
Di lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya aku merasa sedikit bersalah pada Max, karena sampai saat ini aku masih belum bisa menghapus sepenuhnya ingatanku tentang laki-laki itu. Mungkin ini jalanku satu-satunya agar bisa melupakan dia, aku harus mencoba membuka hati lagi agar hatiku bisa dipenuhi oleh kenangan-kenangan yang baru. Max dengan segala keceriaannya sudah membuat hari-hari ku lebih berwarna.
Seperti kata Sian, obat patah hati itu adalah hati yang baru. Alias move on, punya pacar baru. Begitu katanya.
Ngomong-ngomong soal Sian, aku jadi merindukan sahabat baikku itu. Setiap akhir tahun dia akan datang untuk liburan kesini.
Iya memang benar, setelah lulus kuliah tiga tahun yang lalu, aku putuskan untuk segera kembali ke tanah airku. Sebenarnya aku sempat tergiur untuk mencari pekerjaan dan meneruskan hidupku disana, tapi aku urungkan. Semakin lama aku berada disana semakin sulit aku melupakannya, karena ada saja berita selentingan tentangnya yang ku dengar. Terakhir aku mendengar kabar kalau ayahnya meninggal dunia. Setelahnya dia resmi menjadi penerus kerajaan bisnis dan menjadi kepala keluarga menggantikan ayahnya. Menjadi Jacob Lautner, Marques of Kent. Hanya itu kabar terakhir yang aku dengar tentangnya. Kalau aku tetap disana sulit bagiku untuk move on.
Sumpah, aku sama sekali tidak ingin memikirkannya lagi. Selain tidak adil untuk Max, rasanya tidak adil untuk diriku sendiri. Semua usaha kerasku untuk melupakannya dan berusaha untuk bahagia akan hancur seketika.
Sampai sekarang aku masih selalu bertanya-tanya, kenapa takdir mempermainkan ku. Kalau tidak ada kesempatan untuk bersatu, kenapa menyiksaku begini.
Saat ini aku sedang duduk di sebelah Max, kami sedang makan siang di kantin perusahaan. Dia makan bekal nasi merah dengan sayur dan salmon bakarnya. Max salah satu orang yang sangat menjaga asupan makanan ketubuhnya, katanya itu demi untuk menjaga otot di perutnya. Sedangkan aku pemuja nasi padang dengan kalori tingginya itu, yang sekarang sedang aku nikmati.
"Eh kalian udah dengar gosip terbaru tidak," kata Sinta sambil meletakan nampan yang berisi makanannya. Sinta merupakan salah satu teman dekatku di kantor ini,dia satu divisi denganku. Dia itu merupakan sumber segala informasi bagiku yang tidak memiliki banyak teman disini. Segala berita apapun tidak pernah dia lewatkan. Berbeda denganku yang sedikit menutup diri dan membatasi pergaulanku, dia ini sama seperti Max yang gampang akrab dengan siapa saja. Karenanya dia selalu mendapatkan info yang terdepan.
__ADS_1
"Gosip apa lagi kali ini?" kataku sambil terus mengunyah makanan di hadapanku.
"Bos besar akan datang, karena dia merupakan pemilik baru perusahaan ini jadi ingin berkunjung untuk perkenalan diri katanya." Sinta menceritakan itu dengan menggebu-gebu. "Katanya dia masih muda, umurnya masih di awal tiga puluhan. Tapi dia udah bisa membawa kesuksesan besar untuk perusahaannya, tapi sayang kabarnya juga dia udah mau married," katanya lesu.
"Memangnya kalau dia masih lajang, dia mau melirikmu apa? Hentikan mimpi konyolmu itu," kataku skeptis. Dulu sekali, aku pernah bermimpi seperti itu juga, dan berakhir menyedihkan. Lanjutku dalam hati.
"Akhirnya dia akan menikah juga ya," komentar Max. "Aku pikir dia akan tetap gila kerja dan tidak akan menikahi tunangannya itu." Aku dan Sinta melotot ke arahnya.
"Loe kenal sama dia?" kata Sinta antusias.
"Kalo mengenal secara langsung sih tidak, tapi aku mengikuti beritanya. Dia bolak-balik masuk berita dalam majalah bisnis."
"Dia sukses banget sama bisnisnya, sekarang kekuasaan konglomerasi Jardin Matheson Group ada di dia. Otaknya encer banget. Mungkin selama ini dia workaholic banget sampe lupa dengan tunangannya itu, sekarang dia sudah sukses dan menstabilkan kekuasaanya, mungkin baru kepikiran untuk menikah. Aku sangat mengaguminya, dia salah satu jungjunganku sebagai pria," Max berbicara dengan mata yang berbinar. "Tapi untungnya aku tidak gila kerja sepertinya. Kalau Linda sudah siap aku juga siap untuk menikahinya kapanpun dia mau," katanya sambil tertawa.
Aku mencubit perutnya yang penuh dengan otot itu, "Kita baru dua bulan berpacaran Max,"
__ADS_1
Dia mengaduh sambil tertawa, "Tidak baik pacaran lama-lama, lebih baik kita menikah cepat-cepat mumpung kamu sekarang mencintaiku," katanya sambil memegang kedua pipiku.
"Kalian, hentikan berlove dovenya, masih ada gue disini," protes Sinta.
...****************...
Oh iya, karena aku berkuliah ke keluar negeri melalui jalur beasiswa dari Jardin Matheson Group, setelah lulus dan kembali ke tanah air aku langsung di rekrut bekerja di salah satu anak perusahaan yang di naunginya disini. Iya sekarang aku menjadi salah satu staf di divisi keuangan PT Astra Internasional yang berkantor di Jakarta. Jardin Matheson group sendiri merupakan perusahan yang di bangun oleh seorang konglomerat multinasional yang berasal dari Britania Raya yang berkantor pusat di Hongkong. Mayoritas bisnis perusahaan ini berada di Asia, dengan anak perusahaan yang meliputi Jardin Pasific, Jardin Motors, Hongkong Land, Jardin Strategic Holding Holdings, Dairy Farm, Mandarin Oriental Hotel Group, Jardin Cycle & Carriage Dan Astra Internasional yang saat ini menjadi tempat aku bekerja. Perusaan ini membentuk berbagai kegiatan amal. Dan juga menyediakan beasiswa penuh untuk anak-anak yang berbakat yang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya.
Oh iya Max sendiri merupakan salah satu staff Engineering yang sangat di andalkan di perusahaan tempat aku bekerja.
*o**h iya, info mengenai Jardin Matheson Group itu memang fakta ya teman-teman. Bagi yang ingin dan tertarik meneruskan kuliah S1 atau S2 nya, bisa cari info di situs web nya. Mereka memberikan beasiswa penuh bagi kalian yang terpilih dan lulus seleksi*.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1
Oh iya jangan lupa share cerita ini di media sosial kalian dan bersabar ya menunggu part selanjutnya. (๑˃̵ ᴗ ˂̵)و