Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Back To You


__ADS_3

Aku ingin mendekap mu, di saat tak seharusnya aku lakukan itu.


Saat kini, sudah ada orang lain yang berada sisiku.


Kau tak mau pergi dari benakku dan aku tidak bisa mengusir mu.


Andai bisa ku ulang semuanya.


Aku tahu, aku akan kembali padamu.


Dan apa gunanya bersembunyi?


Di saat semua orang tahu kita masih punya urusan yang belum terselesaikan.


Aku menyesalinya!


Jika dulu aku mengatakannya, takan begini jadinya.

__ADS_1


"Hentikan Sian! Suara nyanyian mu membuat telingaku sakit."


Kami sedang dalam perjalanan pulang setelah acara makan malam tak terduga yang Sian sebabkan itu.


Max sengaja menghidupkan radio mobil dan kebetulan lagu Selena Gomez dengan judul Back To You sedang di putar. Lirik lagu ini sangat mewakili isi hatiku, dan Sian mengetahui itu, makanya sejak tadi dia ikut bernyanyi sambil terus menggodaku.


Aku sudah menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mendengar ku sama sekali. Dia malah sengaja bernyanyi makin keras sambil melakukan gerakan-gerakan tubuh yang membuat aku makin kesal.


Max hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat kami begini. Max. Senyuman itu, apakah masih akan tetap merekah di bibirmu saat tahu kebenaran yang sedang kami debatkan ini? Pikirku sambil melirik nanar padanya yang sedang fokus menyetir.


****


Salahkan Sian yang terus-terusan mengajakku mengobrol sepanjang malam. Padahal kami semalam pulang sangat larut, setelah sampai rumah bukannya tidur, kami malah lanjut mengobrol lagi. Aku segera berangkat, meninggalkan Sian yang masih bobo cantik di kasurku. Masalah sarapan atau yang lainnya, biarkan saja dia mencari sendiri. Manusia memiliki insting bertahan hidup, jadi aku biarkan Sian melatih instingnya itu. Kalau dia lapar, biarkan dia berusaha mendapatkan makanannya sendiri.


Jadilah sekarang aku sedang berlari dengan cepat di loby kantor, berusaha mencapai lift yang sudah akan tertutup itu. Suasana di loby sudah sangat sepi, hanya ada Resepsionis yang sudah duduk manis di mejanya dan beberapa Scurity yang berjaga di pintu masuk. Mungkin hampir semua orang sudah memulai pekerjaan mereka, karena jam masuk kantor sudah berjalan sejak 20 menit yang lalu. Aku bersumpah, ini keterlambatan ku yang pertama selama beberapa tahun bekerja di perusahaan ini. Aku tuh selalu jadi karyawan teladan yang selalu datang lebih awal biasanya.


"Tunggu ... tolong tahan! Jangan tutup dulu!" Aku berteriak sambil tetap berlari. Suara dari hak sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema kencang, untungnya aku tidak terjatuh karena nekat berlari saat menggunakan alas kaki ber-hak lumayan tinggi ini.

__ADS_1


Akh, untungnya orang yang ada di dalam sana berbaik hati mau menungguku. Pikirku lega.


Aku segera masuk, dan pintu lift pun tertutup.


"Terimakasih," kataku masih dengan nafas yang hampir putus-putus pada orang yang ada di pojok ruangan berbentuk kotak tertutup ini. Buliran keringat menetes dari keningku. Sekarang aku sedang berusaha keras menormalkan kembali nafasku yang masih memburu.


Seseorang mengelap keringat di keningku dengan sapu tangan, aku mendongak melihat orang yang dengan beraninya menyentuhku itu. Jacob! Tadi aku tidak begitu memperhatikan karena masih sibuk dengan diriku sendiri yang kelelahan karena habis lari maraton pagi.


Jacob melihat jam di pergelangan tangannya. "Terlambat eoh. Habis bercinta sampai pagi dengan kekasihmu?!" tuduh Jacob.


Aku memijit keningku, "Jangan asal menuduh, aku kesiangan karena semalam ada yang membuatkan pulang larut malam hanya untuk makan malam yang seharusnya tidak memakan banyak waktu itu." Ku tatap wajahnya yang memasang ekspresi sok tidak bersalah.


Jacob pasti berpikir gaya pacaranku dengan Max, sama dengan saat aku menjadi kekasihnya dulu.


"Oh ya," jawabnya masih dengan ekspresi wajah menyebalkan.


"Sian bilang saat dia tiba kemarin kamu sedang berada di kamar laki-laki itu?"

__ADS_1


"Jadi kamu sengaja mendatangkan Sian kesini agar bisa memata-matai aku?" sindirku.


"Tidak juga, aku bisa menyelidiki semuanya meski tanpa Sian." Jacob tersenyum seperti meledek. "Sian memiliki tugas yang lebih penting di bandingkan hanya jadi mata-mata." Jacob mendekat lalu membelai pipiku. Aku segera mundur demi menghindari tindakan Jacob selanjutnya.


__ADS_2