Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Be Mine Again!


__ADS_3

Sekarang kami dalam perjalanan pulang. Iya kami, aku dan juga Max. Hari ini kami pulang di jam yang normal, Max membawa pulang pekerjaannya yang belum selesai demi untuk bisa pulang bareng denganku. Katanya dia merasa sangat bersalah karena sudah beberapa hari ini sibuk sekali dan jarang menghabiskan waktu denganku. Tadi kami sempat mampir juga untuk makan.


Kami sudah sampai dan saat ini Max sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Kalau kamu mau ke kamar masuk aja ya, pintunya ga aku kunci. Jangan lupa bawakan hardisk mu, film yang kemarin disimpan di sana soalnya." Kami berjanji untuk nonton bareng di kamarku malam ini.


"Iya sayang," katanya sambil mencubit gemas kedua pipiku sambil tersenyum.


"Terus nanti jangan bikin aku kaget ya pas masuk," pesanku lagi. Soalnya Max suka nyelonong aja sih, dia kalo masuk tanpa bersuara. Aku sering terlonjak kaget karena dia suka muncul tiba-tiba.


"Aku masuk ya, mau selesain kerjaan dulu. Nanti aku naik kalo udah beres," ucap Max sambil mencium pipiku.


"Oke," jawabku singkat. Ku biarkan dia masuk duluan sebelum aku naik satu lantai lagi menuju kamarku.


Aku menjerit kaget begitu masuk ke kamar.


Kamarku penuh dengan kelopak bunga. Ada mawar merah dan mawar putih yang di sebar di seluruh lantai. Di atas kasurku ada sebuket besar lagi bunga mawar merah bersebelahan dengan kotak beludru berwarna hitam dengan kertas bertuliskan :


Be mine again! Malinda!

__ADS_1


Jacob, tidak bisakah kamu berhenti melakukan ini?


Tidak bisakah kamu menyerah dan menerima kenyataan kalau aku sekarang sudah bersama dengan orang lain.


Aku buru-buru membereskan ini semua, sebelum Max datang dan melihatnya.


Jacob punya berbagai cara untuk masuk ke tempat ini. Dia bisa melakukan apa saja. Dia terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya.


Setengah jam aku baru bisa membersihkan semua bunga mawar itu. Total semuanya ada dua kantong plastik sampah besar yang ku taruh di pojokan ruangan.


Ponselku berbunyi, tidak ada nama pemanggilnya, hanya angka yang berderet di layar.


Akhirnya aku paksakan untuk mengangkatnya, karena takut ada sesuatu yang penting.


''Hallo, siapa ini?" Aku tidak suka berbasa basi.


"Apa kamu suka?'' aku kenal dengan suara ini, sangat mengenalnya sekali.


''Jacob! Tolong hentikan ini. Jangan kirimkan bunga-bunga ini lagi, aku tidak suka dan jangan kirim orang untuk masuk ke kamarku sembarangan begitu!" Aku kesal dengan tindakan nya ini. Aku lebih suka bunga bank di bandingkan dengan bunga-bunga yang akan layu dalam beberapa hari ini.

__ADS_1


"Apa kamu suka cincinnya?"


Cincin? Aku lupa belum membuka kotak beludru hitam tadi. Aku terlalu sibuk membersihkan bunga-bunga itu.


Aku membuka kotak itu lalu melihat isinya. Cincin dengan bagian atas berbentuk oval yang berisi taburan berlian di atasnya.


"Jacob! Tolong berhenti melakukan ini. Besok aku akan kembalikan cincin itu."


"Tidak usah di kembalikan, kamu bisa membuangnya kalo tidak menyukainya. Bukankah kamu sudah terbiasa membuang sesuatu dengan mudah. Seperti dulu kamu membuangku begitu saja." Kata-katanya menohok hatiku. Setiap kita berdebat dia selalu mengulangi kata-kata itu, seperti sengaja membuat rasa bersalahku semakin besar padanya.


Aku buru-buru mematikan telponnya. Aku tidak mau membahas itu lagi. Bukannya tadi pagi aku sudah jelaskan semuanya, tapi kenapa dia masih membahasnya lagi. Aku kesal jadinya.


Ku matikan ponselku, ku sambungkan pada kabel charger, lalu aku tinggalkan di kamar begitu saja.



Wahai para silent raiders tinggalkan lah jejak keberadaan kalian!!!


Semakin banyak komentar dan like dari kalian, semakin bikin othor semangat buat lanjutin ini cerita(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و

__ADS_1


Thanks, untuk kalian yang masih setia mengikuti cerita ini. Muach tebar lope lope.


__ADS_2