayang sama dia sampai akhir.




Di dunia nyata ada ga yah cowok kaya Max gini? hebat banget loh dia bisa legowo begitu ceweknya di embat sama sang mantan. Tapi kalau dia ga bisa legowo, serem juga sih. Jacob ini kan udah obsesi banget sama Linda, ngeri juga kalau nanti Max di apa-apain ama jacob. othor ga mau ada pertumpahan darah disini. Ngeri akh.... hahaha kita bikin cerita yang santai-santai aja ya.

__ADS_1


Silent Reader muncul dong, sesekali komen lah.... hahaha


__ADS_2