Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Truth or Dare?


__ADS_3

"Membosankan sekali malam ini, bagai mana kalo kita bermain permainan yang biasa kita mainkan. Mumpung ada pendatang baru," kata Genevievi memulai.


"Gen jangan aneh-aneh," itu suara Neal yang menginterupsi.


"Kamu benar, ayo kita bermain," itu suara Sian. Aku sangat tau dia, sepertinya Sian juga muak pada gadis itu dan merasa tertantang olehnya.


"Permainan apa?" Kataku yang juga mulai penasaran.


"Truth or Dare," katanya sambil menyeringai. Sepertinya menarik pikirku.


"Tentu dengan cara kami," lanjut Genevievi lagi.


"Baiklah, ayo mulai!" kata Sian lagi.


"Di mulai dariku ya, aku ingin bertanya pada Linda. Jujur atau tantangan?" Akal liciknya terlihat sekali di wajahnya. Aku harus bersiap.


"Tantangan," kataku.


"Cium Stevan!" katanya sambil tertawa.


"Kamu gila, aku tidak mau!" Gen benar-benar licik. Masa iya aku harus mencium kekasih sahabatku sendiri di hadapannya.


"Hey, tidak usah marah, ini hanya permainan" katanya sedikit meledek.


"Aku pilih jujur saja kalo begitu," kataku mantap.


"Apa kau masih virgin?" Katanya sambil tertawa lagi. Aku tau dia ingin mengolok-olok ku. Mungkin dia pikir aku gadis asia rumahan kutu buku yang tidak pernah bergaul.


Aku masih terdiam tidak langsung menjawab pertanyaannya.


"Cepat jawab, ini pertanyaan mudah bukan?" katanya sambil tertawa.

__ADS_1


"No!" Kataku sambil tersenyum elegan.


"Aku tidak percaya, mana mungkin gadis sepertimu...." Dia tidak melanjutkan perkataannya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku menanggapinya. Sepertinya dia kesal karena dugaannya salah dan rencananya untuk mengolok ku tidak bisa terjadi. Aku melihat ke arah Neal, wajahnya terlihat sedikit kecewa. Apa mungkin dia berharap aku masih perawan begitu. Haha, yang benar saja.


"Sekarang giliran ku!" Kata Sian bersemangat. Aku curiga padanya, pasti dia akan melakukan sesuatu. Aku sangat mengenal Sian.


"Truth or dare?"


"Truth!" Genevievi berbicara dengan percaya diri.


"Genevievi! Apa kamu seorang j*l*ng?" kata Sian sambil menyeringai. Dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku senang dan aku tau Sian sedang mencoba membalas Gen untukku.


"No! Kau berani sekali bertanya begitu!" kata Genevievi marah.


"Benarkah? Tapi kamu terlihat seperti itu," kata Sian lagi sambil tertawa meledek. Sian, aku padamu. Kataku senang dalam hati karena memiliki teman yang badas begitu.


"Brengsek, berani sekali kamu!" teriak Genevievi murka.


"J*l*ng!" kata Sian lagi sambil mengacungkan jari tengah.


Kalo saja tidak ada yang menengahi dan memegangi mereka berdua, keributan dan baku hantam antar wanita pasti sudah terjadi. Steven memeluk Sian dan menenangkannya sedangkan gadis ungu itu sudah di bawa pergi entah kemana oleh Stevi, dan aku tidak peduli.


"Sejak awal aku sudah tidak menyukai gadis itu," gerutu Sian. Sambil menenggak minumannya.


"Sttt... tenang baby," Steven mencoba menenangkan Sian.


"Kamu tidak apa-apa?" suara Neal yang sejak tadi diam akhirnya terdengar juga.


"Ya, aku baik-baik saja. Bukan aku yang bertengkar disini," kataku sedikit tertawa sambil menunjuk Sian yang masih misuh-misuh.


"Ya benar, tapi Gen tadi mencoba menyerang mu. Tapi temanmu keren," katanya lagi yang ku balas dengan anggukan kepala tanda setuju dengannya.

__ADS_1


"Maafkan aku atas ketidak nyamanan ini,"


"Tidak papa, bukan kamu yang memancing keributan, " kataku mengingatkan.


"Ya aku tau, tapi Gen melakukan itu mungkin karena melihatku sedikit memperhatikanmu. Dia melihatku yang tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu," katanya gugup sambil menggaruk kepalanya.


"Dia kekasihmu?" kataku cepat karena penasaran.


"Tidak, tidak. Kami hanya berteman. Dia mengejar ku sejak kami junior high school," katanya menjelaskan.


"Wow, kau hebat juga. Bisa membuat gen tergila-gila padamu," kataku berkomentar.


"Tidak seperti itu--" Katanya lagi tidak melanjutkan perkataanya karena terpotong oleh suara ******* Sian yang saat ini sedang bercumbu di sebelah kami.


"Mau mencari udara segar?" katanya lagi.


"Ya," Kataku cepat karena tidak mau menjadi obat nyamuk di antara pasangan yang sedang kasmaran itu.


Niel membawaku ke balkon dan kami mengobrol panjang lebar di sana.


Dia orang yang menyenangkan, dan aku nyaman bicara dengannya.


Yang tidak ku sangka ternyata dia penyuka buku seperti ku, jadi nya kami semakin akrab.


Perlahan jarak kami semakin dekat, dia mulai merapatkan jarak dia antara kami.


Lama-lama aku gugup juga, benar kata Steven. Niel penakluk wanita. Buktinya aku saja tidak bisa berkutik berada di dekatnya begini.



__ADS_1


Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, dan vote nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil mengahalu author abal ini. Love you guys muach muach.!


__ADS_2