
"Wake up, honey." Suara bisikan lembut orang yang sangat aku cintai terdengar merdu di telingaku, membuat aku semakin merapatkan selimut, enggan untuk membuka mata. Aku takut ini hanya halusinasi saja.
"Hey ... bangun Putri Tidur. Kita harus makan malam." Ciuman lembut menghujani wajahku terus menerus. "Aku tidak akan berhenti menciumi wajahmu sampai kamu benar-benar membuka mata."
Aku tersenyum dengan mata yang masih terpejam. "Aku bangun, aku bangun ...," gumamku sambil menghindari ciuman Jacob yang bertubi-tubi.
Karena lelah menangis aku sampai ketiduran. Aku tertidur di dalam pelukan Jacob dengan lengannya sebagai bantalan.
Jacob membelai pipiku, menyibak anak rambut yang menutupi keningku kebelakang.
Aku menggapai wajahnya, lalu menyentuh pipinya dan mengusapnya pelan. "Apa ini sungguh nyata? ... aku takut ini hanya mimpi."
Aku takut seperti sebelum-sebelumnya yang ternyata hanya mimpi, saat menyentuh wajahnya dia akan menghilang jadi asap atau saat aku berhasil menyentuhnya pijakan kakiku akan runtuh dan aku terjatuh kedalam lubang gelap yang sangat dalam.
__ADS_1
Jacob tersenyum lalu menyambar bibirku. "Terasa nyata tidak?" katanya setelah puas ******* bibirku. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Aku senang karena Jacob yang berbaring di sebelahku sekarang adalah nyata. Dia tidak menghilang dan berubah jadi asap saat berhasil aku sentuh.
"Sepertinya kamu masih menganggap ini hanya mimpi, aku akan membuat kamu benar-benar sadar kalau aku yang ada di depanmu ini nyata." Jacob bangkit bersiap akan membuka ikat pinggangnya.
"Aku sudah benar-benar bangun! Aku sadar kamu nyata. Hentikan itu Jacob!" Aku memegang lengannya dan Jacob menghentikan gerakannya yang akan membuka celananya itu.
Wajah Jacob berubah kecut. Dia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur lalu memunggungi ku. Dia marah. Jacob, bayi besarku sudah kembali. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya merajuk dan bersikap menggemaskan seperti ini.
Aku menarik bahunya, mencoba membuatnya berbalik untuk menatapku lagi. "Jacob ... bagaimanapun juga statusku sekarang masih menjadi kekasihnya. Aku belum menemukan momen dan alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan dengan Max."
"Akh... kamu benar. Aku lupa kalau sekarang statusku hanya sebagai kekasih gelapmu saja. Cepat putuskan dia kalau begitu, aku ingin secepatnya meresmikan hubungan kita," keluh Jacob.
__ADS_1
"Ayo kita kembali," jawabku lalu mengecup bibirnya. Gampang sekali dia mengatakan itu, tidak tahu saja sekarang aku sedang bingung harus berbuat apa saat bertemu dengan Max nanti. Aku sungguh sangat merasa bersalah pada Max.
Matahari baru saja terbenam ternyata, sayang sekali aku tidak bisa menikmati momen indah itu. Aku baru selesai mandi, menyegarkan diri supaya wajah sembabku sedikit berkurang juga.
Saat aku kembali dari kamar mandi, aku melihat Jacob berada di balkon. Di sana dia sedang merokok sambil memandang iPad-nya. Sepertinya dia sedang menguris pekerjaannya. Sedang liburan gini masih saja bekerja.
Aku memandang diriku di cermin, baru saja aku selesai menyamarkan wajah dan mata sembab ku dengan makeup. Lalu aku memanggil Jacob untuk mengajaknya kembali bergabung dengan teman-teman ku yang lain.
"Jacob kita sudah akan sampai, lepaskan tanganmu kita harus menjaga jarak." Sepanjang jalan tadi Jacob terus merapatkan tubuhnya denganku, membuat aku risih karena setiap bertemu dengan orang pasti mereka melirik dan memandang aneh pada kami yang berjalan berdempetan.
"Tidak mau, biarkan saja kekasihmu itu melihat kita!" Jawabannya itu membuat aku sedikit naik pitam.
Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!
__ADS_1